
..." Tak selamanya mulut dan hati sejalan. Kadang saat hati menangis ada senyuman untuk menutupinya. Kadang, kita memang harus melepaskan orang yang kita cintai, demi menjaga hati agar tetap bisa bertahan walau sakit."...
...*...
"Sayang, bangun yuk kita mandi! " ajak Reva membangunkan Zahwa.
"Masih antuk Umma, nanti aja mandinya.. " sahut Zahwa.
"Nanti tidurnya dilanjut di mobil aja, mau ikut Umma nggak? " kata Reva.
"Mau, tapi kita mau pelgi kemana? "
"Kita mau pulang ke tempat Mbah di kampung, Adek pengenkan lihat ibu sama ayahnya Umma? " bujuk Reva.
"Iya udah Awa bangun deh, tapi Umma mandiin Awa ya!! " pinta gadis kecil itu.
Pagi ini selepas shalat subuh, Reva berniat untuk kembali ke tempat kelahiran nya. Itupun Rama yang membujuk nya dan meyakinkannya. Setelah berpikir panjang akhirnya Reva mau untuk pulang kembali mengunjungi orang tuanya. Ya, dia hanya mau mengunjungi orang tuanya saja, karena cepat atau lambat Zidan pasti akan memberitahukan pada mereka bahwa Reva masih hidup.
Setelah selesai membantu Zahwa bersiap, mereka menghampiri Rama yang sedang memanaskan mesin mobil.
"Assalamualaikum, selamat pagi Abuya! " ucap Zahwa sambil menenteng tas kecil miliknya.
"Waalaikumsalam, wah sudah cantik aja ya.. Sudah siap berangkat nih? " sahut Rama.
"Sudah donk, Umma juga sudah cantik dan kita siap belangkat.." ucap Zahwa diiringi cengiran khasnya.
Rama menatap Reva sejenak yang memang terlihat cantik setiap hari, lalu keduanya tersenyum saat pandangan mereka bertemu.
"Ya Allah, bagaimana aku tidak jatuh cinta jika setiap hari melihat senyum indahnya.. Eh Astagfirullahalazim, sadar Rama sadar.. " gumam Rama dalam hati.
"Ayo kita berangkat.. " ajak Rama kemudian langsung memasukkan semua koper mereka ke dalam mobil. Mereka pun segera menuju kampung halaman.
Sepanjang perjalanan dihiasi oleh celotehan Zahwa yang terus bernyanyi dan bershalawat, anak itu tidak mau berhenti bercerita bahkan bertanya sampai Reva sendiri merasa jengah.
__ADS_1
Sampai akhirnya anak itu tertidur dengan sendirinya.
"Akhirnya tidur juga... Huft.. " Reva menghela nafas berat kemudian membenarkan posisi tidur Zahwa.
"Kalau tangan kamu pegal Zahwa pindahin ke kursi belakang saja, " seru Rama.
"Nggak ah nanti kalau dia bangun nggak lihat aku yang ada malah nangis, kamu kan tahu sendiri " sahut Reva.
Perjalanan pun mereka lanjutkan dengan keheningan, hanya terdengar suara deru mobil menghiasi pendengaran mereka.
Tak butuh waktu lama akhirnya Reva juga ikut tertidur dengan menyandarkan kepalanya didekat jendela mobil sambil terus mendekap putri kecilnya.
"Andai saja dulu kita bertemu lebih awal, mungkin kamu tidak akan merasakan sakitnya dimadu.. " Rama tersenyum simpul mengelus pipi gembul milik Zahwa.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya kini mereka sudah tiba di halaman rumah orang tua Reva. Tidak ada sedikit pun yang berubah disana, namun keadaan rumah itu tampak sepi sekali. Rama segera membangunkan Reva dan membantu mengangkat Zahwa terlebih dahulu.
"Sini biar aku gendong Zahwa, soal koper nanti aku aja yang bawa setelah kita masuk, " ujar Rama.
Kemudian mereka pun berjalan masuk dan tibalah di teras rumah milik Pak Badri dan Bu Heni.
"Assalamualaikum, " salam diucap Reva.
"Waalaikumsalam, ya tunggu sebentar! " sahutan dari dalam.
Tak lama kemudian knop pintu bergerak dan pintu pun terbuka, muncu seorang wanita paruh baya yang selama ini selalu Reva rindukan.
"Assalamualaikum, Ibu. "
"Wa... Ya Allah Reva!!! Ini beneran Reva anak ibu? Ibu nggak lagi mimpi kan? " Sungguh Bu Heni benar-benar terkejut melihat orang yang ada dihadapannya.
"Iya bu ini Reva, " Reva merentangkan tangan kemudian memeluk Bu Heni dengan erat.
"Masya Allah, Nak. Jadi kamu selamat dari kecelakaan waktu itu? "
__ADS_1
"Iya Bu Alhamdulillah.."
"Ya Allah, Alhamdulillah... Pak... Bapak cepat kemari Pak!!! Lihat siapa yang datang!! " ibu memanggil pak Badri yang sedang berada di kamar.
"Ono opo toh, Bu? Kok yo... Masya Allah, Reva!! " belum selesai Pak Badri menggerutu karena teriakan istrinya, beliau terkejut melihat putri satu-satunya ada dihadapannya.
"Nanti aja terkejutnya, Pak! Biar mereka masuk dulu. Ayo mari masuk, Nak! " ucap Bu Heni.
Reva mengikuti langkah Bu Heni masuk ke dalam rumah dan diikuti oleh Rama yang masih menggendong Zahwa.
"Ini nak Rama kan? Kalian kok bisa bareng? " tanya Bu Heni yang menyadari keberadaan pria disebelah Reva.
"Iya, Bu. Jadi Rama inilah yang sudah menolong Reva waktu itu.. " sahut Reva.
"Ya Allah, terima kasih ya, Nak.. Ayo tidurkan dulu anaknya didalam kamar.." seru Bu Heni lagi.
Rama menidurkan Zahwa di salah satu kamar kemudian keluar untuk mengangkat koper milik Reva di mobil.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa selamat waktu itu, Nduk? Bukankah mobil yang kamu naiki itu masuk ke dalam jurang? Lalu anak itu tadi anaknya siapa? " tanya Bu Heni.
"Mbok yo nanya itu satu-satu toh, Bu! Reva nanti bingung mau jawab yang mana.. " kata pak Badri.
"Jadi waktu itu Reva terpental keluar dari mobil saat mobil yang Reva naiki hendak masuk ke jurang. Dan saat Reva tidak sadarkan diri, Rama lah yang membawa Reva ke rumah sakit. Saat itu Reva pulang dari rumah sakit habis periksa, ternyata dalam perut Reva waktu itu sudah ada janin yang tumbuh. Dan Alhamdulillah kami selamat, Bu, Pak.. " jelas Reva.
"Masya Allah, Nduk.. Ternyata itu cucu ibu sama bapak toh? Lalu kemana kamu setelah sembuh dan melahirkan, Nduk? " ucap Pak Badri.
"Selama ini Reva menetap di Bandung, Pak. Waktu itu Rama sudah mau bawa Reva pulang ke sini, tapi karena Reva masih trauma jadi Reva menunda kepulangan Reva. Disana Reva membangun rumah singgah untuk anak-anak jalanan.."
Pak Badri dan Bu Heni tak kuasa menahan air mata mereka, sungguh pilu nasib yang di alami oleh putri tunggalnya ini. 2 kali ia harus diuji dengan cobaan yang begitu besar dalam hidupnya tetapi tidak pernah sedikit pun Reva mengeluh atau mengadu pada orang tuanya.
Reva dan Bu Heni melanjutkan obrolan di dapur sambil memasak untuk makan malam, sementara Pak Badri dan Rama mengobrol di ruang tamu menceritakan bagaimana Rama menemukan Reva yang saat itu baru mengalami kecelakaan sampai ia bertahan hidup.
Tetapi Rama tidak menceritakan semuanya, karena Rama juga tak ingin orang tua Reva tahu jika Reva tak pulang selama 5 tahun ini karena ada hal yang membuatnya pergi jauh waktu itu. Sungguh Pak Badri selalu mengucapkan rasa syukur dan terima kasih pada Rama yang telah berbaik hati menolong putrinya.
__ADS_1
"Saya akan selalu berusaha menjaga Reva, Pak. Saya juga tidak rela jika harus melihat Reva menangis lagi.. " gumam Rama dalam hati.