
Setelah pernyataan Rama waktu itu, Reva memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Baginya perkataan Rama sangat menyakiti hatinya, sungguh Reva tidak ingin lagi dimadu dengan alasan apapun.
"Anak-anak, ayo cepat masukkan baju kalian! Kita akan ke rumah Mbah, " titah Reva pada kedua anaknya.
"Kenapa tiba-tiba, Umma? " tanya Ghibran yang sedang asik bermain bersama adiknya.
"Karena Umma sudah kangen sama Mbah. Jadi sekarang siap siap, ya! " kata Reva.
Kedua bocah itu langsung menurut dan mulai memasukkan beberapa pakaian mereka dalam koper masing-masing yang sudah disiapkan Reva. Setelah selesai dengan anak-anak, Reva kembali ke kamar dan membereskan pula barangnya.
"Tunggu! Mau apa kau membawa koper seperti itu? " tanya Rama yang baru masuk ke kamar melihat Reva tampak sibuk dengan kopernya.
"Aku mau pulang ke rumah orang tuaku, lebih baik kamu melepasku dari pada aku kembali hidup dimadu! " ucap Reva tanpa menatap Rama.
"Tapi aku tidak mengizinkan kamu!! "
"Lalu apa bedanya aku dengan kamu? Walau aku tidak mengizinkanmu menikah lagi, toh kamu juga pasti akan tetap melakukannya!! " kata Reva mencoba untuk tidak meninggikan suaranya.
Rama yang mendengar perkataan Reva barusan hanya diam tanpa menghentikan langkah Reva.
"Maaf Reva aku telah melukai hatimu... " gumam Rama dalam hati.
......................
Dan sejak saat itulah Rama dan Reva resmi berpisah. Saat itu kebetulan Zidan sudah selesai dengan pengobatan nya di luar negeri selama 6 bulan, matanya sudah bisa kembali melihat, kakinya sudah mulai bisa berjalan tegap seperti dulu.
Saat pertama kali Zidan kembali menginjakkan kaki di tanah air, Zidan berinisiatif menemui kedua anaknya. Zidan juga sudah mendengar kabar perpisahan Rama dan Reva. Dan saat ini ia langsung menuju ke rumah Pak Badri.
"Pak, kita langsung ke rumah Pak Badri saja ya! Saya mau ketemu sama anak-anak, " ucap Zidan pada Pak Ali supirnya.
"Baik, Tuan. "
Mobil pun segera menuju ke rumah dimana kedua anaknya berada, senyum terus mengembang dibibir Zidan. Dia benar-benar sangat merindukan keduanya, apalagi ibunya.
__ADS_1
"Astagfirullah, sadarlah Zidan!! Tidak pantas kamu memikirkan dia yang bukan lagi hak mu!! " Zidan dengan cepat menggelengkan kepalanya.
Sesampainya ia di tempat tujuan, rumah itu tampak sepi. Dengan perlahan Zidan mengetuk pintu berharap akan segera bertemu dengan kedua hatinya.
"Assalamualaikum, " ucap Zidan.
"Waalaikum... Salam... " Reva menjatuhkan pakaian yang baru ia angkat dari jemuran ketika melihat tamu yang datang.
"Reva... Ada apa? " tanya Zidan sambil melambaikan tangannya karena Reva terlihat bengong.
"Eh.. I-iya anu.. Aduh apasih itu..." Reva terlihat sangat lucu saat ia gugup seperti itu membuat Zidan terkekeh.
"Kamu kenapa? " tanya Zidan lagi mencoba menahan tawanya.
"Ti..tidak, mari silahkan masuk! Akan kupanggilkan Ayah dan Ibu... " Reva pun mempersilahkan Zidan masuk ke dalam rumah.
Kedatangan Zidan benar-benar hal yang sama sekali tidak diduga, selama beberapa waktu tidak bertemu rasanya sangat canggung bagi Reva. Ada sesuatu yang mengusik hatinya.
Reva segera memanggil Ayah dan ibu serta anak-anaknya untuk menemui Zidan di depan. Sementara ia akan membuat minum di dapur.
"Selama Zidan berobat, hal apa saja yang sudah terjadi pada anak-anak, Yah, Bu? " tanya Zidan pada kedua orang tua Reva.
"Banyak hal yang sudah terjadi, Nak. Pernikahan Reva dan Rama tidak bertahan lama, setelah perpisahan itu Reva lebih banyak mengurung diri di rumah. Tetangga banyak yang menggunjingnya.. " Pak Badri menghela nafas panjang seakan berat untuk menceritakan kembali kejadian yang menimpa putri tunggalnya itu.
"Ibu minta kamu bisa menjaga Reva kembali, Nak! Berjuanglah lagi untuk mendapatkan kepercayaan Reva, kasihan kedua anakmu jika terus seperti ini.. Mereka butuh figur seorang ayah.. Lagi pula jika kalian ingin rujuk kembali syarat dan aturannya sudah sesuai dengan ketentuan syariat islam... Jadi ibu mohon padamu, Nak Zidan!! " ucap Bu Heni berlinang air mata.
"Akan Zidan coba, Bu. Ibu jangan sedih lagi seperti ini, ya! Kalau gitu Zidan izin ajak anak-anak bermain..."
Semenjak Bu Heni bicara seperti itu, Zidan mulai kembali berjuang mendapatkan hati Reva kembali. Baginya ini adalah sebuah kesempatan kedua yang diberikan oleh Allah untuk menebus kesalahan yang pernah ia buat.
Butuh waktu satu tahun bagi Zidan untuk kembali mengetuk pintu hati Reva, dan tentunya hal itu mendapat dukungan dari keluarga juga terutama Aisyah yang setiap hari selalu membujuk Reva untuk kembali memberi kesempatan kedua bagi Zidan.
...----------------...
__ADS_1
Pada akhirnya Reva bersedia menerima kembali kehadiran Zidan dalam hidupnya sebagai suami sekaligus ayah biologis dari kedua anaknya. Hal itu membuat Zahwa yang memang sejak kecil belum merasakan kasih sayang seorang ayah kandung kini ia sudah bisa merasakan kasih sayang itu seutuhnya.
"Adek senang banget keluarga kita kumpul seperti ini, sudah lama adek ingin Abi setiap hari menemani Adek main seperti ini, " ucap gadis itu antusias.
"Oh ya? Kalau begitu mulai sekarang Abi tidak akan meninggalkan kalian lagi, Abi janji akan selalu menemani kalian... " ucap Zidan.
"Yeay, asiiiikk... Zahwa sayang Abi.."
"Abang juga sayang Abi... "
Kedua bocah itu berpelukan bersama Abi mereka, pemandangan itu mampu membuat Reva terharu sampai ia meneteskan air mata.
"Ya Allah, untuk kali ini jagalah rumah tangga kami. Hamba tidak akan lagi meminta suami hamba untuk berpoligami seperti dulu... "
Akhirnya keluarga kecil mereka kembali bersatu setelah dihantam batu besar sebagai ujian yang harus mereka lalui, seperti yang kita tahu rezeki, jodoh, dan maut hanya Allah yang tahu.
Ingatlah! Sebelum kita mengambil keputusan untuk hidup kita, pastikan iti tidak akan membuat kita menyesal di kemudian hari. Apalagi soal poligami seperti ini, Reva bisa mengatakan ikhlas dan ridho dimadu tetapi akhirnya ia menyerah ditengah jalan..
Apalagi untuk para laki-laki yang berniat poligami, jika tidak bisa bersikap adil maka jangan. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Quran Surah An – Nisa ayat 3 yang berbunyi:
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilama kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” [An-Nisa/4 : 3]
...~TAMAT~...
Akhirnya cerita ini tamat juga ya guys... Maafkan jika endingnya tidak sesuai sengan ekspektasi kalian... Author juga nggak mau buat cerita yang panjang dan ujungnya buat kalian bosan ya walaupun memang membosankan.. hehe..
Terima kasih untuk kalian para readers yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Ambil pesan moral yang baik, dan jangan ambil yang buruk.
Bonus..
__ADS_1