Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Rumah Baru, Keluarga Baru


__ADS_3

Setelah hari pernikahan kedua bagi Reva sudah selesai, kerabat dekat juga sudah kembali ke kota masing-masing, kini Reva bersiap untuk pindah ke rumah baru yang disiapkan oleh Rama.


Rama akan memboyong Reva serta kedua anaknya untuk menempati rumah baru mereka.


"Abuya, emang kita mau kemana sih? Adek masih ngantuk ini.. " tanya Zahwa dengan muka cemberut namun tetap menggemaskan.


"Kita akan pindah ke rumah baru, Sayang.. " sahut Rama.


"Memang kenapa dengan rumah Mbah? Kan sama aja, sama sama rumah.. " kata gadis kecil polos itu.


"Sayang, sekarang Abuya kan sudah jadi suaminya Umma, mulai saat ini kita akan tinggal dimanapun Abuya tinggal.. " jelas Reva.


Gadis kecil itu manggut manggut tanda mengerti, sementara Ghibran hanya diam saja antara sedih dan senang. Sedih takut tidak bisa bertemu dengan Abi nya dan senang mendapat figur ayah baru yang tak kalah menyayangi nya.


"Tapi kalau kita pindah, kita masih bisa bertemu dengan Abi nggak? " tanya Ghibran.


"Bisa kok, nanti kan Abuya kasih alamat rumah baru kita sama Abi.. Jadi kalian masih bisa main sama Abi, " sahut Rama.


"Seperduli apapun, ayah kandung tetaplah yang utama bagi mereka.. " gumam Rama dalam hati.


Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu 20 menit akhirnya mereka sudah tiba disebuah rumah yang nampak mewah. Di sana sudah ada kedua orang tua Rama beserta Bianca telah menyambut kedatangan mereka.


"Assalamualaikum, " ucap Rama, Reva dan kedua anaknya.


"Waalaikumsalam, kalian sudah sampai? Ayo sini! " sambut mertuanya Reva.


Sejak awal ibu dari Rama memang menyukai Reva, namun mereka terlambat melamar wanita itu karena statusnya pada saat itu sudah menjadi milik orang lain. Ibu Ram juga tak mempermasalahkan jika status Reva saat ini adalah seorang janda. Namun yang membuat ia tambah senang, beliau mendapat dua cucu sekaligus.


Namun berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan Bianca, wanita itu nampak tidak suka dengan kedatangan Reva.


"Selamat datang di istana kami, Kakak Ipar! " sambut Bianca dan memeluk Reva.


"Selamat menikmati penderitaan kamu juga, Reva! " bisik Bianca.


Reva cukup terkejut mendengar kalimat terakhir dari Bianca. Apa maksudnya menikmati penderitaan? Apakah Bianca akan seperti adik ipar jahat yang ada di sinetron itu? Begitu pikir Reva.


Setelah penyambutan selesai, kini mereka sudah berada di kamar masing-masing. Ibu dan Ayah Rama telah pulang ke Bandung, mereka memang menetap di sana sementara Bianca memilih tinggal di rumah Rama yang saat ini juga ditinggali oleh Reva.

__ADS_1


"Kita lihat sejauh mana kamu akan bertahan di rumah ini, aku tidak sudi memiliki kakak ipar seperti mu yang dulu merebut kekasihku! " kata Bianca.


...-----------...


Saat menjelang sore, Reva sedang ada di dapur memasak untuk makan malam. Kebetulan tadi Rama sempat mampir ke supermarket terdekat membeli keperluan dapur. Bianca yang melihat iparnya sedang memasak terbersit ide untuk mengerjainya.


"Mbak, buatin aku es siroup dong! Haus nih, " ucap Bianca.


"Iya sebentar, ini masakannya bisa mutung kalau ditinggal.. " sahut Reva.


"Ya sudah jangan kelamaan! "


Reva mematikan kompor dan mengambil gelas untuk membuatkan es yang diminta Bianca.


"Ini es yang kamu minta, " Reva menyerahkan gelas yang sudah berisi es tersebut pada Bianca.


Namun bukannya menerima, Bianca sengaja tidak memegang gelas itu dengan erat sehingga gelas itu terjatuh.


Prang!


"Astagfirullahalazim, " Reva terkejut melihat gelas yang ia bawa tadi sudah pecah dilantai.


"Tapi aku.."


"Ada apa ini ribut-ribut? " suara bariton itu berasal dari Rama yang menuntun Ghibran dan Zahwa dari kamar mereka.


"Bianca, apa yang kamu lakukan? Kenapa membentak kakak iparmu seperti itu? " tanya Rama kemudian melihat pecahan gelas dilantai.


"Aku nggak ngapa-ngapain, kak! Mbak Reva tadi memberiku es tapi tanganku licin dan Mbak Reva melepasnya begitu aku belum siap memegangnya " sahut Reva.


"Tapi nggak harus kamu bentak juga, dong! Kamu kan bisa bicara baik-baik. Dia itu kakak ipar kamu saat ini.. " nasihat Rama.


"Salahin aku aja terus !! " ucap Bianca berlalu dengan senyum kemenangan.


Apa begini rasanya memiliki ipar yang bersikap Jahat? Dulu juga aku punya adik ipar tapi ia sangat menyayangiku. Apa karena aku dulu menikah dengan Mas Zidan makanya Bianca bersikap seperti itu? Ah tidak tidak.. Ngapain aku mikirin itu! " batin Reva.


Setelah selesai debgan drama sore gelas pecah, sekarang drama di meja makan akan dimulai oleh Bianca.

__ADS_1


Awalnya mereka makan dengan tenang, namun Bianca tiba-tiba tersedak.


Uhuk uhuk...


Bianca tiba-tiba saja langsung batuk.


"Pelan-pelan Bianca, jangan seperti anak kecil! " Rama memberikan minum putih pada Reva.


"Mbak masukkan udang dalam masakan ini ya? " kata Bianca sambil menggaruk tubuhnya yang terasa gatal.


"Iy-iya tadi aku tambahkan sedikit udang dimasakanku.. " jawab Reva.


"Ya ampun, Mbak! Aku tuh alergi udang, kenapa Mbak nggak tanya terlebih dahulu denganku. Kalau udah gini siapa yang mau tanggung? " ucap Bianca sambil terus menggaruk tangannya dengan Bianca.


"Maaf, kupikir tadi..."


"Tidak senua orang suka dengan pemikiranmu itu, Mbak! Ah sudahlah aku mau ke kamar! " ucap Bianca dengan suara meninggi.


Tapi senyum licik dari Bianca pun terbit menghiasi bibir yang merah. Sebenarnya tadi ia tidak memakan masakan yang ada udangnya, tetapi ia memang sengaja membuat masalah seperti itu untuk mempersulit Reva.


"Hahaha rasakan itu! Ini baru akan dimulai Reva, nanti kamu akan menderita lebih dari ini... Hahaha hahah " tawa Bianca menggelegar memenuhi kamarnya.


Sementara dibawah, Reva masih merasa bersalah telah membuat adik iparnya mengalami alergi seperti itu.


"Maaf aku sama sekali nggak tahu kalau Bianca punya alergi sama Udang.. Aku tidak sengaja melakukan ini.. " ucap Reva pada Rama.


"Sudah ya, ini bukan salah kamu kok.. Bianca itu memang begitu. Dia masih sedikit kekanakan. Kamu sabat ya menghadapi dia, " kataa Rama.


"Umma jangan sedih gitu, kita nggak mau lihat Umma sedih.." ucap Zahwa yang tidak tega melihat Umma nya terlihat sedih.


"Nggak kok, Sayang. Umma nggak sedih.. Ayo lanjutin makannya, setelah ini kita shalat isya berjamaah ya! " balas Reva.


Makan malampun dilanjutkan dengan tenang tapi tidak setenang hati Reva yang memikirkan ulah apa lagi yang akan Bianca buat untuknya kedepan. Reva bisa menahan marah jika Bianca berbuat ulah padanya tapi jika saja suatu saat Bianca membuat ulah dengan kedua anaknya, Reva tidak akan segan lagi.


"Kuatkan hati ini, Ya Allah.." batin Reva.


...********...

__ADS_1


**Duh Bianca emang benar-benar jahat guys...


Jangan lupa Vote dari kalian ya**..


__ADS_2