
"kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja, apalagi kalau sampai membahayakan nyawa anakku, maka aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi nyawamu itu," Egi berkata dengan penuh penekanan.
"Selama ini aku bisa tahan kalau kamu menyakiti atau menghinaku. Aku tidak pernah membuat perhitungan denganmu. Tapi kalau kali ini kamu melewati batas, maka aku tidak akan memandang siapapun lagi. Aku akan menghancurkanmu," sambung Egi sembari menghempaskan tangan Decky.
"Deva hamil?" tanya Hanggono dengan suara lirih.
"Pa-Papa," Egi menghampiri Hanggono dan memeluk orang yang dia sayangi itu.
"Katakan kalau kali ini Deva sungguh-sungguh hamil!" ucap Hanggono.
Deva mengerti maksud Hanggono, dan kemudian mendekati pria itu.
"Benar kek. Kali ini sungguhan dan bukan hasil konspirasi." Sindir Deva.
"Benar pa. Sekarang usianya baru 8 minggu. Tinggal 28 minggu lagi papa sudah bisa menggendong cucu alias cicit," timpal Egi sembari terkekeh.
"Kakek tenang saja. Nanti saat aku menikah dengan Olivia, akan aku berikan cicit kandung, bukan cicit angkat seperti itu," ujar Decky.
"Hari ini aku membawa Olivia, karena ingin memberitahu kalian dan sekaligus meminta restu. Kalau tidak ada halangan, bulan depan kami akan melangsungkan pernikahan," sambung Decky.
"Kamu harus menjaga kandunganmu dengan baik, dan perhatikan asupan gizi yang kamu makan," ujar Hanggono yang seolah tidak mendengar ucapan Decky.
Deva menahan tawanya, karena wajah Decky langsung berubah menjadi masam. Sementara Decky yang merasa diabaikan mengepalkan tangannya.
"Tidak masalah kalau kalian mengabaikan ucapanku. Aku hanya memberitahu saja, aku tidak perduli kalian merestui atau tidak hubunganku dengan Olivia," ujar Decky.
"Kakek. Kenapa kakek bisa pingsan? kenapa pula kakek nggak makan? kakek jadi sakit kan?" kali ini Devalah yang menambahkan letupan amarah didada Decky.
"Sayang. Kita pulang saja, sepertinya kehadiran kita tidak dianggap disini," ujar Olivia setengah berbisik.
__ADS_1
"Oke. Lebih baik kita belanja buat keperluan pernikahan kita," ujar Decky.
Decky kemudian menggenggam tanga Olivia dan bermaksud ingin membawa gadis itu keluar dari ruangan itu.
"Mau kemana kamu?" tanya Rizwan.
"Nggak perlu ditanya lagi pa. Harusnya papa bisa melihat sendiri, kalau keluarga kita tidak ada arti apa-apa jika dibandingkan dengan anak angkat kakek itu." Jawab Decky sembari keluar dari ruangan itu bersama Olivia.
"Kenapa papa bersikap seperti itu dengan Decky pa? dia jadi merasa diabaikan oleh keluarganya sendiri," tanya Rizwan.
"Kenapa aku harus memikirkan anak yang sudah hampir membuatku kehilangan nyawa," ujar Hanggono.
"Apa maksud papa? tanya Rizwan.
"Iya. Apa maksudnya pa? apa Decky melakukan hal buruk pada papa?" tanya Egi.
"Dia memang tidak melakukan hal padaku, tapi apa yang dia lakukan diluar sana membuatku kehilangan semangat hidup." Jawab Hanggono.
"Kemarin Firman dan Hendri dari departemen keuangan datang menemuiku. Mereka bilang HANG GROUP terancam bangkrut." Jawab Hanggono.
"A-Apa?" Rizwan terkejut.
"Kok bisa?" tanya Rina.
"Itu karena anak kalian dengan semena-mena memakai uang perusahaan untuk keperluan pribadi. Bahkan dari yang aku lihat, Decky bisa menghabiskan uang 1 milyar dalam satu hari. Apa dia pikir HANG GROUP tidak bisa bangkrut? apa menurut kalian papa tidak syok mendengar hal itu?"
"Aku menyerahkan HANG GROUP padanya, karena berharap perusahaan itu bisa berkembang dan jauh lebih jaya lagi saat dia mengurusnya. Tapi apa pada kenyataannya? HANG GROUP akan bangkrut hanya dalam waktu kurang dari 1 tahun. Aku sangat kecewa sama dia. Bagaimana dia bisa menghancurkan jerih payahku selama puluhan tahun hanya dalam waktu sekejap," wajah Hanggono kembali mendung.
Sementara Rizwan dan Rina jadi terdiam mendengar penjelasan dari Hanggono.
__ADS_1
"Dan yang lebih mengejutkan lagi. Dia menghabiskan 50 milyar yang tidak jelas untuk apa dibulan kemarin. Papa sudah sering mengatakan! jauhi gadis yang bernama Olivia itu. Lihatlah! sangat jelas kalau dia sedang dimanfaatkan olehnya. Dan aku sangat yakin ancaman bangkrut ini, ada hubungannya dengan gadis itu," nafas Hanggono terlihat turun karena emosi.
"Pa. Kendalikan diri papa. Sudahlah lepaskan semua urusan dunia. Biarkan semua berjalan apa adanya. Sekarang papa sudah punya aku.Aku akan mengembangkan perusahaanku jauh lebih besar dari HANG GROUP. Aku pasti akan membuat papa bangga sama aku. Jadi mulai sekarang papa jangan mikirin HANG GROUP lagi ya!" ujar Egi.
"Hah. Aku merasa beruntung memiliki anak seperti kamu Egi. Entah apa jadinya kalau aku tidak memilikimu. Papa akan selalu mendo'akan yang terbaik buat kamu. Sekarang papa lebih lega lagi karena kamu sudah berkeluarga," ujar Hanggono.
"Untuk kamu Rizwan. Kamu memang anak kandungku, tapi kamu bisa membedakan sendiri apa perbedaan antara kamu dan Egi. Aku harap kamu tidak ada rasa iri dengan Egi. Karena semua yang aku miliki, hampir semuanya sudah aku berikan padamu dan juga anakmu. Yang tersisa hanya rumah utama dan paviliun dan juga butik. Cuma itu yang aku berikan pada Egi dan Deva. Selain itu semua harta yang ada di rumah adalah milik Egi, hasil jerih payahnya sendiri," sambung Hanggono.
Rizwan terdiam. Dia tahu betul memang dirinya tidak pernah membuat Hanggono bangga sejak dulu. Ditambah dirinya pernah mengalami kecelakaan 4 tahun yang lalu, dirinya kehilangan kemampuan berpikir terlalu keras akibat benturan di kepalanya.
"Lebih baik mulai sekarang kamu mengambil ancang-ancang membuat usaha yang bisa menopang keluarga kamu dihari tua. Terus terang perusahaan itu sudah tidak bisa diandalkan lagi. Papa takut kalau kamu terlambat mengambil langkah, maka kalian akan menjadi gembel dijalanan," ujar Hanggono.
"Sekarang sudah cukup ngomelnya ya kek. Sekarang kakek harus makan dulu, supaya bisa minum obat," ujar Deva.
"Hah. Iya baiklah," ujar Hanggono.
Deva dengan telaten menyuapi Hanggono makan, hingga tanpa terasa makanan itupun tandas.
"Kamu bagaimana? apa masih merasa mual dan pusing?" tanya Hanggono.
"Masih pa." Jawab Egi.
"Kalau begitu kamu kembali saja ke ruanganmu. Disini biar Rizwan yang nungguin papa. Kapan lagi papa dirawat oleh anak kandung," ujar Hanggono.
"Nggak apa Gi. Kamu kembali saja ke ruanganmu. Deva, kamu antar dan temani suami kamu. Disini biar aku yang tungguin papa. Dan mama lebih baik pulang duluan ya!" ujar Rizwan.
"Iya pa." Jawab Rina.
Deva dan Egi kembali keruangan tempat Egi seharusnya dirawat. Sementara Rizwan menunggui Hanggono. Dengan sigap Egi meraih ponselnya setelah berbaring diatas tempat tidur, dan menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Kamu pantau saham HANG GROUP. Sesuai yang pernah aku beritahu sama kamu waktu itu, jika memang sudah waktunya kita sikat saja," ujar Egi.
Deva mengerutkan dahinya, saat mendengar Egi menyebut-nyebut perusahaan HANG GROUP. Sementara itu Egi tampak merenung, setelah perbincangan itu berakhir.