Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Perjalanan Baru


__ADS_3

"Aku senang melihatmu menderita, Zidan! Dan untuk kamu Reva, aku tidak akan dengan mudah menerima kamu menjadi kakak iparku.. Mari kita sedikit bermain-main setelah ini, salahmu sendiri kenapa selalu mengusik hidupku... Hahaha " ucap Bianca tertawa menyeringai.


Acara pernikahan itu digelar dengan konsep yang sederhana namun tetap terlihat meriah, karena Reva tidak mau terlalu mewah. Tapi Rama tetap akan menggelar resepsi pernikahan di sebuah hotel untuk mengundang para kolega dan rekan bisnisnya, seperti yang kita tahu bahwa Rama adalah seorang pemilik perusahaan. Bagaimana bisa pernikahan nya tidak diketahui oleh rekan-rekannya, apalagi saat ini ia bisa menikah dengan wanita yang ia cintai selama ini.


Jauh diseberang sana, Fizah nampak meneteskan air mata juga melihat Zidan seperti itu. Hatinya tak tega melihat suaminya menatap Reva dengan wajah penuh kesedihan.


"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, Mas? Bukankah aku juga istrimu? Kenapa kamu menyetujui perceraian itu jika hatimu bertolak belakang dengan keputusan mu? Disini aku juga merasa di sakiti, Mas.. " kata Hafizah lirih.


"Kamu yang sabar ya, Nak! Umi yakin Zidan suatu saat akan berubah.. Ini hanya masalah waktu.. " kata Umi Zulfah mencoba menenangkan menantunya satu ini.


"Sampai kapan, Umi? Fizah lelah jika terus seperti ini kondisinya, Fizah juga perlu kepastian. Fizah juga punya perasaan.. Kenapa waktu itu Mas Zidan menolak menceraikan Fizah, Umi? " ucap Fizah dengan suara bergetar mengisyaratkan kepedihan.


Umi Zulfah hanya bisa memeluk menantunya itu dan mencoba memberi kekuatan pada wanita yang dulunya menjadi menantu kedua kini telah menjadi menantu satu-satunya tapi bukan istri satu-satunya. Karena dihati Zidan, Reva lah yang paling utama.


Saat selesai perjamuan makan, para tamu mulai menyalami pengantin dan memberikan selamat. Begitu pula dengan Umi Zulfah, Pak Kyai Hasan, dan yang lainnya.


"Selamat berbahagia ya, Nak. Semoga rumah tangga kalian Sakinah, Mawaddah, Warohmah.. " ucap Umi Zulfah sambil memeluk Reva.


"Amin, Terima kasih, Umi. " Balas Reva yang kini telah menangis dipelukan Umi Zulfah.


"Nak, tolong jaga putri Umi dengan baik ya! Umi percayakan kebahagiaan putri Umi padamu, " ucap Umi Zulfah yang beralih pada Rama.


"Iya, Umi.. Saya akan menjaga Reva dengan baik.. " sahut pria yang kini telah menyandang status sebagai suami Reva.


Setelah selesai dan semua tamu sudah hampir tidak ada, barulah Zidan maju untuk memberi selamat. Zidan menunggu keadaan sepi karena ia takut tak mampu membendung perasaannya.


"Selamat.. Kamu berhak bahagia.. " Zidan menjabat tangan Reva mengucapkan kata itu dengan singkat namun terasa begitu perih didengar oleh Reva.


"Bahagiakan lah Reva, ! " ucap Zidan pada Rama.

__ADS_1


"Tentu "


Namun saat Zidan berhadapan dengan kedua orang tua Reva, kaki Zidan terasa lemas. Pria itu bersimpuh dikaki Bu Heni mencium punggung tangan ibu yang dulu menjadi mertuanya itu. Zidan menangis sungkem terhadap kedua mantan mertuanya.


"Maafkan Zidan, Bu. Zidan banyak berbuat kesalahan pada putri ibu, Zidan tidak bisa menjaganya dengan baik.. " ucap Zidan menangis yang masih bersimpuh dikaki Bu Heni.


"Bangunlah, Nak! Kamu tidak salah, kami sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu meminta maaf.. Ikhlaskan semua yang sudah terjadi, " Bu Heni Sungguh tidak tega melihat Zidan yang begitu rapuh dan menangis seperti itu, beliau membantu Zidan bangkit kemudian memeluk erat mantan menantunya itu.


Setelah selesai dengan Bu Heni, kini Zidan beralih pada Pak Badri. Ia hendak bersimpuh namun dengan cepat Pak Badri menahannya dan langsung memeluknya.


"Jangan menyalahkan dirimu, ini semua takdir dari Allah! Ayah harap kamu bisa ikhlaskan semua yang sudah terjadi.. Kami tetaplah orang tuamu, Nak! "


Pemandangan itu sungguh mengharukan, tamu yang tersisa di sana menghentikan aktivitas makan mereka saat melihat keharuan yang terjadi di atas pelaminan itu. Saat mantan suami datang di pesta pernikahan mantan istri, menampakkan sebuah ketidakrelaannya dan mencoba setegar mungkin menutupi rasa sakitnya.


Mereka yang menyaksikan momen itu tak bisa menahan air mata, mereka juga ikut hanyut dalam suasana haru di ruangan itu.


"Allah, lihatlah betapa besar cinta suamiku pada mantan istri pertamanya itu! Tidakkah Engkau melihat betapa ia terluka menyaksikan pernikahan ini? Kenapa dengan mudahnya Engkau merubah keadaan menjadi seperti ini..“ lirih Fizah dalam hati.


...********...


Setelah acara yang cukup melelahkan itu selesai, Reva saat ini berada dikamarnya untuk mengganti gaun pengantin yang ia kenakan. Dan untuk kedua kalinya ia merasakan menjadi seorang pengantin.


"Dulu kamar ini juga dihias dan dipercantik untuk sebuah pernikahan, dan sekarang kembali dihias tapi bukan lagi dengan orang yang sama.. " kata Reva menatap sekeliling kamarnya dengan tersenyum getir.


"Apa aku salah menikahimu, Reva? Kenapa aku merasa setelah ini hubungan kita akan semakin jauh.. " ucap Rama yang mendengar perkataan Reva barusan.


Rama yang tadinya berniat mengganti pakaian di kamar Reva malah mengurungkan niatnya, ia memilih untuk berganti pakaian di kamar tamu. Sementara Reva langsung melepas semua atribut yang melekat pada tubuhnya dan bergegas mandi.


...--------------...

__ADS_1


"Loh ini manten baru, kenapa masih diluar? Ayo sana masuk! " ucap Bu Heni yang melihat Rama masih bergabung dengan kerabat Reva diluar padahal jam sudaj menunjukkan pukul 11 malam.


"Iya sebentar lagi, Bu. Tidak enak dengan Pakde kalau Rama tinggalin, " sahut Rama.


"Ojo ngono toh, Le! Wes, melebu kono! Nek ngenteni Pakde yo iso sampe subuh neng njobo.. " kata Pakdenya Reva.


[Jangan seperti itu toh, Nak! Sudah, masuk sana! Kalau nungguin Pakde ya bisa sampai subuh diluar ini] "


"Yo wes tak tinggal melebu yo, Pakde.. "


[Ya sudah, saya tinggak masuk ya, Pakde.."]


Rama pun akhirnya masuk ke dalam kamar Reva, namun saat masuk ia sudah mendapati Reva sudah tertidur pulas masih mengenakan hijab instannya.


"Aku tidak akan menyentuhmu sampai hatimu benar-benar siap menerima kehadiranku, aku tahu saat ini dihatimu masih ada dia yang pernah mengisi hari-harimu sebelumnya.. " ucap Rama kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh Reva.


Rama mengambil bantal kemudian tidur diatas sofa dekat ranjang, sebenarnya matanya tak bisa tidur tapi tidak mungkin baginya untuk keluar lagi dari kamar itu. Yang ada pasti keluarga Reva akan bertanya-tanya.


**Note :


- Le/Tole : Biasa digunakan untuk menyebut anak laki-laki dalam Bahasa Jawa.


- Nduk : Biasa digunakan untuk memanggil anak perempuan dalam Bahasa Jawa.


- Pakde : sebutan untuk paman dalam bahasa Jawa.


- Bude : Sebutan untuk Bibi dalam bahasa Jawa.


..........

__ADS_1


Jangan lupa Vote dan komen guys**...


__ADS_2