
Reva tertidur usai meluapan segala emosinya dengan menangis. Sedangkan Zidan yang sudah berada didepan rumah langsung masuk ke dalam rumah mencari istrinya, setelah ia masuk sudah ada Reva yang meringkuk diatas kasur sedang memegang secarik kertas ditangannya. Zidan mendekati tempat tidur itu dan melihat isi dalam kertas tersebut.
Seketika matanya membulat dan mulai berkaca-kaca meilihat laporan bahwa Reva dinyatakan positif hamil. Tetapi ia juga meerasa sedih dan juga bersalah melihat wajah istrinya yang tampak sembab itu. Ada perasaan sakit yang timbul melihat wanita yang sedang mengandung anaknya itu terlihat begitu menyedihkan.
"Maafin mas sayang, kenapa kamu nggak bilang dari awal? " kata Zidan lirih sambil mengusap kepala istrinya itu.
Karena merasa kepalanya dipegang, Reva terbangun dan berusaha membuka mata yang sudah sangat sembab itu.
"Mas udah pulang? Maaf ya mas aku tadi pulang duluan terus ketiduran " kata Reva berusaha menutupi kesedihannya.
"Nggak sayang kamu nggak salah jadi nggak usah minta maaf, seharusnya mas yang minta maaf sama kamu. Maafin mas ya " kata Zidan.
"Kenapa kamu nggak bilang sih dek kalau kamu sedang hamil? " lanjut Zidan membuat Reva terkejut saat suaminya mengetahui kehamilannya.
"Ehm itu... Tadinya aku mau kasih tau mas tapi setelah mas pulang akunya malah ketiduran, maaf ya mas " kata Reva mencari alasan.
Zidan hanya menatap Reva dengan lekat, matanya tidak beralih dari wajah cantik istrinya itu. Reva yang ditatap jadi salah tingkah dan merasa malu dilihat seperti itu.
"Ada apa mas natap aku seperti itu? " tanya Reva.
Bukannya menjawab tapi Zidan malah menarik Reva kedalam pelukannya dan isak tangis pun terdengar.
"Sayang maafin mas, mas nggak jujur dari awal sama kamu, mas benar-benar bodoh nggak bisa buat kamu bahagia maafin mas " Zidan sesenggukan dalam posisi masih berpelukan.
"Mas kenapa minta maaf, kan sekarang mas bisa jelasin semuanya. Belum terlambat kok mas " ucap Reva sambil mengusap pundak suaminya itu.
"Mas akan jelasin semuanya sama kamu sekarang, mas akan jujur tentang masa lalu mas sebelum bertemu sama kamu " kata Zidan melepas pelukannya dan menatap Reva.
"Bianca memang pacar mas sewaktu kita masih sama-sama kuliah disini, tetapi karena orang tua kita pengen kita lanjutin kuliah diluar negeri jadi kita terpaksa berpisah dan ditambah lagi bapak sama ummy nggak merestui hubungan mas sama Bianca. Itulah yang membuat kita sama-sama bertahan selama 2 tahun terakhir, mas juga sudah terlanjur menaruh hati sama dia dan terpaksa kita menjalani hubungan jarak jauh... Tapi 5 bulan terakhir dia nggak ada kabar dan mas balik ke pesantren terus ketemu sama kamu " jelas Zidan.
__ADS_1
Deg...
Hati Reva seketika seperti tertusuk duri.
"Jadi mas anggep aku ini apa? Pelarian dari kekasih mas yang menghilang nggak ada kabar itu? Jadi mas selama ini nikahin aku nggak ada perasaan sama aku? Lalu kenapa mas buat aku nyaman dan minta aku hamil? " tangis Reva pecah, ia mengeluarkan segala unek-uneknya dalam hati.
"Maafin mas dek maaf...."
"Aku pikir mas memilih aku karena mas punya perasaan sama aku, tapi ternyata aku salah... Aku terlalu berharap dan kamu tega memperlakukan aku seperti ini mas " kata Reva dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Maafin mas dek, mas nggak bermaksud untuk menjadikanmu pelarian.."
"Lalu apa? Pelampiasan? Kamu jahat mas kamu jahat !! Hiks hiks hiks " tangis Reva semakin menjadi dan membuat Zidan merasa sangat pilu.
"Untuk saat ini tolong tinggalin aku sendiri mas, aku pengen sendiri dulu aku perlu waktu.. Aku mau pulang ke pesantren!! " Reva berkata sambil menyeka air matanya.
"Mas tenang aja, aku nggak akan bilang kok sama ummy.. Aku cuma butuh waktu untuk menenangkan pikiranku " kata Reva.
Zidan berpikir sejenak dan kemudian mengangguk menyetujui permintaan istrinya itu, bagaimanapun juga ia tidak bisa memaksakan istrinya untuk terus berada dirumah menerima kenyataan pahit ini.
...*****...
Tok..tok..tok..
" Assalamualaikum " Reva mengetuk pintu asrama yang dulu ia tempati bersama para sahabatnya itu.
"Waalaikumsalam " sahutan dari dalam terdengar dan pintu terbuka.
"Reva, kamu main kesini lagi? Ayo masuk " kata Siska.
__ADS_1
Reva melangkahkan kakinya untuk masuk, namun ia langsung memeluk Siska dan menangis sesenggukan membuat kedua orang sahabatnya yang masih duduk menjadi bingung.
"Ada apa Va? Kenapa kamu nangis gini? " tanya Siska yang nampak bingung dengan tingkah Reva.
"Kak Reva ada masalah ya? Cerita kak sama kita jangan nangis seperti ini. Kami bingung jadinya " sahut Puput yang menghampiri Reva dan Siska.
"Aku boleh kan nginep disini, aku kangen soalnya sama kalian " jawab Reva menyeka air matanya.
"Boleh dong, kamar ini selalu terbuka untuk kamu " ucap Mega mengusap pipi sahabatnya itu.
"Ini kak minum dulu biar lebih tenang " Puput menyerahkan segelas air putih untuk Reva.
"Makasih ya kalian udah mau nampung aku... Saat ini aku lagi pengen ngabisin waktuku sama kalian " kata Reva setelah meminum air tadi.
"Kamu tuh ngomong apa sih Va, kita ini udah jadi saudara jadi jangan sungkan kalau kamu mau nginep disini. Tapi suami kamu tahu kalau kamu akan menginap disini? " tanya Mega.
Bukannya menjawab tapi Reva malah meneteskan air matanya lagi kala mendengar kata suami, sikap Reva yang seperti itu malah makin membuat Siska, Puput, dan Mega semakin bingung.
Reva yang mereka kenal ceria dan tegar hari ini terlihat sangat rapuh dan meneteskan air mata. Ketiga sahabatnya itu tidak bertanya lagi namun langsung memberi pelukan hangat untuk Reva.
"Udah Va jangan nangis seperti ini, kalau ada masalah itu cerita siapa tahu bisa mengurangi beban dibenak kamu. Tapi kalau kamu memang belum siap cerita lebih baik sekarang istirahat ya " Siska mencoba untuk menenangkan Reva.
Reva yang mendengar saran dari sahabatnya itu pun mengangguk dan beristirahat sejenak membaringkan dirinya diatas kasur yang dulu ia tempati. Tak butuh waktu lama Reva pun tertidur karena merasa lelah dalam perjalanan dan juga efek beban pikiran yang sedang ia tanggung.
Siska, Mega dan Puput hanya menatap sedih melihat Reva yang kelihatan seperti tak berdaya itu.
"Sebaiknya kita jangan ganggu dia dulu, biarkan dia istirahat. Sepertinya Reva sedang ada masalah " kata Mega.
Puput dan Siska mengangguk dan memilih untuk duduk didepan asrama melanjutkan hapalan mereka. Mereka merasa tidak tega jika harus memaksa Reva untuk bercerita langsung mengenai masalahnya. Mereka berharap semoga ketika Reva bangun bisa membuatnya jauh lebih tenang dan tidak merasa sedih lagi. Itulah persahabatan mereke, jika ada salah satu dari mereka yang terkena masalah pasti yang lain juga akan ikut merasa sedih.
__ADS_1