Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Isi Hati


__ADS_3

..." Tidak akan ada yang tahu tentang apa yang akan terjadi esok hari, karena semua itu sudah jadi rahasia Ilahi "...


...*...


...*...


Pagi itu setelah Zidan berangkat ke kantor, Reva dan Fizah membubarkan diri masing-masing menuju kamar mereka. Reva duduk ditepi ranjang menatap dua foto pernikahan diatas nakas disebelah tempat tidur. Yang sebelah kanan adalah foto pernikahan dia dan juga Zidan, dan disebelah kiri adalah foto pernikahan Hafizah dan Zidan dimana wajah suaminya itu terlihat sangat terpaksa.


"Ya Allah, aku benar-benar berdosa saat itu telah memaksa suamiku karena keegoisanku..Hufft " Reva menghela nafas berat.


Reva keluar dari kamar dan menuju halaman belakang, saat baru menuruni tangga ia melihat Hafizah sedang menuju dapur memegang pakaian kotor.


"Zah, kamu mau nyuci? Kan Mas Zidan udah melarang kamu buat kerja, " Reva menegur Fizah yang membawa pakaian kotor.


"Eh nggak kok, Mbak. Fizah cuma mau taruh aja dibelakang biar Mbok Tuti nggak susah ngambilnya " sahut Fizah.


"Ya sudah kalau begitu, nanti nyusul Mbak ke halaman belakang ya. Ada yang mau Mbak bicarakan sama kamu, " kata Reva.


"Iya Mbak "


Reva berjalan lebih dulu ke halaman belakang, entah apa yang ingin ia bicarakan pada Hafizah nanti. Tapi yang jelas sekarang ia sudah duduk di sofa santai menunggu Fizah.


Fizah yang baru saja menaruh pakaian kotor itu langsung bergegas menemui Reva karena tak ingin ia menunggu lama.


"Mbak mau bicara apa ya? " tanya Fizah saat sampai di halaman belakang.


"Duduklah, Zah. Aku hanya ingin mengobrol santai denganmu, rasanya sudah lama kita tidak bicara setelah aku pulang " sahut Reva.


Sejenak Reva menghela nafas perlahan kemudian memulai pembicaraan serius dengan Fizah.


"Zah, maafkan Mbak ya karena keegoisan Mbak kamu jadi tidak bahagia waktu itu... Mbak tahu pasti saat itu masa yang sangat sulit untuk kamu dan Mas Zidan.. "


"Mbak nggak perlu minta maaf karena Mbak nggak salah sama sekali, harusnya Fizah yang minta maaf karena tidak bisa menjaga batasan antara Fizah dan Mas Zidan, " Fizah menggenggam erat tangan Reva.


"Kenapa kamu harus menjaga batas dengan suamimu sendiri? Mbak justru senang saat tahu bahwa kalian saling menerima.. Berbahagialah Fizah, bahagiakan juga Mas Zidan! Berilah dia semua yang tidak bisa aku berikan padanya.." Reva tersenyum tulus meski hatinya saat ini sedang menjerit.


"Apa yang Mbak katakan? Kita berdua sama-sama istrinya Mas Zidan, kita akan membahagiakannya bersama, membina rumah tangga kita dengan damai, Mbak. "


Reva tersenyum mendengar hal itu.


"Aku juga ingin begitu, Zah. Tapi aku juga tidak tahu sampai berapa lama bisa menahan perasaanku, " gumam Reva dalam hati.


Mereka pun melanjutkan obrolan sambil menikmati teh hangat yang disuguhkan oleh Mbok Tuti. Fizah menceritakan bagaimana ia mendidik Ghibran saat tidak ada Reva. Dan hal itu membuat Reva semangat untuk mendengarkan.

__ADS_1



.


"Bahkan anakku sendiri lebih dekat dengan maduku sekarang.. Aku tak masalah jika harus berbagi kasih sayang suamiku, tapi kenapa harus kasih sayang anakku juga.. huft... Allah biarkan aku ikhlas "


Selesai mengobrol, mereka masuk ke kamar masing-masing. Fizah saat ini sedang duduk dibalkon kamar sambil mengusap lembut perutnya.


"Sehat terus ya sayang Bunda.. Sampai bertemu 3 bulan lagi.. " ucap Fizah yang mendapat respon tendangan kecil dari perutnya.


...........


3 bulan berlalu terasa begitu cepat, Fizah sedang menantikan hari perkiraan lahirnya yang diperkirakan akan lahiran 2 hari lagi.


Tapi malam itu Fizah sedang di dapur mengambil minum, tiba-tiba saja ia merasa perutnya mulas membuatnya memegangi perut dan berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar.


Belum sampai ke kamar rasa sakit itu makin menjadi.


"Awwwsshh... Aduh kenapa dengan perutku.."


"To... Tolong.. Mas, Mbak tolong Fizah " Hafizah berusaha memanggil semua orang yang mungkin saja sudah terlelap dalam tidur masing-masing.


Reva yang masih terjaga diatas ranjang seperti mendengar teriakan minta tolong dan segera membangunkan Zidan.


Karena Zidan masih belum bangun juga, akhirnya Reva memutuskan keluar kamar untuk memastikan dari mana suara itu berasal. Saat ia sudah mau menuruni tangga, Reva melihat Fizah terduduk dilantai sambil memegangi perutnya.


"Astagfirullahalazim, Fizah kamu kenapa? Ya Allah kamu mau lahiran ini.. Sebentar ya Mbak bangunkan Mas Zidan " sebelum kembali ke kamar, Reva terlebih dahulu membantu Hafizah untuk duduk disofa.


"Sakit Mbak.." lirih Fizah.


"Kamu sabar ya, "


Reva berlari menuju kamar dan segera membangunkan Zidan untuk mengantar Reva ke rumah sakit.


"Abi bangun, itu Fizah sudah mau melahirkan. Cepat bawa dia ke rumah sakit!! "


"Apa!! " Zidan yang tadinya masih menikmati tidurnya langsung membuka mata dan bangun.


"Iya Mas cepat kita bawa dia ke rumah sakit! " tanpa berlama-lama lagi Zidan langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan meraih kunci mobil.


"Fizah kamu sabar ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit. Atur nafas kamu ya, " Reva mencoba menenangkan Hafizah.


"Mbak, sakit... Aku nggak kuat " kata Fizah lirih.

__ADS_1


"Kamu kuat, Zah! Kamu harus bisa ya! "


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai dan Hafizah langsung dibawa ke ruang bersalin.


"Abi sebaiknya ikut masuk menemani Fizah lahiran, berikan dia kekuatan! Dia butuh Abi saat ini, " kata Reva.


"Umma nggak apa-apa sendiri di sini? " tanya Zidan nampak ragu.


"Umma nggak apa-apa, yang terpenting saat ini adalah Fizah! Sudah sana Abi masuk!! " Reva mendorong tubuh Zidan secara perlahan menyuruhnya masuk menemani Fizah.


"Apa ini yang kulakukan? Tak ku sangka suamiku juga akan menemani wanita lain melahirkan selain aku.. Huh.... "


...******...


"Mas aku nggak kuat. sakit, Mas!! " Fizah mengerang menahan sakit yang menderu tubuhnya.


Ya saat ini ia sedang berjuang melahirkan anak pertamanya bersama Zidan.


"Kamu kuat, Sayang! Ada Mas di sini, kamu pasti bisa!! " Zidan menggenggam erat tangan Fizah menyalurkan kekuatan untuknya.


"Ayo Bu atur nafasnya dan tekan sekali lagi... Ya bu terus bu.." Dokter terus memberi intruksi untuk Fizah.


Dan tak lama kemudian suara tangis bayi memecah keheningan dalam ruangan itu. Fizah berhasil berjuang melahirkan anak pertama mereka.


"Terima kasih, Sayang. Cup " Zidan mengecup puncak kepala Fizah setelah ia berhasil berjuang.


Sementara di luar ruangan seorang wanita nampak cemas menunggu, namun setelah mendengar suara tangis bayi hati Reva merasa lega.


............


**Gimana guys? Garing ya?


Maaf ya soalnya aku tuh kurang konsentrasi.. hehe


Sebenarnya aku mau up semalam, tapi berhubung ada gangguan teknis jadi baru up pagi ini. Nanti kalau nggak males aku akan up lagi..


sedikit bocoran**...


***Hati Reva sedikit mencelos ketika melihat sebuah pemandangan yang begitu harmonis. Zidan, Fizah dan Ghibran nampak sangat bahagia menyambut kelahiran putri kecil itu...


Dah segitu aja dulu hehe.


Happy Reading***

__ADS_1


__ADS_2