KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
82. Swiss


__ADS_3

"Ah...capek banget," Deva menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur empuk. Egi tersenyum, saat melihat istrinya itu merenggangkan tubuh ke kiri dan ke kanan. Sementara dirinya sibuk menyeret koper di dekat lemari.


Yah. Mereka memang baru tiba sekitar 30 menit yang lalu di Swiss. Setelah sampai di bandara, Egi bergegas mencari penginapan tempat mereka akan menghabiskan waktu berdua.


"Kamu mau mandi?" tanya Egi.


"Nanti Om. Aku mau istirahat dulu, capek banget." Jawab Deva.


Egi membiarkan Deva melakukan apa yang istrinya itu mau. Egi bahkan membiarkan Deva tertidur pulas, hingga keesokkan harinya.


*****


Deva menggeliat saat matanya sudah puas terpejam nyaris lebih dari 10 jam. Sementara Egi yang sudah bangun sejak tadi, menatap wajah cantik istrinya yang terlihat imut di pagi hari.


"Morning baby," sapa Egi.


Deva yang baru menyadari, tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan suaminya itu.


"Om sudah bangun dari tadi ya?" tanya Deva.


"Lumayan. Lumayan puas untuk memandangi wajah cantik istri kecilku." Jawab Egi.


"Om nggak usah sok mau gombalin aku, nggak mempan!" ujar Deva.


"Aku nggak gombal, aku ngomong yang sebenarnya. Ngomong-Ngomong ayo kita mandi bersama, setelah itu sarapan. Ralat! bukan sarapan, tapi sekalian makan siang," ujar Egi.


"Makan siang? emang ini jam berapa?" tanya Deva.


"Sembilan pagi." Jawab Egi.


"Ckk...maaf ya Om. Lagian kenapa harus nungguin aku bangun? harusnya Om duluan aja sarapan," tanya Deva.


"Mana mungkin aku makan sendiri. Ya udah kita mandi sekarang ya?" ujar Egi.


Egi kemudian beranjak dari tempat tidur, dan tiba-tiba menggendong Deva untuk membawa istrinya itu ke kamar mandi.

__ADS_1


"Eh? Om mau apa? turunin aku Om. Aku bisa jalan sendiri," tanya Deva.


"Kita mandi bareng." Jawab Egi.


"Apa? mandi bareng? nggak mau Om! lepasin aku Om! aku bisa mandi sendiri," Deva berusaha berontak minta dilepaskan. Namun Egi tidak mendengarkan ucapan Deva, karena dia ingin menciptakan moment yang indah dengan istri kecilnya itu.


"Kenapa harus malu, kita kan suami istri. Dan sekarang aku pengen kita mandi berdua," ujar Egi.


Egi menurunkan Deva tepat dibawah shower, dan Pria itu kemudian memutar kran shower sehingga membuat mereka berdua menjadi basah.


"Aku seperti ngerasa lagi syuting film Om," ujar Deva.


"Kok bisa?" tanya Egi sembari meraih kedua sisi wajah Deva.


"Ya main basah-basahan gini. Aku...."


Belum sempat Deva meneruskan ucapannya, Egi sudah melabuhkan ciuman padanya. Mau tak mau Deva juga ikut terbuai oleh rayuan fisik suaminya itu. Entah sejak kapan Egi sudah berhasil menanggalkan semua kain yang melekat pada tubuh istrinya itu. Yang pasti saat ini keduanya tengah mabuk asmara.


"Tubuhmu sangat indah sayang," bisik Egi yang membuat Deva jadi tersipu.


Egi kembali menggendong Deva, dan meletakkannya ke dalam bathup. Pria itu kemudian mengisi penuh bathup itu, dan ikut masuk kedalamnya.


"Malu Om." Jawab Deva yang memilih duduk berseberangan dalam bathup.


Egi menarik tangan Deva, dan membawa istrinya itu duduk dipangkuannya secara berhadapan. Deva bahkan bisa merasakan benda keramat suaminya sudah mengeras dibawah sana. Dan tanpa banyak bicara, Egi kembali melancarkan aksinya.


"O-Om. Emmpptt...."


Deva hanya bisa menggamit mulutnya, saat Egi bermain dengan lihai pada kedua asetnya yang berharga. Namun Egi berusaha mengendalikan diri, karena dia tidak ingin malam pertamanya terjadi di tempat itu.


"Berbaliklah sayang! aku tidak ingin memakanmu sekarang, meskipun aku menginginkannya. Kita harus sarapan terlebih dahulu," ujar Egi.


Entah kenapa Deva mendadak kecewa, saat Egi menghentikan permainan itu dengan tiba-tiba. Padahal tubuhnya sudah penuh damba. Deva jadi terdiam, dan menuruti perkataan suaminya itu. Tanpa Deva tahu, Egi menyunggingkan senyum dibalik punggungnya.


"Tapi malam ini, jangan harap aku akan mengampunimu. Malam ini kamu milikku sepenuhnya," bisik Egi, yang membuat Deva tersipu malu.

__ADS_1


"Hari ini kita habiskan dengan jalan-jalan dan kuliner terlebih dahulu. Kamu tenang saja, aku sudah ambil cuti dua minggu untuk kita," sambung Egi.


"Du-Dua minggu? lama amat Om," tanya Deva.


"Pokoknya selama dua minggu ini kita akan menghabiskan waktu bersama sepuasnya. Kita akan membuat moment yang pernah hilang untuk kita berdua. Aku akan menebus semua kesedihanmu, kesepianmu, dan hanya akan ada canda tawa." Jawab Egi sembari memeluk Deva dari belakang.


"Rasanya semua ini seperti mimpi. Aku tidak menyangka kalau kita masih bersama sampai sekarang," ujar Deva sembari bersandar didada Egi.


"Emmm. Kamu nggak tahu, aku sangat takut kehilangan kamu. Rasanya aku mau gila, saat kamu memberikan surat cerai itu sama aku. Papa sampai nggak mau ngomong sama aku gara-gara dia tahu aku menghamili Leony. Karena dari dulu dia nggak suka dengan Leony," ujar Egi.


"Kenapa kakek nggak suka sama kak Leony?" tanya Deva.


"Dulu aku kan pernah pacaran sama dia, tapi dia malah ninggalin aku dan menikah dengan Ferdy. Padahal awalnya aku yang dijodohkan sama Leony oleh kakek kamu. Sejak pengkhianatan Leony, papa jadi nggak suka sama kakak kamu itu." Jawab Egi.


"Tapi itulah jodoh. Ternyata Tuhan ingin aku berjodoh dengan balita yang pernah aku gendong sewaktu dia masih kecil," sambung Egi.


"Om pernah gendong aku?" tanya Deva penasaran.


"Ya. Dulu waktu aku pacaran sama Leony, dia pernah ngajak aku main ke rumahmu. Waktu itu papa dan mama nggak ada di rumah. Cuma ada Leony dan kamu. Kamu waktu kecil cengeng banget, terus aku coba gendong. Tapi anehnya tiba-tiba langsung diem." Jawab Egi.


"Masak sih Om? tapi mungkin aku tahu, kalau Om itu jodoh aku," ujar Deva.


"Tapi sayangnya kamu sudah dimiliki Decky lebih dulu. Maafkan aku yang terlambat menemuimu jodohku," ujar Egi sembari terkekeh.


Egi dan Deva kemudian menyudahi obrolan mereka dalam kamar mandi. Merekapun bergegas mandi, dan pergi mencari sarapan.


"Gila. Apa jadinya kalau kita nggak pakai baju hangat ya Om? disini suhunya dingin banget," ujar Deva.


"Aku sengaja mengajakmu bulan madu ke Swiss. Agar nanti kita nggak usah keluar kamar sering-sering," ujar Egi sembari menaik turunkan alisnya dan itu berhasil membuat Deva tersipu.


"Habislah kamu Deva. Dengan barang sebesar itu, apa jadinya punyamu yang masih imut-imut itu," Deva tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa? pusing?" tanya Egi.


"Nggak! aku cuma lapar." Jawab Deva sembari memasukkan beberapa sendok makanan dengan cepat, dan berakhir dengan tersedak.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? kok ngebut gitu makannya?" tanya Egi sembari menyodorkan air minum untuk istri kecilnya itu.


Deva menyambar air minum dari tangan Egi, dan kemudian meminumnya hingga tandas.


__ADS_2