
"Abi, ayo sini kejar Adek! Hahaha" teriak gadis kecil bernama Zahwa yang saat ini genap berusia 7 tahun.
Saat ini gadis itu sedang bermain bersama Abi nya di halaman belakang, canda tawa mereka terdengar nyaring mengisi seluruh rumah.
"Adek, hati-hati nanti jatuh lhho! " teriakan itu berasal dari wanita cantik yang sedang duduk mengawasi mereka bertiga bermain, ya siapa lagi kalau bukan Reva.
Zidan tak lupa mengabadikan momen tersebut untuk ia simpan diponselnya, sejak dulu Zidan memang suka sekali mencuri kesempatan untuk memotret Reva ala-ala candid begitu.
....................
Reva Pov.
Di sinilah aku, di rumah yang dulu menjadi tempat tinggal kami bertiga ditambah maduku bersama anaknya. 2 tahun berlalu aku dirujuk kembali bersama Mas Zidan, saat itu setelah Mas Zidan mengalami kecelakaan kondisinya sangat memprihatinkan.
Kedua matanya divonis oleh dokter akan mengalami kebutaan untuk sementara dan juga kelumpuhan pada kakinya. Keadaannya benar-benar membuat kami sangat terpukul apalagi putriku, Zahwa. Dialah yang setiap hari merengek minta menemani Abi nya di rumah sakit sepulang sekolah.
Mas Zidan juga waktu itu sempat koma selama 2 minggu, selama itu pula Zahwa dan Ghibran selalu mengajaknya bercerita meski yang diajak cerita tidak dapat merespon sama sekali. Tetapi keyakinan kedua anak itu justru mampu membuktikan bahwa doa anak yang shaleh pasti akan terkabul, Mas Zidan akhirnya sadar dari koma.
Jika kalian bertanya kenapa aku bisa kembali rujuk dengan Mas Zidan, lalu bagaimana dengan Rama?
Kejadian itu bermula saat Rama melihat Zahwa yang terus menangis melihat Abi nya ditambah lagi waktu itu Zahwa mempunyai keinginan untuk meluangkan waktu bersamaku dan juga Mas Zidan, hanya kami berempat ditambah Ghibran. Hal itu membuat Rama tak tega melihatnya. Tetapi rujuk setelah talak 3 juga ada aturan dalam agama kita.
Flashback On.
Malam itu tepat 2 bulan usia pernikahanku dengan Rama, kami sempat terlibat argumen mengenai masalah rujuk bersama Mas Zidan. Aku sendiri tidak tahu kenapa Rama bersikeras agar aku rujuk kembali bersama nya.
"Reva, aku ingin kita berpisah! " kata Rama begitu kami sudah berada didalam kamar.
"Apa maksud kamu, Rama? Bukankah kamu menginginkan pernikahan ini? Lalu kenapa kamu ingin berpisah? " tanyaku yang tidak mengerti.
"Aku tidak sanggup menjalani pernikahan ini lagi, Va! Dan saat ini perusahaan ku mengalami kebangkrutan, mungkin setelah ini aku tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan kalian! " suara Rama semakin meninggi.
"Apa alasanmu hanya itu? Aku siap menerima kamu walau dengan keadaan apapun, Rama! " ucapku.
"Tidak, aku tidak bisa,Reva! Kamu sendiri masih mencintai dia. Aku Tidak ingin mendapatkanmu dengan cara yang tidak baik!! Kembalilah pada Zidan!! "
__ADS_1
"Tidak semudah itu untuk kembali, Ram! Ada aturan dan syarat tertentu yang harus dipenuhi!! "
"Aaaaarrrggghhh... " Rama terlihat sangat frustasi dan wajahnya memerah seperti menahan amarah. Tak lama kemudian ia pergi keluar entah kemana dan baru kembali pada pukul 2 dini hari.
...πΈπΈπΈπΈ...
Aku sangat takut saat Rama pergi dengan keadaan marah seperti itu, aku takut terjadi hal buruk padanya. Dari wajahnya sudah jelas terlihat ada sebuah beban berat yang ia pikul.
Pada saat jam menunjukkan pukul 2 dini hari, aku mendengar suara mobil terparkir dan aku yakin itu Rama. Baru saja aku mulai menggelung rambut hendak memakai jilbab, terdengar suara pintu kamarku digedor dengan sangat keras.
"Reva buka pintunya!! Cepat buka pintu!! " teriak Rama sambil terus menggedor pintu.
Tanpa memakai hijabku akhirnya aki segera berlari untuk membukakan pintu takut jika Rama ada apa-apa.
"Astagfirullahalazim, Rama! Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kamu mabuk? " tanyaku terkejut melihat kondisinya seperti itu.
Sekilas Rama menatap mataku, pandangan kami bertemu. Bahkan jarak wajah kami begitu dekat, seulas senyum terpancar diwajahnya.
"Cantik, " katanya sambil menyingkirkan anak rambut diwajahku.
Malam itu aku menyerahkan hak yang sudah semestinya Rama dapatkan sejak malam pertama dipernikahan kami. Walau bagaimanapun dia suami halalku, aku tidak bisa terus menghindar dari kewajibanku. Meski air mata itu perlahan menetes.
...ππππ...
Rama Pov
Ruang Kerja.
Pagi hari aku terbangun pukul 5 pagi, aku melihat Reva disampingku tidur dengan lelap. Aku mengingat kejadian semalam yang baru saja kami lewati, malam yang seharusnya menjadi momen malam pertama kami.
"Maafkan aku, Reva... Aku terpaksa melakukan ini dengan alasan yang tidak mungkin aku beritahu.. " gumamku dalam hati.
Aku sungguh menyesali perbuatanku tadi malam, aku memaksa Reva melakukan hubungan denganku tanpa meminta izin darinya dulu. Setelah ini bagaimana aku bisa menghadapi Reva setelah kejadian semalam.
Aku bergegas bangun dan kembali memakai celanaku, aku juga mengambil baju gantiku dan berniat mandi di ruang kerjaku agar tidak menganggu tidurnya.
"Maaf, Reva! Maaf... "
__ADS_1
................
Author Pov
.
Satu jam setelahnya Reva bangun dari tidurnya, ia melihat sekitar tak ada siapapun. Matanya mencari keberadaan Rama, seingatnya Rama semalam tidur setelah melakukan ibadah berdua dengannya. Dengan segera Reva beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat turun ke lantai bawah, ia sudah melihat kedua anaknya berada dimeja makan untuk sarapan tapi orang yang ia cari bahkan tidak ada disana.
"Kemana Rama pergi? " pertanyaan itu muncul dibenaknya.
"Selamat pagi, Sayang.." sapa Reva pada kedua anaknya.
"Pagi Umma, tumben bangun siang, Umma? " tanya Zahwa yang memang tahu kebiasaan Reva selalu bngun subuh tetapi hari ini ia bangun sudah pukul setengah 7.
"Emm kalian lihat Abuya nggak? " tanya Reva.
"Bukannya masih tidur ya, Umma? Dari tadi kami belum lihat.. " sahut Ghibran.
Mendengar jawaban mereka membuat Reva semakin bertanya kemana perginya Rama. Apakah ia marah?
Sejak kejadian itu Rama selalu pulang larut malam dan pergi pagi, jika hari libur ia akan menghabiskan waktunya di ruang kerja atau mengajak Zahwa dan Ghibran pergi tanpa mengajak Reva.
Reva sendiri bingung dengan perubahan sikap Rama waktu itu, sampai suatu waktu Rama berkata sebuah kejujuran bahwa ia sudah mencintai wanita lain dan berniat menikahinya. Itu sungguh membuat hati Reva terluka. Kenapa ia harus mengalami luka yang sama, bahkan kembali harus berbagi suami?
Rama meminta izin dari Reva untuk menikah lagi tetapi Reva tidak menyetujuinya.
"Aku sudah mencintai wanita lain, Va! Dan aku berniat menikah dengannya, aku meminta restu darimu! " ucap Rama dengan nada datar tanpa menatap Reva.
"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah kamu tahu bahwa aku tidak ingin lagi dimadu? kenapa sekarang kamu berubah? " tanya Reva.
"Tapi ada alasan kenapa aku menikahinya, dan kurasa kamu cukup mengerti.. Kami saling mencintai.."
"Kalau begitu lepaskan aku, Ram! Dan menikahlah dengan wanita yang kau cintai itu!! " ucap Reva lalu pergi meninggalkan Rama sendirian di kamar.
Flashback Off..
__ADS_1