Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Kamu sakit?


__ADS_3

..." Tiada yang lain lagi selain harapan yang mungkin akan berubah menjadi kenyataan "...


...*...


...*...


2 hari berlalu sejak kepulangan Reva, selama 2 hari itu pula Zidan tidur di kamar Reva. Terkadang Fizah juga merasa diabaikan dan merasa kesepian kalau malam. Tapi semua itu ia tahan sendiri tanpa berani mengungkapkan perasaannya.


Pagi itu Reva dan Zidan sudah ada dibawah dan telah duduk dikursi meja makan, sementara Hafizah belum turun juga.


"Humairahku mana ya, tumben kok belum turun? " tanya Zidan saat ia sudah siap menyantap sarapannya.


Hati Reva terasa sedikit nyeri ketika mendengar Zidan menyebut kata 'Humairahku' lagi.


"Mungkin Fizah lagi mandi, Mas. Umma panggilin dulu ya " kata Reva kemudian beranjak menuju kamar Hafizah.


Air mata Reva tiba-tiba saja menetes tanpa meminta izin yang punya. Bohong jika Reva tidak cemburu ketika mendengar suaminya memanggil perempuan lain dengan panggilan mesra begitu.


Saat Reva sudah sampai didepan kamar Hafizah, segera ia ketuk pintu itu namun tidak ada jawaban.


Tok tok tok...


"Zah, kamu didalem? Ayo turun kita sarapan! " Reva memanggil-manggil Fizah namun tidak mendapat jawaban apapun.


"Zah, kamu nggak apa-apa kan? Mbak masuk ya "


Reva perlahan membuka pintu kamar Hafizah yang ternyata tidak dikunci. Matanya menatap sekeliling namun hasilnya nihil, tak ada Fizah disana sampai ia mendengar suara orang muntah-muntah dari dalam kamar mandi.


Hueek.... huueekk..


"Fizah, kamu didalem ya? Ini Mbak, kamu nggak apa-apa kan? " Reva mengetuk pintu kamar mandi milik Fizah.


Sementara didalam kamar mandi,


"Itu suara Mbak Reva, aduh aku jadi telat turun gara-gara perutku mual " gumam Fizah dalam hati.


"Iya Mbak sebentar " sahut Hafizah dari dalam.


Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Fizah muncul dengan wajah pucatnya.


"Kamu kenapa, Zah? " Kok mukanya pucat gitu, sakit? " tanya Reva sambil meletakkan punggung tangannya didahi Fizah.

__ADS_1


"Nggak kok, Mbak. Fizah baik-baik aja kok, tadi cuma nggak enak perut aja " jawab Fizah.


"Ya sudah sekarang kita turun ya, Mas Zidan udah nungguin dari tadi dibawah " ajak Reva.


Fizah mengangguk dan mereka pun turun kebawah untuk sarapan.


"Kamu kenapa, Rah? Kok pucat begitu mukanya, kamu sakit? " tanya Zidan.


"Nggak apa-apa kok, Mas. Fizah baik-baik aja, maaf turunnya telat " sahut Fizah.


"Ya sudah ayo kita sarapan " ajak Reva kemudian mereka menduduki kursi masing-masing disisi Zidan.


Suasana tampak begitu tenang sampai akhirnya, perut Fizah kembali bergejolak saat mencium bau semur ayam dihadapannya.


"Maaf Mas, Mbak, Fizah permisi ke toilet sebentar " Fizah bangkit dari duduknya dan berlari kecil menuju kamar mandi.


Huuwek.... Hueek..


Fizah muntah lagi di kamar mandi dekat dapur, ia tidak memuntahkan isi perut tapi hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Entah kenapa hari ini dia merasa begitu mual apalagi mencium bau ayam tadi.


"Fizah kenapa ya kok muntah-muntah gitu? Sebentar ya, Bi. Umma cek dulu " Reva menyusul Fizah yang masih muntah dikamar mandi.


"Ya Allah, Fizah kamu kenapa? " Tanya Reva yang langsung memijat pundak Fizah agar ia merasa baikan.


"Sekarang bagaimana? Udah merasa baikan? Atau kita pergi ke dokter aja periksa? " tanya Reva merasa khawatir.


"Nggak Mbak nggak usah, nanti baikan kok " tolak Fizah.


"Ya sudah kamu duduk aja di kursi temani Mas Zidan, Mbak buatkan air jahe hangat dulu buat kamu " kata Reva menuntun Fizah menuju meja makan.


"Maaf ya Mbak jadi ngerepotin "


"Udah nggak apa-apa, kamu nggak usah sungkan sama Mbak. Dulu juga Mbak seperti kamu pas lagi hami..." seketika kalimat Reva terhenti.


"Eh tunggu tunggu! Kamu nggak lagi hamil kan, Zah? " lanjut Reva.


"Eh nggak lah Mbak nggak mungkin.." Fizah menyangkal pertanyaan dari Reva.


"Kamu hamil, Zah? " tanya Zidan yang muncul dari arah meja makan.


"Nggak kok Mas " elak Fizah.

__ADS_1


"Udah udah sekarang kamu duduk aja dulu ya, biar Mbak buatin air jahe sebentar. Setelah sarapan kita ke dokter. Abi temani Fizah ya " kata Reva kemudian berlalu ke dapur.


Reva menuju ke dapur dan segera mengupas jahe untuk membuatkan secangkir wedang jahe hangat untuk madunya itu. Ia bekerja dengan pikirannya yang melayang.


Apa mungkin Fizah hamil? Ya Allah kenapa hatiku sakit.. Aku harusnya senang kan "


Setelah selesai Reva membawa wedang jahe hangat itu untuk segera diminum Hafizah.


"Ini Zah kamu minum dulu biar perutnya anget! " kata Reva.


Tanpa berlama-lama Fizah meminum wedang jahe tersebut dan memang terasa hangat diperut dan rasa mualnya sedikit berkurang.


"Pokoknya setelah ini kita pergi ke dokter ya, sekalian kita jemput Ghibran di pesantren " ucap Zidan.


"Tapi aku beneran nggak apa-apa kok, Mas " sahut Fizah.


"Udah, Zah. Nurut aja kata Abi, takutnya nanti ada apa-apa sama kamu. Kita khawatir lhi lihat kamu seperti tadi, " sambung Reva.


Akhirnya Hafizah hanya mengangguk tak berani untuk membantah, mereka melanjutkan sarapannya tadi yang tertunda. Fizah hanya memakan roti dengan selai coklat, karena saat ini perutnya masih belum bisa diajak kompromi. Fizah tampak tidak berselera untuk makan nasi, bukan ia tak suka masakan Reva tapi akhir-akhir ini perutnya selalu tidak enak jika berhadapan dengan nasi.


Selesai sarapan Hafizah dan Reva bersiap-siap untuk pergi ke dokter memeriksakan kondisi tubuh Fizah sekaligus menjemput putra kesayangan mereka yaitu Ghibran yang sejak 2 hari yang lalu menginap di pesantren.


"Sudah siap, Zah? " tanya Reva saat keluar kamar bersamaan dengan Fizah.


"Iya Mbak sudah "


"Sekarang kita turun yuk ! " ajak Reva.


Kedua perempuan itu sudah cantik dengan mengenakan baju dengan warna yang senada, bukan disengaja bahkan mereka tak menyadari hal itu.



"Sudah siap? " tanya Zidan pada kedua istrinya yang sekarang sudah ada dihadapannya.


Kedua wanita itu mengangguk bersamaan kemudian mereka bertiga langsung keluar rumah menuju mobil. Zidan hari ini sengaja meminta izin untuk berangkat siang hanya untuk menemani kedua istrinya itu. Apalagi mendengar Fizah yang sejak pagi muntah-muntah, ia sangat merasa khawatir terjadi apa-apa pada istri keduanya itu.


Zidan duduk dikursi depan kemudi, sementara Hafizah dan Reva duduk dikursi belakang dengan posisi Reva terus memijat pundak Fizah , Reva takut jika Fizah akan kembali merasa mual diperjalanan. Zidan tersenyum didepan saat melihat Reva begitu perhatian dengan madunya.


Alangkah bahagianya hamba ya Rabb, melihat kedua istri hamba saling memperhatikan seperti ini.. Jagalah keharmonisan keluarga kami..


.

__ADS_1


.


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya guys


__ADS_2