
..." Tanda pertama dari sebuah keikhlasan adalah keberadaanmu ketika di hadapan banyak orang maupun saat sendiri tidak ada bedanya"...
...*...
...*...
Sore itu selesai shalat ashar aku duduk sejenak diatas ranjangku dan bersandar pada sandaran ranjang, saat ini aku tengah memikirkan cara untuk melamar Hafizah untuk suamiku. Sejenak ku tatap pemandangan yang terlihat diluar jendela kamarku.
"Bismillah ya Allah, jika memang ini yang terbaik hamba ikhlas.. " kataku pada diriku sendiri.
Aku duduk dimeja rias untuk memakai sedikit bedak dan lipbalm pada bibirku, itulah kebiasaanku tiap sore karena akan menyambut suamiku pulang kerja.
Aku turun ke bawah dan kulihat Hafizah sedang menyapu membantu tugas Mbok Tuti, segera ku hampiri dia.
"Zah, kok kamu yang nyapu? Mbok Tuti kemana? Sakit ya? " tanyaku menghampiri Fizah
"Eh nggak kok mbak kebetulan Ghibran udah tidur jadi Fizah nggak ada kerjaan makanya bantui si Mbok " jawabnya dengan senyum ketulusan.
Ya Allah aku jadi semakin yakin menjadikannya maduku " gumamku dalam hati.
"Mbak bisa bicara sebentar nggak sama kamu? Tapi kalo kerjaan kamu belum kelar, kelarin dulu aja. Mbak tunggu di taman belakang " kataku.
"Iya mbak nanti saya susul "
Aku berjalan menuju taman belakang, sambil menunggu Fizah aku menyempatkan diri untuk menyiram bunga. Tak berapa lama kemudian Hafizah datang menghampiriku dengan membawa secangkir teh hijau buatannya. Dia duduk tepat disebelahku.
"Zah, apa kamu setuju tentang poligami? " pertanyaan yang sama pada saat aku bertanya pada Mas Zidan.
"Poligami sih menurut aku boleh boleh saja asalkan memenuhi syarat, mendapat restu dari istri pertama dan juga si suami bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya " jelas Fizah yang membuatku tersenyum.
"Lalu bagaimana menurutmu jika seorang istri meminta suaminya menikah lagi? " tanyaku lagi.
"Ya itu sih tergantung suaminya mbak, dan juga alasan kenapa si istri meminta suaminya menikah lagi. Tapi Poligami juga tidak mudah mbak. Eh ngomong-ngomong mbak kenapa kok tanya tentang itu ke saya, maaf saya belum terlalu dalam ilmu tentang itu " sahut Fizah.
"Nggak apa-apa kok Zah "
Setelah itu aku menyeruput teh yang tadi Hafizah bawa tadi. Keheningan tercipta dan aku menatap lekat wajah perempuan yang begitu cantik menurutku. Bahkan tak kalah cantiknya denganku.
"Zah " panggilku setelah lama terdiam.
__ADS_1
"Iya mbak? "
Aku menggenggam tangan Fizah dan menatap matanya. Sejenak ku tarik nafas.
"Bismillahirrohmanirrohim Hafizah Khoirunnisa, aku melamarmu menjadi maduku " ucapku.
..
.
Hafizah Pov
Jedeeeeerrr....
Bagai tersambar petir hatiku sungguh terkejut mendengar penuturan majikanku barusan, apa yang baru saja ia katakan? Apa dia sadar ketika mengatakan hal itu? Aku pun terdiam dengan mata yang membulat seketika.
"Zah " panggil mbak Reva lagi.
"I-iya mbak " jawabku gugup dan masih pada lamunanku.
"Kamu mau kan jadi istri kedua untuk mas Zidan? " tanya mbak Reva yang masih setia menggenggam tanganku.
"Zah aku sangat sadar dengan perkataanku, dan aku hanya ingin kamu menjadi maduku " jawab mbak Reva.
"Mbak apa mbak melakukan ini karena sakit yang mbak derita? Apa cuma segini semangat mbak untuk bisa sembuh? Inget mbak, kamu masih punya Ghibran yang butuh mbak. Fizah yakin mbak bisa melewati ini semua " kataku mencoba memberi pengertian pada majikanku itu.
"Justru itu aku memikirkan mereka Zah, aku hanya ingin suami dan anakku ada yang ngusrus setelah kepergianku, aku tak ingin pergi sebelum aku memastikan kebahagiaan untuk mereka dan aku yakin kamu bisa membahagiakan mereka Zah "
"Astagfirullahalazim mbak, tak baik bicara seperti itu. Ingat mbak kamu itu seorang ibu dan Fizah percaya bahwa pak Zidan sangat mencintai mbak, beliau pasti rela melakukan apapun demi kesembuhan mbak. Jangan patah arang mbak, ingatlah Allah bersamamu mbak " aku mencoba menasehati majikanku itu.
"Nggak Zah, aku tahu jika umurku ini sudah tak lama lagi dan dokter sudah memvonis itu. Umurku sangat pendek Zah " pecahlah tangisnya kini.
"Istigfar mbak jangan nyerah seperti ini, masih banyak cara lain untuk mbak bisa sembuh. Mbak bisa pergi berobat keluar negeri atau mbak bisa menjalani pengobatan alternatif, Fizah yakin pak Zidan mau mendampingi mbak sampai sembuh " ucapku yang saat ini tengah memeluk majikanku.
.
.
Author Pov
__ADS_1
Zidan yang baru saja pulang dari kerja mendengar semua percakapan istrinya itu, Dia bersyukur Hafizah menolak secara halus dan memberi pengertian pada Reva,. Paling tidak saat ini Hafizah sudah jadi tempat berbagi keluh kesah Reva.
"Mbak sudah ya jangan nangis seperti ini, mbak harus kuat demi Ghibran. Mbak nggak sendirian, ada keluarga, suami dan anak mbak yang siap mendukung kesembuhan mbak. Tawakal lah pada Allah mbak, saat ini mbak sedang di uji dengan penyakit ini. Dan untuk Ghibran, Fizah pasti akan menjaganya dengan baik sampai mbak sehat lagi " ucap Hafizah membuat Zidan sedikit terenyuh hingga meneteskan air mata.
Ya Allah serapuh itukah istriku? Kenapa dia selalu terlihat baik-baik saja setiap kali ku tanya? " gumam Zidan dalam hati.
Karena tak mau terlalu jauh hanyut dalam kesedihan akhirnya Zidan mengusap air matanya dan bersikap biasa saja.
"Assalamualaikum " salam diucap Zidan.
"Waalaikumsalam, " sahut Reva yang segera menghapus air mata nya dan segera menyambut suaminya.
"Mbak tinggal dulu ya Zah makasih " kata Reva kemudian berlalu.
Reva membenahi jilbabnya, menghapus sisa air mata dan menampilkan senyum termanis untuk suaminya.
"Waalaikumsalam, Abi sudah pulang? " kata Reva kemuadian menyambut tas kerjanya dan menyaliminya dengan takzim.
"Iya, Ghibran udah tidur ya? " tanya Zidan.
"Iya Bi tadi Hafizah yang menidurkan "
"Ya sudah kalau begitu Abi akan mandi sebentar ya... Cup " Zidan pamit menuju kamar dan tak lupa mencium kening sang istri.
Sungguh Zidan tak sanggup melihat wajah istrinya yang semakin hari bertambah pucat apalagi saat ini tergambar jelas bahwa wajah itu habis menangis. Sungguh hati Zidan bagai teriris pisau belati, ia benar-benar tak sanggup menyaksikan penderitaan istrinya itu.
Jika bisa ditukar Zidan ingin ia saja yang merasakan penderitaan jangan Reva.
"Umma, ambil air wudhu gih kita shalat magrib " titah Zidan setelah terdengar suara Azan berkumandang.
Reva mengangguk dan segera menuju kamar mandi untuk mensucikan diri. Tak ada pembicaraan dan tak ada percakapan, mereka saling diam dan melakukan kegiatan rutin dengan tenang. Setelah selesai shalat mereka memutuskan untuk tadarus sebentar kemudian langsung makan malam.
Apa aku terlalu egois jika meminta suamiku menikah lagi? Ya Allah mohon berikan petunjukmu..
.
.
Jangan lupa like, coment dan vote juga ya
__ADS_1