
..." Dalam perkara melepaskan, bukan masalah siap atau tidak. Melainkan ikhlas atau tidak. Jika bertahan hanya akan menikmati rasa sakit, lebih baik berkorban perasaan untuk yang terbaik. Meski sakit, tapi kita harus siap dengan kehilangan. "...
...**...
Satu minggu setelah kedatangan Reva ke rumah itu, surat gugatan dari pengadilan agama pun sudah diterima oleh Zidan. Selama seminggu itu pula Zidan berusaha untuk membujuk Reva agar mau mencabut gugatannya, namun usahanya sia-sia saja. Reva justru semakin teguh untuk melanjutkan gugatannya, karena hampir setiap hari Zidan datang memohon sampai ia melupakan bahwa ada satu istri lagi yang mencemaskannya di rumah.
Hari itu kebetulan Rama sedang berkunjung ke rumah Pak Badri untuk mengajak Zahwa bermain, dan kebetulan pula Reva juga ikut duduk di teras rumah bersama mereka. Mereka asik bermain dan memakan Ice Cream bersama di sana, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap mereka dari dalam mobil.
Reva melihat ke arah mobil yang dinaiki oleh Zidan diujung sana, Reva tahu beberapa hari ini Zidan selalu berusaha untuk bertemu dengan mereka tapi Reva selalu menghindar. Reva tidak ingin luluh lagi jika kembali bertemu, sudah cukup rasa sakit yang ia rasakan selama ini.
Sementara disisi lain, Hafizah yang sudah seminggu ini merasa diabaikan dan tidak diperdulikan memilih untuk pergi ke rumah ibunya. Ponsel Zidan tidak dapat dihubungi sehingga Fizah hanya menulis sebuah surat untuk Zidan. Fizah benar-benar merasa bersalah menyebabkan keretakan rumah tangga Reva dan Zidan.
...*******...
Zidan yang melihat kedekatan Rama dan Reva merasa geram dan hanya bisa memukul kemudi mobilnya kesal.
"Aaaarrrrggggghhhh kenapa ... Harusnya aku yang ada disana menemani kalian..!!! " teriak Zidan dalam mobil.
Karena merasa sudah tak tahan melihat pemandangan yang ada didepan matanya, Zidan akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia merasa ada sesuatu yang kosong dan hilang. Tapi dia belum menyadari jika Hafizah telah pergi. Sampai saatnya Mbok Tuti menghampirinya dengan membawakan segelas teh hangat dan mengatakan bahwa Fizah telah pergi.
"Anu Tuan, Nyonya Hafizah..." ucap Mbok Tuti.
"Ada apa dengan Hafizah, Mbok? " tanya Zidan yang masih memijat pangkal hidungnya.
"Nyo.. Nyonya Hafizah pergi dan menitipkan surat ini untuk tuan. " ucap Mbok Tuti sambil menyerahkan sebuah amplop berisi surat yang Fizah tulis tadi.
"Apa!! " Zidan mengambil amplop yang tadi diserahkan oleh Mbok Tuti.
^^^*Assalamualaikum^^^
__ADS_1
Mas, mungkin setelah kamu membaca surat ini Fizah sudah pergi. Maafkan Fizah atas kelancangan Fizah yang pergi tanpa izin, tapi ini semua Fizah lakukan agar Mas bisa lebih leluasa memperbaiki hubungan dengan Mbak Reva. Fizah harap kalian bisa kembali bersatu tanpa kehadiran Fizah ditengah-tengah pernikahan kalian lagi. Fizah tahu selama ini pernikahan kita tidak didasari oleh cinta.
Terima kasih selama ini Mas sudah bersedia menjadi imam untuk Fizah meski hanya sebentar. Fizah minta maaf jika selama ini Fizah banyak melakukan kesalahan... Fizah pamit Mas..
Assalamualaikum
^^^Istri keduamu^^^
^^^Hafizah Khoirunnisah*^^^
Zidan merasa tambah geram setelah membaca surat dari Fizah, bagaimana mungkin kedua istrinya sekarang meninggalkannya sendiri di rumah sebesar ini.. Zidan menyadari bahwa selama seminggu ini ia selalu menghindar dari Fizah bahkan tidak memperdulikan kehadiran Fizah.
"Aaaarrggggghhh... Kenapa semua pergi... Fizah!! Reva!! " Zidan berteriak sekencang-kencangnya.
Seketika ia pun teringat perkataan temannya. Kini Zidan sedang dilanda kebingungan, disatu sisi ia ingin Reva tetap bersamanya sementara disisi lain ia juga tidak mau kehilangan Fizah.
Zidan bangun dari duduknya dan kembali melajukan mobilnya menuju rumah Bu Neti untuk menjemput Hafizah disana. Disepanjang jalan Zidan masih terus mencoba menghubungi Fizah namun selalu direject.
Sampai saat ia kembali mencoba menghubungi nomor Fizah, ia tidak melihat lagi ada seorang wanita yang akan menyebrang. Zidan oleng dan tidak dapat mengendalikan laju mobilnya hingga akhirnya ia menabrak sebuah pohon besar. Depan mobilnya penyok sehingga menyebabkan tubuhnya terjepit badan mobil, Tragis..
Sementara Reva yang sedang mengiris bawang tak sengaja pisau yang ia pegang mengenai tangan.
"Awh... Astagfirullahalazim,.. "Reva meringis kesakitan.
"Ono opo toh, Nduk? Hati-hati makanya jangan melamun! " ucap Bu Heni.
Sementara disisi lain, Fizah sedang membereskan meja makan dan tiba-tiba saja piring yang ia pegang jatuh dan pecah begitu saja.
"Astagfirullahalazim, Ya Allah ada apa ini? " Fizah segera membersihkan pecahan-pecahan piring yang berserakan.
Tak lama kemudian ia mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengabarkan bahwa Zidan sedang dirawat karena mengalami kecelakaan.
__ADS_1
"Ya Halo, Assalamualaikum. "
"Waalaikumsalam, Selamat sore, Bu. Apakah benar ini dengan Ibu Hafizah? " tanya seorang perempuan dari sebrang telepon.
"Iya benar, saya sendiri.. " sahut Fizah.
"Jadi begini, Bu. Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa suami ibu saat ini sedang dirawat di rumah sakit kami, beliau baru saja mengalami kecelakaan! " ucap perempuan itu.
"Apa? Kecelakaan? " lutut Fizah melemas seketika mendengar kabar tersebut.
"Iya, Bu. Saat ini beliau ada di rmah sakit Kasih Bunda, Jln. Cempaka no 7. "
"Baiklah, terima kasih ya Mbak. Saya akan segera ke sana sekarang. " Fizah memutuskan sambungan telepon dan meminta izin pada ibunya untuk pergi ke rumah sakit.
Sementara Reva melihat berita ditelevisi bahwa ada sebuah kecelakaan tunggal dan di sana menyorot sebuah mobil yang sangat Reva kenali. Ya, itu adalah mobil Zidan. Saat ini media sedang ramai memberitakan tragedi kecelakaan yang dialami oleh Zidan.
Reva syok melihat berita ditelevisi itu, ia merasa sedih mendengar kabar bahwa yang ada dalam mobil tersebut adalah Zidan dan saat ini kondisinya sangat parah.
"Ya Allah, Mas! Semoga kamu baik-baik saja dan tidak ada luka serius.. " Reva mengatupkan kedua tangannya sambil mengucapkan doa.
Reva berniat untuk menjenguk, tapi niatnya itu ia urungkan memngingat saat ini pasti ada Hafizah yang sedang menemani Zidan di rumah sakit.
"Ini kesempatan untukmu, Zah! Perbaikilah hubungan kalian berdua, aku hanya bisa berharap dan berdoa agar setelah ini kalian bisa hidup dengan bahagia.. " ucap Reva lirih.
"Kamu nggak apa-apa kan, Nduk? " tanya Bu Heni.
"Nggak kok, Bu. Reva baik-baik saja.. " jawab Reva dengan tersenyum.
"Apa kamu mau menjenguk nak Zidan nanti? " tanya Bu Heni lagi.
"Untuk saat ini biarlah Fizah yang mendampingi nya, Bu! Reva tidak mau lagi luluh dalam perasaan yang hanya akan menyiksa batin Reva, Bu. " Ucap Reva.
__ADS_1
"Ya sudah kalau itu maumu, sekarang istirahat lah di kamar! Jangan berpikir terlalu keras ya! "
"Iya, Bu. "