
..."Tersenyumlah dan berhentilah menangis, karena air mata yang engkau teteskan hanya akan membuat kaki ini sulit untuk melangkah."...
...*...
...*...
Keesokan harinya Zidan sedang bersiap untuk sarapan, seperti biasa semua sudah tersaji dengan rapi dimeja makan tetapi yang berbeda adalah kali ini mereka sudah terbiasa memakan masakan buatan Hafizah karena rasa masakannya juga tak kalah enak dari buatan Reva.
Setelah mengambilkan nasi untuk suaminya Reva ikut duduk dan sarapan bersama. Sementara Ghibran sudah disuapi oleh Hafizah.
"Abi kemarin Umma menghadiri acara pengajian di masjid dekat sini " kata Reva memulai pembicaraan.
"Terus? "
"Pembahasannya mengenai poligami, Abi emang nggak mau nambah istri 1 lagi? " celuk Reva.
"Nggak bagi Abi Umma saja sudah cukup " sahut Zidan.
"Tapi nggak apa-apa kalau Abi mau nikah lagi Umma ikhlas kok " ucap Reva.
"Umma tuh kenapa sih dari semalem bahasnya tentang poligami terus, apapun keadaannya Abi nggak akan pernah mau ngeduain Umma!! " tegas Zidan.
"Tapi kan..."
Prang !!!!
Zidan sedikit membanting sendoknya sebelum pergi ia berkata.
"Cukup Umma!! Abi nggak mau bahas tentang ini lagi. Umma benar-benar aneh. Abi berangkat kerja, Assalamualaikum !! " Zidan berlalu begitu saja.
Perkataan istrinya pagi ini berhasil membuatnya yang tak pernah marah hari ini menjadi marah. Sungguh prilaku Reva sejak semalam benar-benar aneh, dimana-mana para istri akan takut dan tak rela jika harus dimadu tetapi Reva malah sebaliknya..
"Ada apa dengan Umma? Apa Umma meragukan ketulusan cintaku hingga ingin mengujiku dengan cara seperti ini? " Zidan terus berkutat dengan pemikirannya.
Zidan berangkat dengan kemarahan kali ini ia pergi tanda dicium tangannya oleh Reva. Bagaimana tidak, Zidan benar-benar tak habis pikir dengan perkataan istrinya pagi ini.
...#####...
Reva yang ditinggal begitu saja dimeja makan hanya bisa tertunduk dan menangis.
__ADS_1
"Maafkan Umma, apa salah jika Umma menginginkan kebahagiaan buat kalian. Umma nggak mau nanti kalian sedih ketika Umma sudah tidak disini lagi.. hiks hiks hiks "
Reva yang sedang menangis pun terlihat oleh Mbok Tuti, segera Mbok Tuti menghampiri majikannya itu.
"Nyonya kenapa menangis disini Nya? " tanya Mbok Tuti.
"Mbok..." lirih Reva lalu berhambur memeluk Mbok Tuti.
Sedangkan Mbok Tuti hanya menatap iba pada sang majikan sambil terus mengusap pundaknya menguatkan Reva agar tidak terlalu bersedih.
"Awh... Aduh " Reva mengeluh sakit memegangi kepala serta perutnya.
"Nyonya kenapa nya? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit aja? " tanya Mbok Tuti khawatir.
"Nggak usah Mbok antar Reva ke kamar aja ya " pinta Reva.
Hafizah yang baru masuk dari halaman belakang bersama Ghibran merasa panik melihat Reva yang dibopong oleh Mbok Tuti seperti itu.
"Astagfirullahalazim, mbak Reva kenapa Mbok? " tanya Hafizah pada Mbok Tuti.
"Mbak nggak apa-apa kok Zah kamu tolong jagain Ghibran aja dulu ya, mbak mau istirahat sebentar dikamar " Reva menyahuti.
"Ya sudah mbak istirahat aja dikamar biar Ghibran sama saya mbak " tutur Hafizah.
...-----------------...
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14:15 Reva terbangun dari tidurnya, segera ia menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu melaksanakan shalat dzuhur. Rasa sakitnya sudah mulai berkurang sekarang.
Setelah selesai dengan shalatnya Reva membaca Al-qur'an sebentar lalu meraih ponsel yang tegeletak diatas nakas. Ia mengirim pesan pada Zidan.
'Assalamualaikum Abi, maaf Umma ketiduran. Abi jangan lupa makan siang ya walaupun Umma telat ngingetinnya "
Namun nihil tidak ada balasan satupun dari zidan yang menandakan bahwa pria itu benar-benar sedang marah saat ini.
Pada waktu sudah memasuki shalat ashar Reva kembali mengambil air wudhu dan melaksanakan ibadahnya, selesai shalat ia kembali merenungi kejadian tadi pagi. Zidan pergi dengan marah dan itu membuat Reva merasa bersalah. Tak mudah membuat suaminya paham akan permintaannya.
Sebuah permintaan yang bisa dikatakan cukup gila dari kebanyakan istri.
Beberapa saat kemudian terdengar suara deru mobil terparkir dipekarangan rumah, Reva sudah bisa menebak siapa itu. Segera ia sambar khimarnya dan turun ke bawah menyambut kepulangan Zidan.
__ADS_1
"Assalamualaikum " salam diucap Zidan ketika memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, Abi sudah pulang " sahut Reva yang langsung menyambut tangan suami nya lalu mencium nya.
"Ini buat Umma maaf ya tadi Abi nggak sempat balas pesan Umma " kata Zidan menyerahkan buket bunga mawar lalu mencium kening Reva.
"Maafin Umma juga tadi pagi membuat Abi pergi dengan keadaan marah " sambung Reva.
Mereka pun kembali berbaikan seperti semula, ya begitu lah Zidan. Ia tak mampu untuk marah pada Reva berlama-lama.
...#######...
"Halo anak Abi lagi main apa sih kok seru banget kayaknya " Zidan menghampiri Ghibran yang sedang bermain bersama Hafizah.
"Ini Abi aunty ajak main tebak-tebakan sulah alfatehah " jawab Ghibran yang sudah berumur 2 setengah tahun tapi ia sudah lancar berbicara karena terus dilatih oleh Hafizah meski masih cedal.
"Wah bagus kalau begitu, lanjutin ya "
"Iya Abi "
Zidan tersenyum melihat kelincahan putranya yang semakin hari semakin pintar. Ternyata dengan adanya Hafizah dapat membantu tumbuh kembang Ghibran dengan baik.
"Fizah, terima kasih ya berkat kamu Ghibran tumbuh jadi anak yang pintar diusianya yang sekarang " ucap Zidan spontan ke arah Hafizah.
"Iya Pak sama-sama. Ini sudah kewajiban saya sebagai pengasuhnya " jawab Hafizah tanpa berani menatap sang majikan.
Bagaimana tidak, posisi mereka saat ini sedang duduk diruang keluarga dan itu hanya ada mereka bertiga saja. Mbok Tuti ada didapur menyiapkan makan malam, sementara Reva masih berada dikamar. Hafizah merasa tidak enak jika posisi mereka seperti itu. Dan tanpa mereka sadari Reva sedang memperhatikan dari lantai atas, Reva tersenyum melihat pemandangan itu.
"Kalian sudah pas menjadi keluarga, apapun alasannya kamu harus siap menerima permintaanku ini Abi " kata Reva.
Reva menghapus air matanya dan mulai menuruni tangga, ia ikut berbaur bersama mereka di ruang keluarga. Walau bagaiman pun Reva harus bersikap biasa saja agar Hafizah dan Zidan tidak curiga kalau ia sengaja mendekatkan mereka berdua.
"Allah, sampai kapan suamiku akan mengerti.. Aku hanya tidak ingin putraku akan kekurangan kasih sayang seorang ibu selepas kepergianku. Aku memohon pada Engkau ketuklah hati suamiku agar bisa menerima permintaanku ini " Reva bergumam dalam hati.
Dia berharap secepatnya bisa mempersatukan Zidan dan Hafizah. Karena ia tahu harapan hidup bagi penderita kanker ovarium tidak akan sampai 10 tahun kedepan.
.
.
__ADS_1
Tidak bosan buat ingetin kalian jangan lupa di like, coment dan vote juga..
Happy Reading..