KAU GADAIKAN DIRIKU

KAU GADAIKAN DIRIKU
34. Kabur


__ADS_3

"Devaaaa...." teriak Riki dari arah dalam kamar. Deva bisa mendengar kalau suara pria itu sangat bersemangat.


"Gawat. Apa obatnya lebih dulu bereaksi? bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?" ucap Deva lirih.


Namun Deva bergegas menghampiri Riki. Dia tidak mau pria itu menaruh curiga padanya.


"Lihatlah obatnya sudah bereaksi baby," Riki dengan tidak tahu malunya menunjuk kearah kejantanannya yang sudah mengacung.


Deva menelan ludahnya. Sejujurnya dia sangat gugup bercampur takut saat ini. Namun Deva bersikap tenang, dia seolah tidak terpengaruh dengan pemandangan itu.


"Apa yang harus aku lakukan kak? aku tidak punya pengalaman sama sekali," tanya Deva dengan konyol.


"Lepaskan semua pakaianmu! biar kakak yang bekerja setelahnya. Malam ini kakak akan mengajarimu bagaimana cara menyenangkan seorang pria saat di ranjang." Jawab Riki dengan senyum nakalnya.


"Mati aku. Ayolah cepat bereaksi, aku sungguh tidak mau disentuh pria jahanam ini," batin Deva.


Deva dengan gerakkan super lambat melepas kancing piyamanya satu persatu. Sementara Riki melihat kearahnya dengan tatapan nakal.


"Oh ayolah baby! aku sungguh tidak tahan. Biar kakak membantumu agar lebih cepat melepaskannya.


Tap


Brukkkk


Riki menarik tangannya, hingga Deva terjatuh diatas tubuh pria itu. Riki kemudian bangkit, dan meletakkan Deva di pangkuannya. Deva sangat gugup, saat Riki membuka kancing bajunya satu persatu. Wanita itu menyilangkan tangan didadanya, saat Riki sudah berhasil melepas semua kancing bajunya.


"Ayolah sayang. Jangan tutupi aset berhargamu. Aku tahu kamu tidak percaya diri karena milikmu belum tumbuh sempurna. Nanti kakak akan membantumu biar ukurannya sebesar yang kamu inginkan," ucap Riki sembari terkekeh.


"Rasanya ingin sekali aku siram wajahnya dengan air keras. Ingin rasanya kepala pria ini aku pukul pakai martil, agar otaknya berceceran," batin Deva.


Grepppp


Riki melepaskan tangan Deva di dadanya, hingga pemandangan yang Riki tidak sangka-sangka terpampang jelas di depan matanya.


"Decky memang payah. Katanya dadamu belum tumbuh, ini mah sempurna sekali," mata Riki berbinar terang saat melihat dada Deva yang penuh dan berisi. Bahkan ukurannya melebihi standar imajinasinya.


Deva kembali menyilangkan tangan di dadanya, saat Riki akan mulai membenamkan wajah didadanya yang masih ditutupi dengan kain penyangga. Namun saat Riki akan memaksa Deva berciuman, tiba-tiba Riki merasakan pusing di kepalanya dan tidak sadarkan diri.


"Dasar bajingan tengik. Rasakan ini!"


Bagh


Bugh

__ADS_1


Bagh


Bugh


Kletakkkk


"Oh ya ampun. Apa aku sudah mematahkan masa depannya?" Deva mendadak panik.


Deva yang tersulit emosi memang memukul-mukul dada pria itu, bahkan menginjak-ijak tubuh Riki. Namun saat dia menginjak bagian bawah perut Riki, Deva merasakan ada sesuatu yang patah. Deva yang tidak ingin mengambil resiko bergegas mengganti pakaian dan segera kabur dari situ setelah meletakkan sebuah map coklat berisi uang, dan juga selembar surat yang sudah lama dia siapkan.


"Sekarang aku harus kabur kemana? aku tidak mungkin pulang ke rumah orang tuaku. Dan aku juga harus menonaktifkan kartuku, kalau tidak aku pasti akan terlacak," batin Deva.


Deva kemudian mencopot kartu ponselnya setelah menyalin semua kontak. Kartu itu segera dia buang.


"Sekarang kita mau kemana neng?" tanya supir taksi.


"Bandara apa stasiun ya?" Deva dengan iseng menghitung kancing bajunya, dan pilihannya jatuh pada Bandara.


"Bandara saja pak." Jawab Deva.


"Aku harus memanfaatkan 3 bulan libur kuliah dengan sebaik-baiknya. Setelah libur usai, aku akan pindah kuliah, agar tidak berurusan lagi dengan keluarga Hanggono. Aku rasa sisa pendapatan butik cukup buatku hidup 3 bulan ini. Atau nanti aku coba cari kerja aja deh," batin Deva.


Setelah menempuh waktu hampir 30 menit, Deva sampai di bandara yang suasananya sudah agak sepi.


"Mbak apa penerbangan ke Surabaya masih ada?" tanya Deva asal. Entah mengapa bibirnya mau menyebutkan nama kota itu.


"Maaf penerbangan ke surabaya terakhir jam 7 malam tadi," jawab petugas tiket.


"Jadi penerbangan apa yang tersisa?" tanya Deva.


"Hanya satu, itupun penerbangan terakhir." Jawab gadis itu.


"Kemana?" tanya Deva.


"Kota Bali." Jawab petugas tiket.


"Kalau begitu saya ambil ya mbak," ujar Deva.


Deva kemudian memberikan KTP sebagai syarat pemesanan tiket.


"Anda langsung saja naik pesawatnya ya mbak. Soalnya sebentar lagi pesawatnya akan lepas landas," ujar gadis itu sembari memberikan tiket pada Deva.


Deva bergegas manarik kopernya, dan masuk ke dalam pesawat setelah melewati boarding pass.

__ADS_1


"Ya Tuhan...aku rasa aku sudah gila. Sekarang aku akan ke bali. Bahkan nenek moyangkupun tidak ada disana. Entah apa yang akan terjadi padaku selama 3 bulan disana nanti," batin Deva.


Deva memejamkan matanya, dan memasrahkan semuanya pada Tuhan. Setelah menempuh perjalanan 1 jam 50 menit, Deva akhirnya tiba di bali tepat pada pukul 10 malam. Deva menarik kopernya dan melangkah gontai di bandara I Gusti Ngurah Rai.


"Sekarang aku harus kemana? bahkan aku sama sekali tidak tahu nama-nama tempat dibali keculi pantai Kuta. Apa aku harus menginap di pantai? kalau ada orang jahat gimana?" batin Deva.


"Taksi non," seorang pria parubaya menawarkan jasa taksi pada Deva.


Deva bersikap tenang, seolah dia sudah sering datang ke kota itu.


"Pantai kuta pak," ucap Deva.


"Oh nona nginap di daaerah kuta ya?" tanya Supir taksi.


"Ya." Jawab Deva asal.


Sang supir mulai memasukkan koper Deva kedalam bagasi. Setelah itu mereka meluncur ke tempat tujuannya.


"Dimana penginapannya non?" tanya Supir.


"I-Ini sudah sampai pantai kuta ya?" tanya Deva.


"Ya. Ini sudah disepanjang jalan kawasan pantai kuta. Penginapan nona ada disebelah mana?" tanya Supir yang membuat Deva jadi gelagapan.


Namun saat Deva menatap ke depan, tidak sengaja matanya menangkap tulisan Guest House. Devapun minta di berhentikan di tempat itu.


"Makasih ya pak," ucap Deva setelah dirinya membayar ongkos taksi.


Deva cukup lega, karena dia bisa menemukan penginapan minimal untuk malam ini.


"Semoga tempatnya cocok dan harganya juga cocok. Aku nggak mau bangkrut sebelum 3 bulan berakhir," batin Deva.


Deva kemudian memesan kamar yang ramah dikantongnya. Dia sangat bersyukur, karena Deva mendaptkan harga kamar yang lumayan murah menurutnya. Dan dia bisa beristirahat dengan tenang malam ini.


Brukkk


Deva menjatuhkn tubuhnya di atas kasur empuk dengan gaya terlentang bebas. Deva bahkan merenggangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, hingga suara sendi ditubuhnya berbunyi.


"Ah...entah apa yang akan terjadi pada pria malang itu saat terbangun. Kalau aku masih disana, dia pasti akan membunuhku," gerutu Deva.


"Kenapa nasibku jadi begini. Aku jadi seperti buronan kalau begini. Siapa yang akan menyelamatkan aku dari penderitaan hidupku ini? terus gimana aku menjelaskannya pada kakek Hanggono,"


"Tapi sudahlah. Itu akan aku pikirkan setelah 3 bulan mendatang. Kakek hanggono pasti akan mengerti keadaanku. Aku juga sudah memiliki banyak bukti, jadi si Decky sialan itu nggak bisa berkutik lagi,"

__ADS_1


Karena lelah, Deva memutuskan untuk tidur. Dia sudah bertekad akan menghadapi apapun ujian yang akan menerpanya di masa depan.


__ADS_2