
..." Rasa sesak kian menyeruak, kucoba menggenggam erat tapi hanya rasa sakit yang kudapat. Ajarkan aku bagaimana caranya melupakan.. Lupa akan rasa sakit yang semakin mencabik-cabik.."...
...*...
Dua bulan berlalu pasca melahirkan, kini Fizah disibukkan dengan kegiatan mengurus putri kecilnya. Meski terkadang ia merasa kerepotan tapi Fizah masih menyempatkan diri untuk mengurus rumah yang ditinggali oleh keluarga kecil mereka.Kelahiran Zaskia Anastasya membuat suasana rumah sedikit berbeda, ya nama bayi mungil yang baru dilahirkan Fizah adalah 'Zaskia Anastasya'. Semenjak Kia lahir suasana rumah menjadi sedikit ramai dengan suara tangis bayi, tubuhnya yang gembul, pipinya yang tembam seperti bakpau membuat siapapun pasti akan gemas melihatnya.
Begitupun dengan Zidan dan juga Ghibran yang setiap hari seolah tak mau jauh dari putri kecil yang menggemaskan itu. Terlebih Ghibran yang setiap saat selalu mengajak Kia mengobrol seakan tak ada batasan saudara tiri. Fizah dan Zidan sepakat untuk membuat hubungan Ghibran dan adik sambungnya seperti saudara kandung.
Sore itu Zidan, Fizah dan juga Ghibran sedang duduk di ruang keluarga sambil bermain dengan Kia yang Fizah geletakkan ditengah-tengah mereka. Saat ini mereka sedang berlesehan diatas karpet yang sangat terasa nyaman.
Reva baru saja pulang dari kesibukannya di kedai, saat ia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah hatinya mencelos melihat sebuah pemandangan yang begitu membuat hatinya bergejolak. Pemandangan sebuah keluarga yang harmonis terlihat didepan matanya, Zidan, Ghibran dan Hafizah tertawa riang bermain dengan putri kecil mereka.
"Assalamualaikum, " salam diucap Reva membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Waalaikumsalam, baru pulang Umma? " tanya Zidan tersenyum tulus pada istri pertamanya.
"Iya, kalian lagi pada ngapain ini? " Reva menghampiri Ghibran yang sedang asik mengajak adiknya bicara.
"Umma dari mana aja sih kok baru pulang? Setiap hari Umma selalu pelgi pulangnya sore, untung ada Bunda Fizah yang nemenin abang dirumah. "
Deg...
Perkataan putranya itu begitu menyentil dihati Reva, sesibuk itukah dia sampai anaknya sendiri tidak ia perhatikan?
__ADS_1
"Maafkan Umma ya, Sayang. Besok Umma janji akan ajak abang jalan-jalan. Abang mau kan? " Reva mencoba merayu Ghibran.
"Nggak mau, besok abang udah janji sama Bunda Fizah buat main di taman. Lain kali aja ya pergi sama Umma nya, kata Abi janji itu adalah hutang jadi abang nggak mau punya hutang sama Bunda dan adek Kia, " ucap Ghibran dengan polosnya.
Reva hanya menanggapinya dengan tersenyum, tapi percayalah hatinya kembali merasa sakit saat mengetahui bahwa putranya lebih memilih untuk bersama madunya.
"Ya udah kalau gitu Umma ke kamar ya, lanjutin mainnya sama adek. Jangan nakal ya, Sayang. Jangan ngerepotin Bunda! " Reva pamit dan mengecup pipi Ghibran kemudian ia beranjak menuju kamar.
Fizah yang melihat raut wajah Reva yang seperti itu merasa tak enak hati, dalam hati Fizah akan membujuk Ghibran agar mau menemani Reva besok.
"Mas, sebaiknya kamu temui Mbak Reva sana! Dia butuh kamu " kata Fizah berucap pada Zidan.
"Ya sudah Mas ke atas sebentar ya..." Zidan beranjak dari duduk nya sambil mengecup puncak kepala Fizah kemudian menuju lantai atas dimana kamar dia dan Reva berada.
"Sakit... Lebih sakit dari penyakit yang aku derita waktu itu.." Reva berucap lirih dengan air mata yang terus mengalir.
Reva yang terhanyut dalam tangisnya tak sadar jika Zidan sudah berada di dekat pintu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Umma..." panggil Zidan lalu menutup pintu kamar itu.
Reva yang merasa dipanggil langsung buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum menyambut kedatangan Zidan di situ.
"Ya, Abi. Ada apa? " Reva menyahuti dengan senyum yang coba ia tampilkan.
__ADS_1
"Apa Umma baik-baik saja? " tanya Zidan.
"Iya Umma baik, memangnya kenapa Abi bertanya seperti itu? " Reva mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya.
"Apa Umma sedih karena Ghibran nggak mau pergi dengan Umma besok? " tanya Zidan yang kini sudah duduk disebelah Reva.
"Nggak kok, Umma nggak apa-apa lagi pula kan sama saja kalau Ghibran pergi sama Fizah atau pun Umma. "
"Beda! Jelas itu berbeda! Ghibran butuh kamu, dia butuh perhatian dari kamu! Jangan terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri Umma! Ghibran juga butuh kasih sayang dari ibu kandungnya!! " ucap Zidan yang mampu membuat Reva terdiam.
"Kenapa?! " tanya Reva yang menurut Zidan terasa ambigu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu tidak mau bertanya apa alasanku menyibukkan diri di kedai? " perkataan Reva terjeda dan ia menarik nafas panjang.
"Abi tidak tahu apa alasannya, tapi yang jelas kamu sudah banyak berubah!! "
"Aku berubah? Bukankah kamu yang berubah, Mas? Aku menyibukkan diriku seperti ini karena aku tak sanggup jika kamu terus mengabaikanku!! Setiap kali aku membutuhkanmu kamu selalu mementingkan Fizah, ya aku tahu bahwa aku yang menyuruhmu menikahi dia. Tapi jangan lupa jika aku istrimu juga !! Mana keadilan yang kamu ucapkan beberapa waktu lalu itu mana Mas? " Reva berkata dengan lantang, ia sudah tak sanggup menahan segala sesak yang bersarang didalam dadanya.
"Selama beberapa bulan ini kamu terlalu sibuk dengan madumu itu sampai kamu lupa bahwa disini juga ada aku.. Bahkan putraku sendiri lebih merasa nyaman dengan ibu sambungnya dari pada aku.. Kenapa kamu tidak adil Mas?? Hiks hiks hiks..." pecahlah sudah tangis Reva.
"Aku terlalu sibuk dengan Fizah itu semua karena kamu!! Kamu sendiri yang membangun tembok diantara kita, sehari-hari kamu sibuk dengan urusan kedai. Bahkan saat aku pulang kerja, kamu tidak ada dirumah menyambutku seperti Fizah.. Setiap kali aku ingin menghabiskan waktu denganmu kamu selalu saja membuat alasan!! Itu salah kamu sendiri Reva!! " Zidan pun tak kalah gentar mengutarakan isi hatinya.
Ya, memang Reva selalu memilih menghabiskan waktunya di kedai ketimbang berdiam dirumah. Rasanya rumah itu terlalu asing baginya, sesak selalu ia rasakan saat melihat suaminya bermesraan dengan perempuan lain meskipun itu atas keinginan Reva sendiri. Menyesal? Tentu saja, tapi itu semua terlambat dan tak akan mungkin waktu terulang kembali. Sekarang Reva mulai sadar bahwa apa yang ia lakukan selama ini salah, ia bahkan memilih untuk menghindar daripada menghadapi kenyataan.
__ADS_1
Hatinya belum cukup kuat menwrima semua yang sedang terjadi, bibirnya berkata ikhlas namun sulit dengan hatinya yang masih belum terbiasa dengan hal itu..