Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Menyelesaikan masalah II


__ADS_3

"Lalu apa alasan Mas memilihku untuk dijadikan istri? Apa mas punya sedikit saja rasa cinta untukku? " tanya Reva yang membuat Zidan terdiam.


"Mas benar-benar minta maaf dek, awalnya mas memang belum memiliki rasa apapun terhadapmu. Tapi mas sangat mengagumimu sejak awal pertemuan pertama kita.." kata Zidan lirih.


"Mas tahu apa yang lebih menyakitkan dari goresan pisau? Yang lebih menyakitkan dalam hidup aku adalah ketika aku mencintai seseorang dengan tulus tetapi orang yang kucintai hatinya sudah jadi milik orang lain. 20 tahun lebih aku menjaga hatiku, jiwa dan ragaku hanya untuk suami masa depanku tapi ketika aku memiliki suami ternyata suamiku sudah lebih dulu mencintai orang lain...Hiks hiks hiks "


"Kenapa kamu nggak jujur sama aku dari awal mas? Kenapa kamu menutupi kebenaran sebesar ini dari aku istrimu? Apa salahku padamu mas? Aku sudah menjalani tugasku sebagai seorang istri yang baik tapi kenapa rasa sakit yang menjadi balasan atas ketulusanku ini mas? " Reva menangis meluapkan rasa sakitnya.


"Maafin mas dek, ini salah mas yang nggak berani jujur sama kamu dari awal... Mas nggak bisa lihat kamu tersakiti dengan kejujuran mas..." sambung Zidan.


"Lalu apa ini mas? Apa menurut mas kejadian ini tidak menyakiti aku? Apa dengan adanya Bianca akan membuatku tidak merasa sakit hati? Hiks hiks hiks "


"Maafin mas dek maaf.. Mas janji akan mengakhiri segala hal tentang Bianca. Mas janji akan merubah semua kesakitanmu ini menjadi kebahagiaan untukmu sayang.." Zidan berjongkok dihadapan Reva menggenggam tangannya.


Reva menghapus air matanya dan beralih menatap Zidan.


"Baiklah mas, aku akan beri kamu waktu untuk menyelesaikan semua urusanmu dengan Bianca. Setelah itu aku bersedia memaafkanmu " kata Reva.


"Terima kasih sayang terima kasih... Mas janji akan segera menyelesaikannya.." Zidan terlihat sangat senang tetapi saat ia hendak memeluk istrinya, Reva malah mundur dan menghindar.


"Maaf mas aku nggak bisa.. Lebih cepat kamu selesaikan urusanmu maka akan lebih baik untuk kita " ucap Reva lalu pergi meninggalkan Zidan dengan posisi tangan yang masih terentang.


Reva berlari menuju ke asrama tempat dimana ia selama ini tidur, tetapi belum sampai ke tempat tujuan tiba-tiba kakinya tersandung dan Reva kehilangan keseimbangan kemudian ia terjatuh dengan kepala menghantam batu.


"Astagfirullahalazim, REVA !!! " teriak seorang laki-laki dari arah masjid.


Mendengar laki-laki itu berteriak membuat semua orang yang ada dilingkungan pesantre menoleh ke arah tatapan laki-laki tersebut.


Ternyata laki-laki tersebut adalah salah satu teman masa kecil Reva yaitu Bagas.


Melihat Reva yang sudah jatuh pingsan dengan cepat Bagas berlari dan mengangkat tubuh Reva.


"Kak Reva, kakak kenapa kak? " Puput yang juga melihat pun ikut khawatir.

__ADS_1


"Kamu temannya? " tanya Bagas pada Puput.


"Iya Mas saya temannya " jawab Puput.


"Ya sudah kalau begitu kamu ikut aku antar dia ke rumah sakit!! " sambung Bagas.


"Iya mas ayo cepat "


Bagas dan Puput langsung menggotong tubuh Reva masuk kedalam mobil dan menuju ke rumah sakit. Sementara santri lain yang melihat kejadian itu langsung bergegas melaporkannya pada Pak Kyai dan Zidan.


"Assalamualaikum Pak Kyai... Pak "


"Waalaikumsalam, ada apa Gus? Kenapa buru-buru seperti itu? " tanya Pak Kyai.


"Itu pak, .... Mbak Reva... Dia jatuh didekat masjid " kata Agus dengan nafas ngos-ngosan karena lari.


"APA? Kenapa dia bisa jatuh? Lalu diman dia sekarang? " tanya Pak Kyai.


"Tadi sudah dibawa ke Rumah Sakit sama teman mbak Reva dan seorang pria Pak " jawab Agus.


"Iya pak kyai "


Pak Kyai yang merasa panik langsung mengabari Umi Zulfah dan juga Aisyah, mereka bergegas berangkat ke rumah sakit setelah mendapat telpon dari Puput di hp Aisyah tadi. Sementara Zidan yang baru mendapat kabar dari Agus langsung syok dan merasa tak percaya.


Zidan benar-benar khawatir dengan kondisi istrinya itu dan segera menyusul ke rumah sakit juga.


"Assalamualaikum, " Pak Kyai mengucap salam ketika sampai di depan ruang UGD.


"Waalaikumsalam Pak Kyai, Umi, Aisyah " jawab Puput yang kala itu sudah bercucuran air mata.


"Bagaimana keadaan Reva sekarang Put? Apa dia baik-baik saja? " tanya Umi Zulfah.


"Dia masih diperiksa oleh dokter Umi.."

__ADS_1


"Bagaimana kejadiannya tadi, kenapa Reva bisa sampai terjatuh seperti itu? " tanya Aisyah.


"Aku juga tidak tahu waktu aku sampai kak Reva sudah jatuh pingsan dan untungnya ada mas ini yang nolongin " jawab Puput seraya menunjuk ke arah Bagas.


"Terima kasih ya nak kamu sudah menyelamatkan menantu saya..." kata Pak kyai mendekati Bagas yang terlihat memijat pangkal hidungnya.


"Iya pak sama-sama, lagi pula itu sudah kewajiban saya sebagai sahabatnya untuk menolong " jawab Bagas.


"Sahabat? Memangnya kamu sudah kenal sama Reva?? " tanya Pak Kyai.


"Iya pak, sebelumnya perkenalkan nama saya Bagas. Jadi Reva adalah sahabat saya sejak kami masih kecil, tadi saya kebetulan sedang ada pekerjaan di area pesantren dan melihat Reva jatuh tadi " jelas Bagas.


"Oh kalau begitu saya benar-benar harus terima kasih padamu nak Bagas "


"Iya pak sama-sama "


Tak lama setelah mereka berbincang akhirnya dokter keluar dari ruang UGD dan mencari keluarga pasien.


"Dokter bagaimana kondisi Reva saat ini? " tanya Bagas saat melihat dokter keluar.


"Anda ini bagaimana, seharusnya sebagai seorang suami anda harus lebih memperhatikan kondisi tubuh istrinya. Untung saja ibu Reva cepat dibawa kesini, kalau tidak janin yang ada didalam perutnya tidak bisa diselamatkan !! " kata sang Dokter pada Bagas yang membuat semua orang disitu tercengang.


"Maaf dok tapi saya bukan suaminya..." sanggah Bagas.


"Oh kalau begitu bilang pada suaminya untuk lebih memperhatikannya lagi. Usahakan untuk tidak membuatnya tertekan dan stres karena berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan bayinya. Kandungannya terbilang masih lemah jadi harus ekstra hati-hati !! " kata dokter lagi.


"Baik dok terima kasih.. Kalau begitu apa kami boleh melihatnya? " sambung Bagas.


"Boleh tapi nanti setelah kami pindahkan ke ruang perawatan dan ingat ya pak jangan membebani ibu Reva dengan hal yang membuat kondisi mentalnya tertekan!! " ucap Dokter memperingatkan lagi.


"Terima kasih dok..."


Aisyah, Puput, dan Umi Zulfah hanya saling berpelukan dan menangis karena mereka tahu apa yang menyebabkan Reva sampai jadi tertekan saat itu. Sementara Pak Kyai hanya terdiam melihat menantunya sedang bersiap untuk dipindahkan. Sementara Bagas ikut membantu para perawat mendorong bangkar yang menjadi tempat tidur Reva ke ruang rawat inap.

__ADS_1


Mereka hanya bisa berdoa untuk kesehatan Reva dan bayi yang sedang dikandungnya.


__ADS_2