
..." Rasa sakit ini sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Tapi aku sudah terlalu lama merasakannya sehingga aku menganggapnya sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupku." ...
...*...
...*...
Hafizah Pov
Awalnya kukira perempuan yang kuketahui bernama Bianca itu akan berhenti berkata sampai disitu, tapi lama kelamaan dia terus mencecarku, menghujamku sebagai orang ke-3 yang seperti sengaja hadir kedalam rumah tangga Mbak Reva dan juga Mas Zidan. Tapi semakin kesini perkataannya begitu menyakitkan untuk kudengar. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka di sana.
Aku keluar dari tempat acara itu dengan air mata yang sudah tak bisa ku bendung lagi, sakit.. Itulah yang aku rasakan saat ini, kenapa posisiku sebagai istri kedua selalu disudutkan dan dipojokkan. Kenapa orang-orang selalu memandangku sebagai orang jahat yang tak berperasaan tanpa mereka tahu alasan mengapa aku bisa menjadi istri kedua..
Allah.. Kuatkan hatiku ini..
.
Aku duduk dikursi dekat parkiran sambil menangis, sungguh aku tidak bisa lagi menahan kesakitan ini. Dulu kupikir setelah tetangga tidak akan ada lagi yang menghujatku tapi nyatanya hari ini ada seorang perempuan yang tiba-tiba hadir dan berkata seperti itu.
Bianca? Siapa Bianca? Apa hubungannya dengan Mas Zidan dan juga Mbak Reva? Kenapa mereka tidak memberitahukan masalah ini padaku? Lalu siapa statusku dikeluarga mereka hingga aku tidak berhak tahu apapun mengenai teman-teman mereka?
Aku tidak mau berburuk sangka tapi hal ini benar-benar membuatku sakit, apakah selama ini aku memang egois dengan menikahi Mas Zidan?
Bunkankah itu adalah permintaan dari Mbak Reva sendiri? Lalu kenapa aku yang disalahkan begini? Aaarrgghh...
Aku pun hanya bisa menangis tersedu-sedu.
"Fizah! " panggil seorang wanita yang tak lain adalah Mbak Reva.
Aku menghapus kasar air mataku dan menampilkan senyum yang tersirat sebuah kesakitan yang mendalam.
__ADS_1
"Kamu kenapa menangis? Jangan diambil hati ucapan Bianca tadi! " seru Mbak Reva.
"Aku nggak apa-apa kok, Mbak. "
"Jangan bohong, Fizah. Mbak tahu perkataan Bianca tadi telah menyakitimu, maafkan kami belum cerita masalah Bianca.. Sekarang kita tunggu Mas Zidan terus selasain ini di rumah ya, " kata Mbak Reva yang hanya kutanggapi dengan senyum.
Tak berapa lama kemudian Mas Zidan muncul, dia mengajak kami untuk masuk ke mobil dan pulang. Suasana didalam mobil pun hanya ada keheningan tanpa ada yang membuka suara. Hanya terdengar suara deru mobil dan helaan nafas dari kursi kemudi. Aku tahu mungkin kejadian ini sungguh membuat Mas Zidan malu, diacara dia sepenting ini malah ada kejadian yang tak mengenakkan.
Hal itu sedikit membuka mataku agar aku tidak berharap jauh dengan suamiku lebih tepatnya suami kami.
Selama ini aku telah buta akan cinta yang menyelimuti rongga hatiku, kehausan kasih sayang membuatku melayang tidak pada posisiku. Kasih sayang Mas Zidan benar-benar membuatku lupa diri akan posisiku tanpa memikirkan perasaan Mbak Reva yang setiap hari cintanya harus dibagi denganku. Mungkin aku bisa dikatakan serakah karena memang perhatian lebih dari Mas Zidan selama ini.
Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk sampai ke rumah, keadaan rumah sangat sepi dan hening. Sebelum pulang kami menyempatkan untuk menjemput putra putri kami yang tadi kami titipkan ke pesantren. Meski Umi dan Bapak tidak keberatan tapi kami tetap menjemput mereka.
Aku yang menggendong Kia langsung masuk ke dalam kamar untuk menidurkannya, tidak lagi berpamitan atau sekedar permisi pada suami ataupun Mbak Reva. Sungguh aku sudah lelah, aku hanya ingin beristirahat sejenak dari kenyataan dan kepahitan dunia.
.
.
Author Pov
Reva dan Zidan yang baru akan keluar dari mobil terkejut saat Fizah lebih dulu keluar dan langsung masuk ke dalam rumah, mereka tahu saat ini pasti perasaan Fizah sedang tidak baik-baik saja. Setelah mereka menyusul masuk, Fizah terlebih dulu pergi ke kamar menidurkan Kia, maksud hati Zidan ingin menjelaskan namun pintu kamar sudah langsung ditutup oleh Hafizah.
"Fizah, Mas masuk ya? " Zidan mencoba mengetuk pintu kamar Fizah yang tidak ada sahutan sama sekali.
Berulang kali Zidan mencoba mengetuk pintu kamar namun hasilnya nihil, Fizah mengunci pintu itu tanpa mau membukanya.
"Sudahlah, Mas. Beri Fizah waktu untuk menenangkan pikirannya. Saat ini dia butuh waktu, " Reva mengelus punggung suaminya.
__ADS_1
Sungguh wanita itu pandai sekali menutupi segala perasaannya, coba bayangkan bagaimana perasaan seorang wanita jika melihat suaminya membujuk wanita lain dihadapan matanya sendiri. Semua sudah bisa Reva sembunyikan sejak lama, ia hanya memendam duka yang disebabkan oleh cemburu.
"Tapi Fizah pasti saat ini sedang sedih, Umma! "
"Biarkan Fizah untuk malam ini, dia juga butuh waktu. Besok kita akan bicarakan ini dengannya, ini sudah malam sebaiknya Abi tidur! " Reva membujuk Zidan agar mau memberi ruang bagi Fizah untuk menenangkan hatinya.
"Bagaimana denganku, Abi? Apa Abi tidak pernah memikirkan perasaanku yang sedih selama ini? Sakit sekali rasanya melihat suamiku membujuk wanita lain sama seperti membujukku saat aku sedang marah dulu... huhft " Reva hanya bisa bergumam dalam hati.
Reva sudah tak sanggup lagi berdiri membujuk Zidan agar pria itu mau tidur, perlahan Reva juga mundur dan berbalik menuju kamar.
...******...
Keesokan harinya saat semua akan sarapan, suasana masih saja hening. Meski Fizah dan Reva sama-sama menyiapkan sarapan, tidak ada yang bersuara. Hanya ada sapaan selamat pagi dan itu pun sudah dari 1 jam yang lalu.
"Fizah, apa kamu masih marah soal semalam? " tanya Zidan mengawali pembicaraan.
"Nggak kok, Mas. Fizah nggak marah sama sekali, Fizah juga cukup tahu diri dengan posisi Fizah dirumah ini. "
"Maksud kamu apa Fizah? Kenapa bicara seperti itu? " tanya Zidan yang tak mengerti maksud perkataan Fizah tadi.
"Sudahlah, Mas jangan bahas sekarang! Masih ada anak-anak di sini, tidak baik bagi mereka mendengar percakapan orang dewasa seperti kita. Masalah ini bicarakan nanti saja, " sergah Fizah.
Zidan hanya mengangguk dan menghela nafas berat, ia tahu saat ini Hafizah sedang mencoba menghindari topik pembicaraan itu. Baru kali ini Zidan melihat Fizah seperti ini, karena selama ini ia hanya diam tersenyum melakukan semua tugasnya tanpa mengeluh sedikitpun. Padahal diposisi Fizah saat ini tak sedikit orang-orang yang menggunjingnya.
"Maafkan aku, Fizah. Seharusnya kamu tidak menderita seperti ini, seharusnya semalam kamu tidak ikut pergi agar tidak ada yang menyakiti perasaanmu.. Maaf.. " Zidan hanya mampu berucap dalam hati menatap Fizah dan Reva bergantian.
Mereka melanjutkan sarapan dengan tenang tanpa bersuara. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring..
.
__ADS_1
.
Jangan lupa Like, coment, dan vote juga.. Happy Reading..