
..."Jika tidak ada niat tuk bersama maka jangan membuatku jatuh cinta "...
...*...
...*...
...Hafizah Khoirunnisah...
"Cukup Fizah cukup!!! Aku nggak mau dengar apapun penjelasan kamu!! " bentak Zidan.
"kupikir kamu sebaik apa yang Reva ceritakan tapi ternyata apa hah? Kenapa Kamu tidak bilang dari awal kalau sudah punya pacar? Kenapa kamu harus diam-diam bertemu? "
Keadaan kamar saat ini dipenuhi dengan rasa sesak dan luapan emosi dari Zidan. Tubuh mungil Hafizah bergetar mendengar apa yang Zidan ucapkan sedari tadi.
Kenapa kesalahpahaman ini harus terjadi... Kenapa dia sedikitpun tak mau mendengarkan aku... hiks hiks
"Dimana pria itu tadi menyentuhmu? Dimana? Hah dimana??!! " Zidan mengangkat tubuh Hafizah dan didudukkan diatas ranjang.
"Disini! Atau disini? Katakan dimana dia menyentuhmu!!! " Zidan menyentuh beberapa titik ditubuh Hafizah.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu mas? Kamu meragukan aku? " Hafizah memberanikan diri untuk berkata.
"Jelas aku meragukanmu!! Apalagi kau telah tertangkap basah bersama pria itu !! "
"Nggak Mas, aku nggak ada hubungan sama dia tolong percayalah " Fizah berkata dengan nada memohon.
"Apa? Kamu minta aku percaya? oke sekarang layani aku !!! "
__ADS_1
Deg...
Nafas Hafizah seakan tercekat mendengar permintaan Zidan barusan, bagaimana bisa ia meminta haknya disaat seperti ini. Harapannya akan memberikan itu saat suasana hati bisa saling menerima satu sama lain tapi kenapa harus seperti ini...
"Kenapa diam? Tidak mau?? " bentak Zidan lagi.
Hafizah tertunduk dan hanya bisa diam, Zidan yang sedari tadi menahan diri sudah sangat kesal dan geram. Sekuat tenaga Zidan menghempaskan tubuh Fizah agar terbaring di ranjang, dengan cepat ia menindih tubuh Fizah dan ******* habis bib*r mungil itu.
Mahkota yang selama ini Hafizah jaga dengan baik, yang akan ia berikan untuk suaminya secara tulus tapi malam ini harus direnggut secara paksa begitu. Zidan bermain dengan kasar seolah tak peduli dengan rintihan dari wanita dibawahnya itu.
Setelah mencapai puncak dan merasa puas akhirnya Zidan tumbang disebelah tubuh Hafizah.
Sementara wanita itu hanya menangis dalam diam menahan sakit disekitar pahanya, menarik selimut agar menutupi tubuhnya yang sudah tak terbalut oleh sehelai benang. Zidan tertidur setelahnya.
Kenapa kamu melakukan ini secara paksa Mas kenapa? Aku bahkan belum memastikan cintamu terhadapku.. Bukan... Bukan ini yang aku inginkan Mas... hiks hiks hiks "
Entah sampai jam berapa Hafizah menangis, ia tak sadar sekarang matanya mulai terpejam dengan mata sembab dan hidungnya yang merah. Zidan terbangun pada pukul 2 siang, aktivitasnya tadi sungguh menguras tenaganya sampai ia hampir lupa menunaikan kewajibannya.
Zidan mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya, ia kembali mengingat hal apa yang baru saja terjadi. Ia melihat wanita disebelahnya tertidur dengan posisi meringkuk tergulung selimut. Zidan melihat ada bercak darah dibeberapa bagian sprei dan selimut.
"Astagfirullahalazim.... Apa yang aku lakukan tadi... Aaarrggghh !! " Zidan mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambutnya setelah mengingat apa yang ia lakukan terhadap Hafizah barusan.
Perlahan Zidan membalikkan tubuh Hafizah dan nampaklah semburat wajah dengan mata sembab, hidung memerah dan kelelahan. Sungguh hati Zidan merasa sakit melihat wajah Hafizah seperti itu, sekali ini ia tak bisa lagi menahan emosinya.
"Maafkan aku ya Zah, karena aku kamu harus merasakan ini.. Pasti itu tadi sakit kan? Maaf..." ucap Zidan lirih diakhiri dengan kecupan lembut dikening istri keduanya itu.
Zidan bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke kamar mandi mensucikan diri untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur. Sementara Fizah masih terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
1 jam kemudian Fizah menggeliat dan bangun dari tidurnya, ia menatap ke samping yang tidak terdapat Zidan disana. Hafizah mencoba bangkit untuk ke kamar mandi tapi ia merasa perih di area dekat pahanya.
"Awsh.. Ah sakit.." Fizah meringis kesakitan.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan terlihatlah Zidan dengan membawa nampan berisi nasi.
"Kau sudah bangun? " tanya Zidan yang berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
Seketika Hafizah menarik selimutnya sehingga menutupi seluruh tubuhnya dan mundur ketika Zidan mendekat. Wajahnya menampilkan sebuah ketakutan seakan ia sedang berhadapan dengan seorang penjahat.
"Maaf.. Jangan takut begitu " ucap Zidan.
Hafizah tetap diam tak bergeming dan terus memegang erat selimut yang menutup tubuhnya.
"Kami mau bangun? Ayo Mas bantu " ucap Zidan.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku jika kamu tidak mencintaiku? Hiks hiks hiks... " tangis Fizah pun pecah ketika mengucapkan kata itu.
"Maaf Zah, maafkan aku. Aku khilaf karena aku sedang marah tadi.. "
"Tapi setidaknya tolong dengarkan penjelasan dariku.. "
"Tolong maafkan aku Zah.. Aku tidak bermaksud menyakitimu, sekarang kamu mandi saja dulu ya terus makan. Nanti kamu bisa jelaskan semuanya ya " bujuk Zidan.
Fizah hanya mengangguk dan belum sempat ia bangun tapi Zidan sudah membopong tubuhnya yang masih bergelung dengan selimut itu. Jelas saja itu membuat Fizah terkejut, ingin memberontak tapi terlambat. Kini ia sudah berada didalam kamar mandi.
"Sekarang mandilah, Mas akan menunggumu setelah itu kita makan " ucap Zidan.
__ADS_1