Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Aku Jadi Imamnya


__ADS_3

..."Pada akhirnya nanti kau akan mengerti setelah semua yang terjadi, meski ada yang tidak menyenangkan hati. Tapi begitulah cara Tuhan untuk menunjukkan kebaikan yang tersembunyi "...


...*...


...*...


...Hafizah Khoirunnisah...


.......


Setelah selesai mandi, kini Hafizah sudah duduk lagi diatas tempat tidur. Zidan duduk ditepi ranjang memegang sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


"Makan dulu ya habis itu kita bicara " bujuk Zidan.


"A-aku nggak laper mas " sahut Fizah dengan kepala tertunduk.


"Kamu harus makan, Zah! Mas tahu kalau kamu dari tadi belum makan. Makan ya biar mas suapin " Zidan menyodorkan sendok berisi nasi ke mulut Hafizah.


Mau tidak mau Hafizah menurut dan memakan makanan itu, sedikit canggung memang tapi Hafizah juga tidak bisa menolak suapan itu karena tubuhnya juga butuh makanan untuk mengembalikan energinya.


"Sudah mas, Fizah udah kenyang " katanya setelah 5-10 suap sudah dihabiskan.


"Beneran udah kenyang? " tanya Zidan memastikan.


Fizah mengangguk dan minum air yang juga sudah disiapkan oleh Zidan.


"Sekarang apa kita sudah bisa bicara? " tanya Zidan yang diangguki oleh Fizah.


"Maaf Mas kalau Fizah buat Mas marah, sebenarnya yang tadi itu adalah bang Aldo. Dia itu anak majikan Fizah sebelum pindah kerja disini. Beliau sudah seperti kakak buat Fizah dan keluarga mereka sudah sering bantuin Fizah mengobati penyakit ibu. Fizah juga nggak tahu kalau bakalan ketemu sama dia, kami tadi kebetulan ketemu didepan toko buku. Karena sudah lama nggak ada kontak jadi bang Aldo cuma nanya kabar Fizah dan ibu. Itu aja Mas nggak lebih " Hafizah mencoba menjelaskan duduk permasalahannya sementara Zidan masih terdiam mencerna perkataan Fizah tadi.


"Maafin Mas ya, Zah. Harusnya Mas dengarin dulu penjelasan kamu, tapi Mas malah keburu salah paham dan dikuasai emosi.. Mas benar-benar menyesal dan minta maaf sama kamu " ucap Zidan penuh penyesalan.

__ADS_1


"huft.... Iya Mas, Fizah juga minta maaf sudah buat Mas marah seperti tadi. "


"Nggak Zah kamu nggak salah, yang salah disini Mas nggak mau dengarin penjelasan kamu terlebih dahulu.. Kamu mau kan maafin Mas?? "


"Iya mas aku maafin " Fizah menampilkan senyum manisnya.


"Sudah masuk waktu shalat ashar, kita shalat yuk " ajak Zidan.


"S-shalat? " Fizah masih belum mengerti perkataan Zidan barusan.


"Iya kita shalat, mas akan jadi imamnya. Kamu ambil air wudhu gih "


"I-iya Mas "


Fizah segera menuju kamar mandi untuk berwudhu, ada debaran aneh didadanya karena untuk pertama kalinya Zidan akan mengimami shalatnya setelah 1 bulan menikah. Mereka pun memulai shalat dengan khusyuk.


"Assalamualaikum warahmatullah "


Selepas salam tak lupa mereka berzikir dan memanjatkan doa pada yang Maha Kuasa.


"Ya Allah ya Tuhan kami, hari ini mahkota paling berhargaku telah kuberikan untuk suamiku... Tapi saat ini aku sedang merasa takut, apakah salah jika aku mulai mencintai suamiku ini? Bagaimana jika perasaanku tak berbalas dan ketika mbak Reva pulang nanti apakah Mas Zidan akan terus mengimamiku dalam shalat? Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, hamba mohon tuntunan dari-Mu.. Tuntunlah Mas Zidan agar bisa berbuat adil terhadap kedua istrinya... " Doa dipanjatkan oleh Hafizah.


"Ya Allah yang Maha pengasih, berkahi dan ridhoi rumah tangga kami. Saat ini hamba memiliki dua istri dan tentu tanggung jawabku akan lebih besar dari sebelumnya..Sembuhkanlah istri pertama hamba yang sedang dalam masa pemulihan, serta bimbinglah hamba agar bisa adil terhadap istri kedua hamba.. Amin " dua insan itu sama-sama memanjatkan doa.


Selepas menunaikan ibadah dan juga berdoa pada Allah SWT, Zidan membalikkan tubuhnya menghadap Fizah dibelakangnya. Ia mengulurkan tangan dan langsung disambut hangat oleh Hafizah, meski masih canggung dan ragu tapi Zidan memberanikan diri untuk mencium puncak kepala istrinya itu.


"Maafin segala sikap Mas selama ini ya Zah... Terima kasih sudah bersedia bertahan dengan sikap Mas yang kadang tidak peduli padamu.. " ucap Zidan.


"Kenapa Mas minta maaf, ini semua bukan salah mas kok. Keadaan yang membuat kita seperti kemarin, mulai saat ini jangan pernah menoleh pada masa lalu. Mas harus bisa menjalani hari-hari seperti biasa, apalagi mbak Reva juga pasti sedang menunggu mas.. Yang Fizah minta hanya keadilan darimu, Mas.. Fizah harap mas bisa bersikap adil terhadap kami, tegur aku jika aku berbuat khilaf ya mas " sahut Hafizah dengan pipi memerah menahan malu.


"Iya Humairahku " ucap Zidan yang langsung memeluk tubuh Hafizah.

__ADS_1


"H-humairah? " tanya Fizah bingung.


"Iya, mulai sekarang mas akan memanggil kamu dengan sebutan itu. Kamu nggak keberatan kan? " kata Zidan.


"Iya mas "


Dan semenjak itulah benih-benih cinta mulai tumbuh diantara kedua insan yang sudah bersatu itu. Zidan sudah mulai menerima Fizah dengan lapang dada berharap setelah ini hubungan mereka akan menapaki sebuah kisah baru yang akan dimulai. Meski pengalaman pertama mereka dimulai dengan insiden salah paham, tapi Zidan sangat menyesali perbuatannya.


Sementara diluar negeri sana, keadaan Reva sudah mulai membaik bahkan tinggal beberapa persen lagi tubuhnya bisa dinyatakan pulih sepenuhnya. Siapa sangka orang yang terkena penyakit yang bisa saja mematikan bisa pulih dan dapat sembuh total. Itu semua adalah Qodarullah, ketetapan baik dan buruk itu hanyalah milik Allah.


Reva berjuang keras agar bisa pulih, rasa rindu terhadap Ghibran sang anaklah yang membuatnya semangat apalagi rindu akan suaminya.


"Kak, kata dokter beberapa minggu lagi kakak bisa dinyatakan sembuh total " ujar Puput saat setelah menemui dokter yang menangani Reva.


"Alhamdulillah kalau dokter memang berkata seperti itu, ini semua karena Allah mengabulkan doa-doa kita " balas Reva.


"Makanya kakak harus semangat terus.. Aku dan Aisyah akan selalu bersama kakak sampai kakak pulih " ucap Puput langsung berhambur memeluk Reva sang sahabat.


"Terima kasih ya, kalian sudah mau direpotkan untuk merawatku disini.. Sampai kapanpun ini nggak akan aku lupain.. Entah bagaimana aku bisa membalas jasa kalian " sahut Reva.


"Kamu ngomong apa sih Va, kita tuh saudara jadi wajar kalau kita saling mendukung.. Udah jangan sedih sedih lagi ya, kamu harus segera sembuh untuk Ghibran " balas Aisyah.


Ketiga sahabat itupun berpelukan haru, Aisyah dan Puput adalah saksi bagaimana Reva berjuang keras untuk melawan penyakitnya. Disinilah mereka, di negeri orang yang sangat maju dan berkembang pesat dengan teknologi canggih mereka saling menguatkan demi sebuah kesembuhan.


Sementara di negeri sendiri ada keluarga yang selalu setia berdoa dan tak pernah putus untuk memberi dukungan, semua itu terbukti dan sudah dijawab langsung oleh Allah SWT.


.


.


Jangan lupa like dan vote biar author lebih semangat ya..

__ADS_1


__ADS_2