Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Biarkan seperti ini


__ADS_3

..."Allah tahu seberapa dalam luka dihatimu, dan yakinlah Allah pasti akan menujukkan keadilan untuk menyembuhkan luka dihatimu "...


...*...


...*...


Semenjak Fizah hamil, Zidan tak pernah lupa untuk membuatkan susu untuk Fizah. Bahkan Hafizah dilarang untuk bekerja yang berat-berat bahkan Zidan rela menambah asisten rumah tangga lagi.


Sementara Reva, apakah dia merasa iri? Ya jelas karena sewaktu Reva hamil dulu Zidan tak pernah semanis itu.


Tapi semua perasaan iri itu ia tepis dan buang jauh karena tak ingin kebahagiaan suaminya rusak.


Bahkan saat ini usia kandungan Fizah sudah memasuki usia 5 bulan. Zidan seolah tak sabar ingin bertemu anak yang masih berada dalam perut itu. Apalagi Ghibran yang sangat antusias menyambut kelahiran sang adik.


Dalam waktu beberapa bulan ini Zidan sepakat untuk membagi malam bersama kedua istrinya, 2 malam dikamar Reva dan 2 malam selanjutnya dikamar Fizah. Tapi akhir-akhir ini Zidan selalu ingin berada didekat Fizah.


"Assalamualaikum anak, Abi. Lagi ngapain didalam sana? Jangan nakal ya sayang diperut, Bunda! " begitulah kalimat yang selalu Zidan ucapkan saat pagi dan malam hari.


Hari itu Fizah sedang berada di taman belakang, entah kenapa ia sangat suka menghabiskan waktu di sana. Ghibran sudah mulai masuk TK jadi keadaan rumah akan sepi, apalagi Reva yang akhir-akhir ini selalu sibuk mengurusi kedainya. Fizah merasa sangat bosan terlebih ia tidak diperbolehkan untuk memegang peralatan dapur atau beres-beres. Semua itu Zidan yang melarangnya.


Fizah berdiri di taman belakang untuk berjemur, karena kalau kata dokter matahari pagi sangat bagus untuk tubuh kita. Sambil berjemur, ia juga sesekali menggerak-gerakkan tubuhnya meregangkan otot yang kaku, Fizah juga bershalawat untuk mengisi keheningan yang ada.


Shalaatullaah Salaamu llaah


'Alaa thaaha rasuulillaah


Shalaatullaah salaamu llaah


'Alaa yaa siin habiibillaah


'Alaa yaa siin habiibillaah


Shalaatullaah Salaamu llaah


'Alaa thaaha rasuulillaah


Shalaatullaah salaamu llaah

__ADS_1


'Alaa yaa siin habiibillaah


'Alaa yaa siin habiibillaah


Tawassalna bibismi llaah


Wabil Haadi Rasulillaah


Wakulli mujaahidin lillaah


Bi ahlil badri yaa Allaah


Bi ahlil badri yaa Allaah


Sedang asik bersenandung, tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Orang itu adalah Zidan. Fizah yang terkejut berusaha melepas pelukannya itu.


"Ssstt biarkan sesaat seperti ini, Mas hanya ingin memelukmu, Humairahku! " perkataan Zidan berhasil membuat Fizah diam tersipu malu.


Mereka berdua hanyut dalam dekapan yang salung menghangatkan satu sama lain. Tanpa mereka sadari ada satu hati yang sedang terbakar didalam rumah, ya itu adalah Reva. Dia baru saja pulang dari kedai dan melihat mobil Zidan terparkir rapi di depan rumah, ia bergegas mencari keberadaan suaminya itu yang ternyata sedang ada di taman belakang sambil berpelukan dengan madunya.


"Sakit... Kenapa begitu sakit.." tak terasa air matanya mulai mengalir seperti air sungai yang begitu deras.


Benar apa yang pernah dinasehatkan oleh Umi Zulfah waktu itu, tidak mudah bagi seorang perempuan dimadu dan harus berbagi suami. Mulut bisa berkata ikhlas tapi hati belum tentu sepenuhnya ikhlas, apalagi melihat orang yang kita cintai memeluk orang lain.


Karena tak ingin mengganggu Reva segera balik ke kamarnya untuk mengistirahatkan hati dan pikirannya. Reva duduk ditepi ranjang sambil membaca catatan pemasukan kedainya. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan itu adalah Zidan.


"Umma kok di rumah? Bukannya tadi bilang mau ke kedai? " tanya Zidan saat masuk ke dalam kamar.


"Iya tadi memang ke sana, tapi sekarang udah pulang karena cuma mau ambil buku pemasukan aja " jawab Reva tanpa embel-embel Umma dan Abi.


Zidan duduk di samping Reva kemudian merangkulnya, menyandarkan kepala istrinya pada dada bidang itu. Tanpa berlama-lama Reva langsung membalas rangkulan itu dengan erat, sungguh saat saat seperti ini yang sangat ia rindukan.


"Ada apa, Sayang? Umma ada masalah? " tanya Zidan yang merasa aneh dengan istrinya ini.


"Nggak kok, Umma lagi pengen peluk Abi saja sebentar. Boleh kan? "


Zidan tak menjawab namun hanya mengeratkan pelukannya, perlahan ia tatap wajah Reva yang sangat cantik menurutnya. Zidan mencium kening Reva sangat lama kemudian menyusuri setiap inci dari sang pemilik wajah.

__ADS_1


"Abi menginginkannya, apa Umma bersedia memberikannya? " tanya Zidan saat hendak melepas kerudung yang menutup kepala Reva.


Reva tersenyum dan mengangguk " Iya, Umma bersedia. "


Kemudian Zidan mulai membuka kerudung Reva dan seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya. Mereka pun berhubungan suami istri dan saling menunjukkan cintanya masing-masing.


"Umma sangat rindu saat seperti ini bersamamu, Abi " bisik Reva yang membuat Zidan makin bersemangat.


"Abi akan menebus kerinduan itu, sayang " balas Zidan memulai penyatuan tubuh keduanya.


******


Setelah selesai dengan aktivitas yang sedikit menguras keringat, Zidan berbaring di sebelah Reva. Dia melingkarkan tangannya pada tubuh istrinya. Zidan menelusupkan wajahnya dibahu Reva.


"Sudah lama ya Bi rasanya tidak seperti ini.. " ucap Reva.


"Iya, Sayang. Maafin Abi ya terlalu sibuk dengan pekerjaan jadi nggak bisa membagi waktu untuk Umma dan Ghibran " sahut Zidan.


"Bukan cuma pekerjaan, tapi kamu juga sibuk dengan madu kamu, Mas " gumam Reva dalam hati. Ingin sekali rasanya ia ungkapkan secara langsung tapi lidahnya terasa berat untuk mengucapkannya.


"Abi mandi duluan ya soalnya mau antar Fizah beli susu, susu dia sudah habis soalnya " Zidan bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari Reva.


"Baru sebentar aku merasakan kehangatan kamu setelah sekian lama, Mas. Tapi sekarang kamu sudah mau pergi lagi.. " Reva menangis dalam diam, tubuhnya masih berbalut dengan selimut diatas kasur.


Zidan sudah selesai dengan mandinya dan terlihat sudah rapi, ia menghampiri Reva yang nampak memejamkan mata lalu mengecup dan membelai lembut kepalanya.


"Istirahat ya, sayang! Abi keluar sebentar " ucap Zidan lalu keluar dari kamarnya.


Sementara Reva hanya bisa diam dang mendengar perkataan suaminya itu dengan berpura-pura tidur. Ia tak mau kesedihan dan kecemburuannya terlihat oleh Zidan. Reva mencoba sebaik mungkin untuk menyembunyikan perasaannya.


Tak ingin berlama-lama dalam perasaan sedih, Reva juga bangkit dan segera menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya.


....


Segitu dulu ya guys soalnya lagi moodyan mau nulis. hehe


jangan lupa Like, Komen, dan Vote juga ya guys... Biar semangat aku tuh nulisnya hehe..

__ADS_1


**Kedepannya kalian mau gimana nih.. Aku ikut alur kalian deh supaya kalian senang hehehe"


Happy Reading**..


__ADS_2