
Reva beserta kedua orang tuanya pamit pulang dari pesantren, dan tak lupa para sahabatnya mengantar sampai ke tempat parkir mobil. Mereka berpelukan ria dan menangis haru karena akan berpisah untuk sementar.
"Udah kalian jangan nangis gitu dong, aku kan pulang cuma sementara. Nanti aku pasti bakal balik lagi kok " Reva mencoba menghibur ketiga sahabatnya itu.
"Ya kita mana tahu lah kak kapan kak Reva akan balik kesini, pasti bakalan lama ditambah nanti bul... Upz " rengek Putri yang kala itu langsung menutup mulutnya.
"Ditambah apa sih, Put. Ngomong yang jelas deh!! " Reva mengernyit heran melihat ekspresi ketiga teman se-asramanya itu.
"Nggak ada kok Va, maksudnya Puput nanti ditambah lagi harinya kamu nginep dirumahmu.. Ya itu maksudnya " Kata Mega yang mencoba menutupi perkataan Puput yang hampir keceplosan.
"Oh gitu, kalian tenang aja aku nginep cuma 2 hari pasti.. Jadi nggak usah sedih ya " sahut Reva yang mulai bingung melihat ekspresi ketiganya yang seperti terlihat gugup.
Ada apa ya dengan mereka? Kok aneh gitu sih, jangan-jangan ada yang mereka sembunyiin dari aku. Tapi apa? Astagfirullah kok aku jadi su'uzon gini sih..
Pak Badri, Bu Heni dan juga Reva akhirnya telah pergi meninggalkan pesantren. Didalam mobil Reva masih tampal tenang dan tak sedikitpun merasa aneh bahkan ia sangat menikmati perjalanannya menuju rumahnya.
Sementara di pesantren, semua santri dan santriwati sibuk membantu mempersiapkan hantaran yang akan dibawa ke tempat kediaman Reva. Mereka bergotong royong, bahu-membahu menyiapkan keperluan berangkat nanti sore.
.
.
Waktu terasa begitu cepat berlalu dan kini Reva beserta ayah dan ibunya telah sampai dirumah, saat itu keadaan rumah sudah ramai dan terlihat dari depan bahwa ruang tamu itu sudah didekorasi dengan indah. Reva mengernyit heran melihat rumahnya yang begitu ramai.
"Ibu, ini sebenarnya ada acara apa sih? Kok ruang tamu kita didekorasi begitu " tanya Reva kepada ibunya.
"Nanti juga kamu akan tahu sendiri nak, sekarang cepat mandi dan pakai gamis yang baru ibu beli itu ya " sahut Bu Heni.
Reva merasa tak puas dengan jawaban sang ibu, namun ia juga merasa gerah dan memutuskan untuk segera mandi menuruti perkataan ibunya tadi.
__ADS_1
"Eh calon manten, udah cantik aja jam segini. Wajahnya juga kelihatan berseri-seri lho " kata seorang ibu-ibu yang menghampiri Reva.
"Ha? Calon manten? Memangnya siapa ya bu? " tanya Reva tampak bingung dan menoleh kesekitarnya namun tidak ada orang selain dirinya dihadapan ibu itu.
"Ya ampun kamu ini polos banget sih, udah mau nikah kok masih nanyanya gitu. Ya udah saya lanjut bantu-bantu dibelakang dulu ya " ibu tersebut pun pamin dari hadapan Reva.
Apa maksud ibu itu tadi? Siapa yang dipanggil calon manten oleh beliau tadi ya? Duh kok aku jadi deg degan gini sih.. Pokoknya aku harus tanya dengan ibu.
"Bu, bisa kita bicara berdua sebentat? " tanya Reva pada Bu Heni.
"Ada apa sayang? " tanya sang ibu.
"Coba ibu jelasin ke aku maksud ibu-ibu tadi bilang aku calon manten! Sebenernya ini acara apa bu? " tanya Reva lagi dengan lantang.
Bu Heni lantas tersenyum mendengar pertanyaan putrinya itu.
"Nak, apa yang dikatakan ibu itu tadi benar. Hari ini Nak Zidan akan datang untuk ngelamar kamu sayang " jawab Bu Heni sambil mengelus kepala Reva lembutnya.
"Maafin ibu sayang, kami memang sengaja ingin kasih kejutan buat kamu. Dan ini juga permintaan dari Nak Zidan nya sendiri " terang sang ibu.
"Ya udah bu, nggak apa-apa. Reva juga nggak salahin ibu kok.. " Reva menimpali sang ibu berusaha mengeluarkan senyum termanisnya didepan ibunya agar rasa terkejutnya biar ia simpan sendiri.
Ya Allah kenapa pernikahan ini begitu mendadak. Sunggu aku belum mengenal lebih jauh atas calon suamiku itu. Jika pernikahan ini adalah suratan takdir dari-Mu maka hamba akan berusaha ikhlas menerima.
Perlahan air mata Reva mulai mengalir diatas pipinya yang mulus dan membasahi kerudung berwarna navy yang ia kenakan. Reva mengunci pintunya untuk menenangkan hatinya sebentar.
.
.
__ADS_1
.
Setelah berhasil menenangkan hati dan pikirannya dengan beristigfar, Reva kembali membuka pintu kamarnya menuju ke kamar mandi untuk sekedar membasuh muka. Lalu ia mengganti pakaiannya dengan gamis yang baru ibunya belikan kemarin. Riasan wajah nan polos dan bibir berwarna merah muda asli membuat Reva tak perlu lagi dipoles make up yang tebal. Tidak berdandan pun gadis itu sudah tampak cantik.
.
.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam selepas shalat isya, rombongan dari pesantren pun datang dan satu persatu turun membawa bingkisan yang mereka bawa. Dalam rombongan itu pun ada Mega, Aisyah, Puput dan juga Siska yang langsung menghampiri Reva didalam kamarnya.
Tok..Tok..Tokk...
"Assalamualaikum... Reva apa kamu ada didalam? " terdengar suara Mega dari luar kamarnya.
"Waalaikumsalam.. Kalian masuk aja pintunya nggak dikunci kok " sahut Reva dari dalam kamar.
Keempat sahabatnya itu pun masuk setelah mendengar sahutan dari dalam.
"Kak Reva, cantik banget malem ini. Serasi deh sama kak Zidan " Puput memuji penampilan Reva.
"Kalian semua jahat ya, kenapa kalian nggak kasih tahu aku kalau aku dijemput tadi mau dilamar malam ini ha? " sungut Reva.
"Maafkan kami Va, kami cuma nurutin permintaan dari Mas Zidan aja. Katanya biar surprise gitu " sahut Aisyah.
"Tapi kan kalian sahabatku, kenapa kalian tega ngerahasiain ini dari aku. Gara-gara acara dadakan ini jantungku hampir copot tau nggak " Reva kembali cemberut meski keempat temannya itu sudah meminta maaf padanya.
"Duh Reva jangan ngambek gitu dong!! Kalau kita kasih tahu ke kamu namanya nggak surprise dong.. Sini pelukan dulu biar nggak jantungan " kata Siska yang merentangkan tangannya memeluk sahabatnya itu dan disusul juga oleh yang lainnya.
Acara lamaran itu pun akhirnya dimulai dengan kata sambutan dari pak Rt yang mewakili tuan rumah menyambut kedatangan calon besan. Reva kini duduk diantara ayah dan ibunya dengan wajah yang tertunduk. Dia merasa malu karena sejak tadi Zidan selalu memperhatikannya. Meski Reva menunduk tapi ia tahu jika sedang diperhatikan dari sebrang tempat duduknya.
__ADS_1
Acara lamaran tersebut pun berjalan dengan lancar tanpa halangan suatu apapun, rombongan dari pesantren pamit pulang dan tanggal pernikahan sudah ditentukan. Ijab kabulnya akan diselenggarakan pada minggu depan. Masih ada waktu seminggu lagi untuk Reva menikmati masa gadisnya sebelum nanti ia resmi menjadi istri sah Zidan.
Bersambung..