Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Kenapa?


__ADS_3

..." Aku hanya setitik embun dan menemanimu sebentar saja, setelah itu aku akan menguap atau jatuh ke tanah dan mati."...


...*...


1 minggu kemudian setelah hari di mana Zidan dan Reva menghabiskan waktu berdua, hubungan mereka kembali dekat dan terbilang harmonis. Reva mulai belajar lebih sabar dan lebih ikhlas lagi dalam menjalani hari-harinya.


"Hallo, Assalamualaikum, " sahut Reva ketika suara telepon rumah berdering.


"Waalaikumsalam, Umma lagi dimana? " kata seseorang itu yang tak lain adalah Zidan.


"Ini Umma lagi di rumah, memang ada apa, Abi? " tanya Reva bingung mendengar suara Zidan yang begitu antusias.


" Begini Umma, Abi dapat promosi jabatan hari ini. Dan kantor akan mengadakan perayaan malam ini, Umma siap-siap ya kita dateng ke acara nanti malam! "


"Alhamdulillah, tapi Fizah ikut kan, Bi? " lanjut Reva.


"Umma nggak keberatan kalau Fizah juga ikut? " tanya Zidan tampak ragu.


"Ya nggak lah, kan Fizah juga istri Abi.. Ajakin ya.."


"Ya sudah terserah Umma aja. yang penting siap-siap nanti malam ya! "


.


.


Setelah sambungan telepon ditutup,Reva menghampiri Fizah yang sedang duduk bermain bersama Ghibran dan juga Kia.


"Siapa yang menelpon, Mbak? " tanya Fizah.


"Itu tadi Mas Zidan, katanya dia baru dapat promosi jabatan di kantornya dan nanti malam mau mengajak kita ke perayaan di kantornya, " sahut Reva setelah ia duduk.


"Kita? Kenapa nggak Mbak aja yang pergi menemani Mas Zidan? " tanya Fizah.


"Mbak nggak mau pergi kalau kamu juga nggak ikut, Zah. Lagi pula kamu kan istrinya Mas Zidan juga. "


"Tapi kalau Fizah ikut siapa yang jaga anak-anak? " Fizah nampak berat meninggalkan putra putrinya.


"Kamu tenang aja, nanti kita mampir ke pesantren sebentar titip mereka sama Umi. Di sana ada teman-teman Mbak yang mau bantu jagain. Ikut ya! " bujuk Reva.


"Ya sudah Mbak kalau gitu Fizah ikut.."

__ADS_1


...***...


Jam berputar begitu cepat, dan di sinilah mereka bertiga. Zidan, Reva dan juga Fizah berada di sebuah pesta perayaan kenaikan jabatan yang sangat meriah. Orang-orang nampak sudah ramai berdatangan dan membawa pasangan masing-masing.


Tak terkecuali Zidan yang membawa kedua istrinya sekaligus.


"Kamu tenang aja nggak usah gugup gitu, Zah! Nanti cukup berdiri disamping Mbak aja ya, " kata Reva yang melihat madunya itu sedang merasa gugup.


Mereka pun masuk ke dalam gedung tempat di mana pesta akan dimulai. Zidan menghampiri beberapa rekan kerjanya untuk menyapa dan tak lupa mengenalkan istri-istrinya pada temannya.


"Eh Zidan, udah dateng. Sama siapa bro? " tanya Indra rekan kerjanya.


"Baru sampai kok, ini aku datang sama istri ku, " sahut Zidan.


"Oh gitu, ini Mbak Reva kan ya? Apa kabar, Mbak? Lama ya nggak ketemu.." Indra beralih menyapa Reva.


"Alhamdulillah, Ndra baik. "


"Dan ini..." Indra beralih menatap Fizah yang berdiri disebelah Reva.


"Ini Hafizah istriku juga.." sahut Zidan yang mengerti maksud dari temannya itu.


"Apaan sih, Ndra? Gaya banget minta rahasia gitu, kamu nikah aja belum.."


"Ya elah nggak usah disebutin gitu kenapa sih, Bro. Tega banget sama teman sendiri. "


Dan begitulah obrolan mereka yang dilanjut pembahasan mengenai pekerjaan oleh Zidan dan juga Indra. Sementara kedua wanita itu memilih untuk duduk sambil menunggu suami mereka selesai menyapa rekan kerjanya.


Acara pesta pun dimulai, dari acara pembukaan hingga pemberian penghargaan bagi karyawan teladan yang mendapat promosi jabatan. Dan itu juga termasuk Zidan.


Seluruh rangkaian acara berjalan lancar, Fizah dan Reva nampak tersenyum bangga saat Zidan memberi kata sambutan dan ucapan terima kasih diatas podium tadi.


Setelah acara usai semua tamu dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan. Saat sedang asik menyantap makanan, mereka bertiga dikejutkan oleh kehadiran seorang perempuan yang tiba-tiba menarik kursi dan ikut bergabung dimeja mereka.


"Hai, boleh kan aku bergabung dimeja kalian? Soalnya meja lain sudah penuh, " kata perempuan itu.


Suasana langsung terasa sangat canggung, tidak ada yang bicara menyahuti baik Zidan maupun Reva yang saling menatap satu sama lain.


"Oh iya, Dan ini Reva ya istri kamu? " tanya perempuan tersebut.


"Iya ini Reva.." balas Zidan sekenanya.

__ADS_1


"Hai Reva, maaf ya waktu itu aku salah mengenali kamu sebagai adiknya Zidan, " kata perempuan itu menyapa Reva mengingatkan kembali akan kejadian beberapa tahun lalu.


"Iya nggak apa-apa,"


Fizah yang berada di sana juga hanya diam memperhatikan tanpa ada menyela sedikitpun.Bagaimana pun juga Reva di sini lebih dikenal dibanding dirinya sebagai istri Zidan.


"Eh ini siapa? Istri kedua kamu ya? " tanya perempuan itu lagi beralih menatap Fizah yang dibalas senyum teduh.


"Siapa nama kamu? " tanyanya lagi.


"Saya Hafizah, Mbak "


"Kamu kok mau sih jadi istri keduanya Zidan? Katanya yang aku dengar kamu lulusan sarjana, tapi kok mau sih jadi yang kedua? " tanya perempuan itu yang membuat suasana menjadi tegang seketika.


"Maaf, maksud perkataan Mbak tadi apa ya? " Fizah kini merasa tak mengerti dengan ucapan perempuan itu.


"Ya maksud aku, kamu kan lulusan sarjana kan bisa aja cari pekerjaan yang lebih layak dan bisa mencari suami yang sepadan dengan kamu. Kenapa kamu mau jadi orang ketiga diantara mereka? "


Deg...


Nafas Fizah seakan terhenti sejenak begitu pula dengan Reva dan Zidan.


"Kamu ini cantik, masih muda, sayang lah kalau harus menghabiskan masa muda kamu dengan menjadi orang ketiga.." tambahnya lagi.


"Cukup, Bianca!! Hentikan omong kosongmu itu!! " kini Reva yang mulai berbicara.


"Memang kenapa? Nggak ada yang salah kan dengan perkataan aku? "


"Salah, itu sangat salah!! Hafizah tidak seperti kamu, dia wanita terhormat dan tak sebanding dengan kamu yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan hati suamiku " tegas Reva yang membuat Bianca melotot seketika.


"Maksud kamu apa? Kamu bandingin aku dengan perempuan kampung ini? Jelas bedalah, apalagi sama kamu yang cuma lulusan pesantren. Harusnya yang pantas mendampingi Zidan itu aku bukan kalian yang kampungan ini.." kata Bianca meremehkan.


Fizah yang merasa dirinya dihina sudah tak tahan lagi, ia bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari gedung tersebut.


"Fizah kamu mau kemana, Fizah?? " Reva memanggil Fizah yang semakin menjauh.


"Umma susul Fizah dulu ya, Bi. Takut kalau ada apa-apa sama dia.. " Reva izin pada Zidan yang mengangguk.


Setelah Reva juga ikut pergi menyusul Fizah, kini Zidan menatap Bianca dengan tatapan tajam yang mampu membuat perempuan itu bergidik ngeri. Pasalnya selama ini ia tak pernah melihat Zidan memasang wajah datar seperti itu.


Setelah memperingati Bianca agar menjaga sikapnya, Zidan ikut pergi menyusul kedua istrinya yang sudah menunggu di parkiran.

__ADS_1


__ADS_2