
Satu minggu kemudian....
"Bagaimana hasil pencarianmu?" tanya Olivia yang sudah cukup sabar mananti pergerakkan Decky yang dinilainya cukup lamban.
"Nihil. Entah dimana bocah itu menyembunyikan sertifikatnya." Jawab Decky sembari mengurut keningnya.
"Kenapa harus bertele-tele? kenapa tidak tanyakan langsung saja? kamu kan bisa bersandiwara?" tanya Olivia.
"Akan aku coba. Kalau begitu aku pulang dulu ya sayang! aku juga sudah lelah berteka teki seperti ini. Aku ingin segera melempar dia pergi dari rumah, dan memasukkanmu dalam rumah itu. Bersabarlah sebentar lagi." Jawab Decky sembari mengusap puncak kepala kekasihnya.
Decky kemudian pulang ke rumahnya, dan akan langsung menanyakan keberadaan sertifikat yang sudah satu minggu lebih dia cari.
"Kakak? kakak sudah pulang?" tanya Deva yang ternyata baru pulang dari kuliah.
"Ya. Apa kamu lelah?" tanya Decky sembari mengusap puncak kepala Deva.
"Sangat kak. Tadi kami bayak sekali menggulung bahan pakaian yang akan kami gunakan untuk ujian nanti. Oh ya seminggu lagi adalah masa libur kuliah, rasanya nggak enak sekali baru masuk kuliah tapi sudah libur. Tapi bagus juga sih, jadi aku bisa belajar mengejar pelajaran yang tertinggal selama beberapa bulan. Sebalnya, liburnya terlalu lama menurutku. 3 bulan, berlebihan nggak sih kak?" tanya Deva.
Deva tahu Decky sangat tidak suka dirinya banyak bicara, hingga menyebabkan pria itu memutar bola mata dengan malas.
"Dasar bocah ingusan. Bikin pusing aja," batin Decky.
"Pusing aja. Aku akan membuatmu mual dengan tingkahku," batin Deva.
"Oh ya ada hal yang ingin kakak tanyakan sama kamu," ujar Decky.
"Pasti mau nanyain sertifikat itu kan? tenang saja, pasti akan aku berikan," batin Deva.
"Mau nanya apa kak? kedengarannya serius sekali," tanya Deva.
"Ini. Sebulan lalu kakak sudah memesan sebuah brankas besar. Sekarang brankas itu sudah jadi, kakak akan menyimpan semua berkas penting di dalam sana. Dimana sertifikat butikmu? biar kakak simpan di dalam sana juga," tanya Decky.
"Oh ya? wah...bagus sekali. Dimana kakak menyimpan berkas itu? kok tidak ada dalam kamar ini? aku pengen lihat," mata Deva melihat ke kiri dan ke kanan untuk mencari keberadaan brankas yang Decky maksud.
"Brankasnya tidak di rumah, tapi di kantor. Dikantor akan lebih aman, karena penjagaannya lebih ketat. Terlebih disana banyak dilengkapi dengan cctv disetiap sudut ruangan." Jawab Decky.
"Benar juga," ujar Deva.
"Jadi dimana sertifikatnya? biar kakak simpan dengan aman," tanya Decky.
"Eh kak. Aku kan libur 3 bulan nih, kita liburan keluar kota yuk?" Deva sengaja mengalihkan pembicaraan hanya karena ingin membuat Decky kesal.
"Kakak belum bisa kalau sekarang. Soalnya kerjaan kantor sangat banyak. Jadi sertifikat butikmu kamu simpan dimana?" tanya Decky.
"Gitu ya kak? padahal aku pengen banget liburan bareng kakak lagi. Anggap aja ini honeymoon kita yang kedua. Tapi nggak apa deh kalau kakak sibuk," Deva bisa melihat tangan Decky terkepal karena kesal.
"Moga kamu kesal sampai kena serangan jantung," batin Deva.
__ADS_1
"Aku bersumpah demi langit dan bumi. Kalau aku sudah mendapatkan sertifikat itu, aku akan langsung melemparkanmu pada Riki si mata keranjang itu," batin
"Aku mau mandi dulu kak. Gerah," ujar Deva.
"Dari tadi kakak nanyain kamu loh! tapi kamunya nggak jawab. Sedih deh," Decky berpura-pura merajuk.
"Sayangnya aku sudah tahu kebusukkanmu Decky. Andai saja kamu tulus, pasti aku akan senang melihat ekspresi imutmu ini," batin Deva.
"Ya ampun kak. Maaf ya, aku sampai lupa jawab pertanyaan penting kakak," ujar Deva.
"Ya udah gini aja. Besok aku akan antar langsung deh ke kantor kakak," sambung Decky.
"Benarkah?" tanya Decky dengan senyum semringah.
"Kok kakak terlihat girang banget yas? padahal cuma buat nyimpan sertifikat doang," tanya Deva.
"Eh? bu-bukan apa-apa. Kalau sertifikat itu aman, itu artinya kita berdua sudah bisa menjaga peninggalan nenek." Jawab Decky dengan gugup.
"Benar juga. Ya udah pokoknya kakak tenang aja. Besok aku pastikan akan mengantar sertifikat itu ke kantornya kakak. Soalnya Sertifikat itu aku titip di rumah kakek," ucap Deva.
"Di-Di rumah kakek?" Decky terkejut.
"Ya. Kenapa kakak terkejut gitu?" tanya Deva yang menahan tawanya melihat keterkejutan di wajah Decky.
"Ke-Kenapa kamu titip kesana?" tanya Decky.
"Ya sudah. Besok aku tunggu kamu di kantor ya! kamu mandi gih... biar segar," ucap Decky.
"Oke kak," Deva meraih handuk dan baju ganti dari dalam lemari. Setelah itu dia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Heh. Hanya tinggal besok saja Decky, setelah itu kamu bisa menyingkirkan dia," ucap Decky dengan lirih.
🌶️🌶️🌶️🌶️
"Kenapa yang kamu bawa malah yang duplikat? bukankah kamu bilang Decky membeli brankas bagus buat menyimpan berkas-berkas penting kalian?" tanya Hanggono yang merasa heran.
"Suatu saat nanti pasti akan Deva jelaskan kek.Tapi untuk sekarang sertifikat yang asli akan lebih aman disini dulu. Sekarang Deva harus cepat ke kantor kak Decky." Jawab Deva.
"Hah...baiklah kalau begitu. Kakek percaya apapun yang akan kamu lakukan, tidak akan merugikan orang lain," ujar Hanggono.
"Makasih kek," ucap Deva.
Devapun pergi dari kediaman utama Hanggono. Dan segera pergi ke kantor Decky. Tidak perlu banyak melalui prosedur, karena Deva sudah 2 kali pernah ke kantor Decky. Dan saat ini dia sudah berada di depan ruangan suaminya itu.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Masuk!"
Ceklek
"Eh. Kamu sudah datang?"
Decky langsung berdiri dari kursi kebesarannya untuk menyambut Deva. Tapi lebih tepatnya Decky ingin segera menyambut sertifikat yang ada dalam dekapan Deva.
"Aku cuma mau ngantar ini aja kak. Soalnya aku mau mampir ke rumah sakit buat jenguk Kayla," ujar Deva sembari menyodorkan map coklat dihadapan Decky.
"Oke. Hati-Hati aja kalau gitu," ucapan Decky sembari meraih map coklat itu dengan hati yang sorak sorai.
"Oh ya, kamu kan sudah mulai libur kuliah. Rencananya besok temanku mengundang kita ke acara ulang tahunnya. Apa kamu mau datang bersamaku?" tanya Decky.
"Kamu begitu tidak sabar ingin menyingkirkan aku ya? berarti besok adalah perang yang sebenarnya. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya," batin Deva.
"Dengan senang hati kak." Jawab Deva dengan senyum terbaiknya.
"Ya sudah kamu boleh pergi," ujar Decky yang kemudian diangguki oleh Deva.
Setelah Deva hampir menutup pintu, Decky mencium map itu berkali-kali. Deva yang menyaksikan aksi tingkah konyol Decky hanya melihatnya dengan senyum sinis. Setelah itu dia benar-benar pergi, karena dia ingin menjenguk keponakkannya ke rumah sakit.
"Aku pasti sudah gila, karena sudah setuju menikah dengan pria jelma'an Fir'aun kayak gitu," gerutu Deva sembari menarik gas motornya dan kemudian melenggang dijalanan.
🌶️🌶️🌶️
"Kakak dimana? aku sudah di loby hotel nih," tanya Deva.
"Kamu naik aja keatas pakai lift. Aku tunggu kamu di lantai 7 dengan nomor kamar 10." Jawab Decky.
"Oke kak. Maaf ya tadi aku nyuruh kakak pergi duluan, soalnya mama nyuruh mampir ke rumah dulu," ucap Deva.
"Nggak apa. Cepat naik ya!" ujar Decky.
"Oke." Jawab Decky.
Deva bergegas menuju lift, dan menekan tombol angka 7. Setelah sampai, dia kemudian mencari kamar nomor 10.
Ceklek
Pintu kamar hotel dibuka seseorang, setelah Deva mengetuknya beberapa kali. Namun pemandangan menjijikkan langsung terlihat, begitu dia memasukki kamar itu. Olivia dan Decky tengah berciuman mesra, padahal mereka tahu Deva sudah mengetuk pintu kamar itu.
"Waw...apa ini nggak terlalu terang-terangan. Hem?" Deva menyilangkan tangan di dadanya, sementara Decky dan Olivia jadi menghentikan pagutan mereka.
Decky menyeka sisa ciumannya dibibir Olivia, begitu juga Olivia melakukan hal yang sama pada Decky. Mereka melakukannya dengan santai, seolah mereka tidak ada masalah sama sekali dengan Deva mengetahui hubungan mereka.
__ADS_1