
..." Ada kalanya ada hal-hal yang perlu kita relakan, bukan karena kita sudah siap melihatnya pergi. Namun, kita menyadari bahwa melepaskan adalah jalan terbaik daripada mempertahankan namun lebih menyakitkan. "...
...*...
Dua hari setelah kedatangan
Fizah dan Zidan ke rumah orang tua Reva, hari ini ia bermaksud untuk mengunjungi Ghibran di rumah yang dulu menjadi tempatnya berteduh selama beberapa tahun menjalani rumah tangga bersama Zidan. Reva di dampingi oleh Rama dan Zahwa, sengaja Reva mengajak Zahwa agar kedua anaknya bisa saling mengenal.
"Emangnya kita mau kemana sih, Umma?, " tanya Zahwa saat dalam perjalanan.
"Kita mau ketemu sama Abang, Adek senang nggak kalau ada Abang? " tutur Reva
"Jadi Awa punya Abang? Kok Umma nggak kasih tau sih, kemarin ketemu sama Mbah dan sekarang ketemu sama Abang. Aduh pucing kepala Awa, " kata gadis kecil itu sambil memegang kepalanya.
Rama dan Reva hanya tersenyum melihat tingkah polos dari Zahwa.
Sesampainya mereka di rumah Zidan, Rama dan Reva langsung turun dan mengetuk pintu.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumsalam, Mbak Reva! Mari masuk Mbak.." sambut Fizah.
Rama dan Reva dipersilahkan duduk, Fizah segera memanggil Ghibran dan Zidan yang berada di kamar mereka masing-masing.
"Umma!! " teriak Ghibran saat melihat ibunya duduk di ruang tamu. Anak laki-laki pertamanya itu langsung berhambur memeluk Reva sambil terus menangis disambut hangat oleh Reva yang juga merindukannya.
"Umma kenapa tinggalin Abang sendirian? Kemana aja Umma selama ini? Abang kangen sama Umma, kenapa Umma pergi gitu aja? Padahal waktu itu kan bukan salah Umma, kenapa Umma pergi nggak ajak Abang... hiks hiks hiks.. " ucap Ghibran dipelukan sang ibu.
"Sstttss udah ya, Sayang! Itu semua sudah berlalu, sekarang Umma kan sudah ada di sini. Yang lalu biarlah berlalu, Abang jangan merasa bersalah seperti ini.. " sahut Reva menghapus air mata anaknya.
Zahwa yang melihat ibunya dipeluk oleh orang lain merasa cemburu.
"Umma kenapa peluk kakak ini terus? Memang kakak ini siapa sih? " sungut Zahwa berhasil menyita perhatian.
"Oh iya Umma sampai lupa, kenalin ini Abang Ghibran yang semalam Umma ceritain. Abang kenalin ini Adek Zahwa, anak Umma juga.. " kata Reva memperkenalkan keduanya.
__ADS_1
"Jadi ini Adeknya Abang? " tanya Ghibran.
"Iya, Sayang. Sana kalian main, Abang ajak Adiknya main di belakang ya! " seru Reva.
Setelah anak-anak pergi bermain di halaman belakang, barulah mereka memulai pembicaraan yang serius. Zidan sudah duduk disamping Fizah, namun matanya terus menatap Rama yang duduk bersebelahan dengan Reva.
"Jadi bagaimana? Apakah Umma sudah memutuskan untuk kembali? " tanya Zidan.
"Tidak, saya ke sini hanya ingin mempertemukan anak-anak. Dan saya akan memberitahu apa keputusan yang saya ambil.. " Reva menjeda perkataannya sebentar.
"Akan lebih baik kita berpisah, Mas dari pada aku kembali pasti akan ada hati yang terluka lagi.. "
Duar!!!
Bagai disambar petir disiang bolong, perkataan Reva benar-benar diluar dugaan dan membuat Zidan tersentak.
"Nggak... Ini nggak mungkin, Umma pasti bohong kan sama Abi? Umma pasti mau ngerjain Abi kan? " Kata Zidan dengan keterkejutannya.
"Tidak, saya tidak berbohong! Saya benar-benar serius. "
"Ada sebuah alasan yang nanti akan sama-sama kita ketahui jika waktunya sudah tiba, " sahut Reva.
"Kenapa? Kenapa Umma minta pisah dari Abi? Abi sudah meminta maaf atas segala ketidak adilan Abi selama ini.. Bahkan Abi siap menceraikan Fizah asal Umma mau kembali! " ucap Zidan tanpa memikirkan perasaan Fizah.
"Apa yang kamu ucapkan itu, Mas? Bahkan kamu tega menyakiti hati istri keduamu hanya demi obsesi kamu itu! Jangan egois, Mas!! "
"Siapa yang egois di sini hah? Kamu yang memintaku untuk menikahinya padahal aku tidak menginginkannya! Sekarang kamu malah memilih pergi setelah aku menerima pernikahan kita ini?!! " nada bicara Zidan mulai meninggi.
"Ya aku sadar karena aku sudah membuatmu menikahi Hafizah saat itu, tapi yang perlu kamu ingat bahwa kita sudah terpisah selama 5 tahun, Mas! Selama itu pula kita tidak saling bertemu atau kamu memberiku nafkah! Bukankah dimata agama kita sudah bercerai? " bantah Reva.
"Lalu bagaimana dengan anak-anak? " tanya Zidan.
"Zahwa akan tetap ikut bersamaku, dan Ghibran juga berhak memilih dengan siapa dia akan ikut.. "
Reva bangkit dan menyusul kedua anaknya di halaman belakang, dan berniat untuk pulang meski rasanya berat jika melihat anak-anak yang baru mulai akrab harus kembali berpisah.
__ADS_1
"Ghibran akan tetap bersamaku dan bila perlu hak asuh Zahwa juga akan aku ambil!! " kata Zidan saat Reva ingin beranjak pergi.
"Terserah apa maumu, Mas. Tapi yang pasti keputusanku sudah bulat, dan jangan berpikir aku akan mengurungkan niatku dengan ancamanmu itu!! "
"Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu, Reva!! " teriak Zidan.
"Kalau begitu aku yang akan menggugat cerai kamu, Mas!! Aku pamit, Assalamualaikum! "
Rama membawa Zahwa dan Reva untuk segera pergi dari rumah itu, Rama tak menyangka jika keputusan ini yang akan diambil oleh Reva.
Namun saat mereka akan keluar dari rumah, Ghibran mengejar mereka dan bersimpuh memohon agar Reva tidak pergi.
"Umma jangan tinggalin Ghibran lagi, Umma mau kemana lagi sekarang? Ghibran mau ikut sama Umma... hiks hiks hiks... " rengek Ghibran.
"Umma nggak akan meninggalkan Ghibran sendiri kok, Sayang. Nanti Umma pasti akan jemput Ghibran lagi, untuk sekarang kamu disini dulu aja ya jagain Bunda Fizah! Umma janji akan jemput Ghibran lagi nanti.. " ucap Reva menghapus air mata dari sang anak.
"Abang jangan sedih ya, nanti kita pasti main lagi seperti tadi.. " celetuk Zahwa menenangkan kakaknya yang menangis.
"Adek jagain Umma baik-baik ya, jangan nakal dan jangan merepotkan Umma! " kedua anak itu pun berpelukan yang membuat Reva merasa tidak tega dan tak kuasa menahan air mata.
Namun pelukan erat mereka harus terlepas kala sebuah tangan menarik Ghibran, tangan itu yang tak lain adalah milik Zidan.
"Umma...!! " teriakan dan tangisan pilu dari Ghibran mampu membuat hati Reva hancur, ia sudah tak kuasa lagi menahan air matanya.
Rama yang takut jika terjadi suatu hal yang lebih buruk lagi, langsung membawa Zahwa dan Reva segera pergi. Disepanjang jalan mereka hanya diam tak ada satupun yang bicara.
"Terima kasih ya, Ram. " ucap Reva saat mereka sudah sampai.
"Untuk? "
"Untuk semua yang sudah kamu lakukan selama ini, maaf sudah merepotkanmu.. " lanjut Reva.
"Tidak perlu sungkan, aku senang kok direpotkan apalagi sama Zahwa ini " kata Rama mencubit gemas pipi gembul milik Zahwa itu.
...............
__ADS_1
Jangan lupa divote ya guys..