
"Aku kehujanan, dan kecelakaan." Jawab Deva dengan tatapan menghunus.
Deva tanpa sungkan sedikitpun melepas semua pakaian di depan Egi, hingga tanpa sehelai benangpun. Egi hanya bisa mengurut dahinya melihat pemandangan indah itu.
"Dasar pria mata keranjang. Kini aku tahu jenis pria seperti apa yang aku nikahi ini. Aku sungguh menyesal karena pernah jatuh cinta padanya," batin Deva.
Deva kemudian masuk kedalam kamar mandi dan berendam air hangat disana. Deva pikir Egi sudah pergi dari kamarnya, tapi ternyata pria itu masih menunggu di tepi tempat tidur. Wanita itu dengan santai berganti pakaian, dan setelah selesai dia menurunkan koper yang membuat Egi jadi panik.
Satu persatu pakaian sudah Deva masukkan kedalam koper. Karena ketakutan, Egi menahan tangan Deva dan membawa istri kecilnya itu kedalam pelukkanmya.
"Maafkan aku. Maafkan aku sayang, andai kamu tahu seberapa besar rasa cintaku padamu. Tapi aku benar-benar tidak berdaya. Hiks...."
Mendengar kata-kata cinta dari Egi yang tidak tepat waktu dan dianggap sudah terlambat, membuat Deva naik pitam. Sekuat tenaga dia mendorong pria itu dan....
Plakkkkkk
Deva menampar Egi dengan tangan bergetar dan nafas naik turun.
"Sudah cukup kamu mempermainkan aku selama ini. Kamu seolah memberikan aku harapan, tapi ternyata tujuanmu hanya ingin menyakiti," Air mata Deva merebak seketika.
"Kenapa? kenapa harus kakakku? bahkan tidak ada celah sedikitpun untuk kita bisa bersatu. Kenapa harus kakakku? rasanya sakit sekali. Hiks," tubuh Deva bergerar, tangisnyapun pecah.
Brukkkk
Egi berlutut didepan kaki Deva, dan memeluk kedua kaki istrinya itu sembari slterisak.
"Maaf. Aku benar-benar khilaf waktu itu. Aku sama sekali tidak mencintainya," ujar Egi.
__ADS_1
"Dasar bajingan kamu!" hardik Deva sembari mendorong keras Egi agar lepas dari kakimya
"Apa maksudmu tidak mencintainya, tapi kamu menghamilinya. Kamu bilang khilaf? apa kakakku hamil hanya dengan satu kali tidur dengannya? jangan bicara omong kosong," Deva benar-benar tidak terima. Egi seolah ingin melecehkan Leony tanpa ada niat bertanggung jawab.
"Aku bersumpah memang cuma satu kali melakukan. Aku tidak ingin menutupinya lagi darimu. Mungkin kamu pernah mendengar, kalau dimasa lalu kakakmu pernah mencampakkan seorang pria dan menikah dengan Ferdy. Akulah pria yang dia campakkan itu," ucap Egi sembari berdiri dari lantai.
"Aku pikir saat ketemu dengannya di pabrik, itu adalah sinyal yang diberikan Tuhan, agar aku kembali padanya terlebih statusnya sudah menjadi seorang janda. Tapi malam itu aku ingin memastikan semua perasaanku padanya, dan ternyata aku tidak memiliki perasaan lagi padanya,"
"Namun malam itu kami sama-sama saling terbakar Nafsu. Dan kami tidak perduli dengan perasaan kami yang sesungguhnya. Kami melakukan itu memang atas dasar suka sama suka, tapi bukan atas dasar cinta. Sayang, percayalah! aku hanya mencintaimu. Kejadian itu terjadi sebelum kita menikah. Apa kamu tahu? saat aku tahu wanita yang aku nikahi itu kamu, rasanya aku sangat bahagia sekali. Tapi salahku yang tidak pernah menunjukkan dan mengungkapkan rasa cintaku itu, karena aku terlalu egois. Aku....
"Tapi kata-kata cintamu itu sama sekali tidak berguna lagi untukku Om. Luka yang Om berikan padaku, bahkan jauh lebih menyakitkan ketimbang rasa sakit yang diberikan oleh Decky," Deva memotong ucapan Egi.
"Mungkin meski sedikit terlambat dan adil, aku juga harus mengungkapkan perasaanku sama Om. Aku juga mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu. Tapi sekarang rasa cinta itu sudah berubah jadi kebencian. Aku harap kamu bisa mencintai kak Leony sepenuhnya setelah kita bercerai nanti," sambung Deva.
"Apa maksudmu?" tanya Egi.
Deva kemudian meraih tasnya dan mengambil surat gugatan cerai untuk Egi.
"Segera Om tanda tangani surat cerai ini! lebih cepat lebih baik. Agar Om segera menikahi kak Leony," ujar Deva.
Egi terlihat memejamkan matanya, dengan tangan bergetar dia meraih surat cerai itu.
"Biar aku yang mengurus semuanya," ucap Egi yang kemudian melangkah kearah pintu keluar.
"Tunggu!" ucap Deva yang membuat Egi berbalik badan. Deva sangat terkejut, saat mendapati air mata Egi sudah membasahi wajah pria tampan itu.
"Besok pagi mungkin Om nggak akan melihatku lagi, karena aku akan segera pergi dari rumah ini. Bolehkah aku peluk Om untuk terakhir kalinya?" tanya Deva dengan air mata yang sama derasnya.
__ADS_1
"Hiks...." Egi dan Deva sama-sama saling berjalan cepat menuju satu sama lain, dan kemudian saling berpelukkan erat. Tangis merekapun pecah bersama.
"Aku mencintaimu Deva. Aku sangat mencintaimu," ucap Egi disela isak tangusnya.
"Aku tahu. Tapi kita tidak mungkin bersama. Tidak mungkin bagiku berada dalam satu pondok ada dua cinta, terlebih satu ranjang ada tiga nyawa. Dan nyawanya itu adalah nyawaku juga. Jadi biarlah aku yang mengalah," ucap Deva sembari terisak.
Malam itu mereka memutuskan tidur diranjang yang sama. Mereka tidur berpelukkan sepanjang malam. Dan saat mata Egi terbuka, Dia tidak menemukan keberadaan Deva lagi.
"Deva...sayang," teriak Egi.
Pria itu mencari keberadaan Deva dalam kamar mandi. Namun dia baru menyadari setelah melihat koper Deva, dan semua pakaian istrinya itu sudah kosong di dalam lemari. Egi terduduk lemas di lantai. Setelah bisa menguasai diri, diapun segera mengambil ponselnya dan membuat panggilan untuk Deva.
Sementara Deva yang memilih pergi mencari kontrakkan baru, baru saja tiba disana setelah dibantu oleh Rizky dan dian.
"Kamu yakin mau cerai Dev?" tanya Dian.
"Harus Di. Soalnya saingan cintaku berat sekali. Apa kalian tahu? wanita yang menjadi selingkuhan suamiku ternyata kak Leony." Jawab Deva.
"Ap-Apa?" Dian dan Rizky terkejut bersamaan.
"Tapi justru kalau itu kak Leony, kamu kan bisa ngomong baik-baik sama dia Dev. Kak Leony pasti mau ngalah sama loe," ujar Dian, namun dijawab gelengan kepala oleh Deva.
"Sekarang kak Leony sedang hamil anaknya Om tua. Gue nggak mungkin egois, gue yang harus ngalah disini," ujar Deva dengan air mata yang membasahi wajahnya.
"Gila. Jadi begitu bentukkan suami kamu. Ternyata seorang penjahat kelamin juga. Udahlah Dev, nggak pantas kamu nangisi cowok kayak gitu. Gue dukung 1000% kalau kamu mau cerai dari orang tua nggak tahu diri itu," ucap Rizky yang penuh emosi.
"Apa kalian bisa tinggalin aku sendiri? aku mau istirahat," ujar Deva sembari terisak.
__ADS_1
Rizky dan Dian saling berpandangan, dan kemudian saling mengangukkan kepala. Merekapun memutuskan pulang, dan membiarkan Deva menenangkan diri.