Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Sindir Halus


__ADS_3

..." Ketulusan seseorang akan terpancar dari matanya. Kebaikannya akan terlihat dari tindakannya dan kebijaksanaannya akan terdengar dari kata-katanya."...


...*...


...*...


Malam harinya Fizah sedang duduk disofa ruang keluarga sambil menonton tv bersama Ghibran yang sedang ada di pangkuannya. Fizah menonton acara tausiya yang ada disalah satu chanel tv muslim yang memang menyiarkan khusus tausiya dan bacaan surah Al-qur'an.


"Apa hukumnya jika seorang suami tidak menggauli istrinya dengan baik? Apakah ia termasuk kedalam perbuatan Zhalim? " Ustadz dalam tv itu mulai membahas tentang masalah suami istri.


"Wajib hukumnya seorang suami menggauli istrinya dengan baik karena hal itu termasuk haknya selain memberinya makan "


Sang ustadz menjeda kalimatnya sebentar lalu melanjutkannya lagi.


" Seorang suami tidak boleh mendiamkan istrinya di atas ranjang selama waktu tertentu, kecuali sang istri melakukan nusyuz (membangkang) tidak taat kepadanya, tidak menunaikan hak suaminya, maka dibolehkan mendiamkannya sampai dia bertaubat, Kalau selama empat bulan suami tersebut belum juga kembali kepada istrinya dan menggaulinya dari qubul, padahal dia mampu melakukannya, tidak pada masa haid dan nifasnya, maka dia disuruh untuk menceraikannya. Tetapi semua itu kembali lagi pada sang istri, apakan ia ridha untuk tidak digauli atau tidak " lanjut ustadz dalam tv tersebut.


Deg...


Bagai terkena hantaman batu besar, Zidan yang tadinya ingin menuju ke dapur langsung terdiam mematung mendengar isi ceramah yang ditonton Hafizah. Meski volume tv tidak terlalu besar tapi masih bisa terdengar ditelinga Zidan dengan jelas.


"Zah !! " panggil Zidan lirih.


"Eh iya Mas? Butuh sesuatu? " kata Hafizah menimpali.


"Eh enggak kok, apa Ghibran udah tidur? " tanya Zidan mendekat.


"Iya Mas baru aja tidur "


"Ya sudah, Mas pindahin dia ke kamar ya. Kamu tunggu disini soalnya Mas mau bicara sebentar " lanjut Zidan yang di angguki oleh Fizah.

__ADS_1


Setelah menidurkan Ghibran dikamarnya, Zidan kembali ke ruang keluarga menemui Fizah. Ia duduk tak jauh dari Hafizah. Lama mereka saling diam dan akhirnya Fizah memutuskan untuk memulai percakapan lebih dulu.


"Mas tadi mau ngomong apa ya, Mas? " tanya Fizah


"Aku minta maaf ya sampai sekarang aku belum bisa memberi hak itu padamu..." kata-kata Zidan terputus.


"Fizah paham kok, Mas. Lagi pula itu haknya Mas mau minta sama Fizah atau enggak. Dan Fizah sebagai istri hanya bisa menjalani kewajiban Fizah " sahut Hafizah seakan mengerti apa yang akan disampaikan oleh Zidan.


"Jujur aku masih belum bisa melakukan itu, aku harap kamu ngerti dengan keadaanku " lanjut Zidan.


"Iya Mas nggak apa-apa, Fizah ngerti kok. " Fizah menjawab dengan senyum seteduh mungkin.


Entah kenapa Zidan merasa aneh dengan dadanya saat melihat senyuman itu. Tapi yang pasti saat ini dia masih belum bisa berpaling dari cintanya pada Reva. Sejak Hafizah menjadi istrinya, semua ia kerjakan dengan baik dari mulai mengurus rumah, Ghibran sampai mengurus kebutuhan Zidan. Tidak pernah 1 hari pun Hafizah mengeluh walau seringkali ia merasa diabaikan oleh Zidan.


Memang Zidan tidak menelantarkannya tetapi sikap Zidan menunjukkan seolah hanya ada Reva yang ada dihatinya menempati posisi sebagai istrinya.


"Kalau boleh tolong beri aku waktu Zah untuk menyiapkan hatiku untuk menerimamu dengan lapang " kata Zidan.


"Iya Mas, Fizah akan menunggu sampai Mas benar-benar siap menerima Fizah.." masih dengan senyum teduh dibibir Hafizah.


"Terima kasih ya Zah "


Setelah pembicaraan itu berakhir Zidan kembali ke kamarnya dan beristirahat, namun tidak dengan Fizah yang sekarang masih terduduk di sofa tadi. Ia nampak menghela nafas berat.


Allah, berikan hamba kekuatan dan kesabaran...


Didalam kamar nya Zidan duduk termenung menatap foto wanita cantik yang sedang tersenyum manis. Senyumnya seakan mengalihkan dunia Zidan, sampai ia enggan berpaling.


Tapi sekarang keadaannya telah berubah, bukan hanya reva yang menjadi istrinya tapi ada Hafizah juga.

__ADS_1


Jika Zidan terus bersikap acuh pada istri keduanya maka sama saja dia tidak bertanggung jawab pada Hafizah yang telah ia nikahi. Sama saja Zidan tidak berlaku adil terhadap istrinya. Terakhir kali Reva mengabarinya ia meminta agar Zidan segera meresmikan pernikahan mereka atau paling tidak memberi hak yang sama terhadap Hafizah.


..................


Di Singapura seorang wanita sedang duduk bersandar diatas ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela entah apa yang sedang dipikirkannya. Kondisi tubuhnya mulai membaik namun akibat dari pengobatan yang ia jalani adalah rambutnya mulai rontok bahkan sekarang sudah sangat tipis.


.


"Kak Reva melamun lagi? " terdengar suara perempuan memanggilnya dan itu adalah Puput.


"Nggak kok Put, cuma lagi liat pemandangan diluar aja " sahut Reva dengan senyum manisnya.


"Kalau kak Reva emang nggak siap menerima keadaan kenapa kakak memaksa kak Zidan menikahi Hafizah? Padahal kakak tahu sendiri sebesar apa cintanya kak Zidan pada kakak " Puput duduk ditepi ranjang menaruh nampan berisi makanan yang ia bawa.


"Aku sudah menyiapkan diri dari awal, Put. Bahkan aku juga sudah menduga apa yang akan terjadi, aku hanya tidak ingin membuat suamiku menahan diri dengan kondisiku " sahut Reva yang kembali menatap kosong ke arah jendela.


"Tapi itu sama saja dengan kakak menjadikan Hafizah sebagai pengganti, lalu apa kak Reva tidak memikirkan apa yang dirasakan oleh Hafizah? " Puput berbicara dengan nada pelan.


"Aku yakin Fizah perempuan yang baik, Mas Zidan akan menyukainya cepat atau lambat. Bahkan putraku sendiri sudah sangat nyaman berada disebelah Fizah, Umma nya sendiri saja ia lupakan " Reva terkekeh kecil kala menyebut putranya.


"Senyaman-nyamannya Ghibran bersama Fizah, tetap saja itu tak akan bisa menggantikan kakak yang notabennya adalah ibu kandung Ghibran yang telah melahirkannya. " tegas Puput.


"Ya aku tahu itu Put, tapi aku hanya ingiin mereka bahagia saat aku tiada " ucapan Reva membuat Puput merasa sedih.


"Ya sudah kalau begitu kak Reva makan dulu ya. nanti kita bicara lagi setelah itu kakak harus minum obata ya " bujuk Puput.


Reva mengangguk dan tersenyum mengikuti perkataan Puput, ia menerima suapan dari tangan Puput. Bukannya Reva bermanja pada sahabatnya itu tapi Puput bersikeras ingin menyuapi Reva setiap kali makan. Puput dan Aisyah dengan telaten merawat Reva disana menunggu sampai keadaan Reva benar-benar pulih. Ya meski terkadang lebih banyak Puput yang menemani Reva, karena Aisyah disibukkan dengan kuliahnya. Dengan keberadaan kedua sahabatnya disini membuat pikiran Reva rileks dan tidak merasa kesepian.


Jika suatu hari nanti Allah berkata aku sembuh apa aku siap melihat kenyataan bahwa suamiku sudah mulai mencintai maduku? Ah apa yang aku pikirkan ini sungguh tida masuk akal. Ini semua kan sudah jadi keputusanku. Apapun itu aku harus siap menghadapinya . gumam Reva yakin.

__ADS_1


__ADS_2