
..." Keputusan tersulit yang harus kamu buat adalah ketika kamu terlalu lelah untuk bertahan, tetapi kamu juga terlalu cinta untuk melepaskan."...
...*...
"Sudah siap? " tanya Rama.
"Sudah, mari kita berangkat " ajak Ayu/Reva.
"Nanti kamu tahukan harus berbuat apa? Setelah semua sudah kamu jelaskan padanya, aku akan membawa Zahwa ke hadapan kalian. " ucap Rama sambil menyetir mobil.
"Iya, terima kasih ya, Ram. Kamu selalu baik terhadapku, " ucap Reva/Ayu.
"Kamu tuh ngomong apa sih, ini sudah kewajiban aku sebagai sahabat kamu! "
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju sebuah taman kota yang terdapat tempat bermain anak-anak juga disana, Rama sengaja mengatur tempat pertemuan mereka agar nanti Zahwa tidak merasa bosan menunggu.
Sesampainya di taman, Ayu segera duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari besi yang menghadap ke arah danau. Sementara Rama mengajak Zahwa bermain di area bermain anak-anak.
"Bismillah, apapun yang terjadi aku harus siap menghadapimya! " tekad Ayu dalam hati.
Tidak lama kemudian, Zidan datang dengan sebuah bucket bunga mawar merah yang sengaja ia beli tadi.
"Assalamualaikum, maaf membuat kamu menunggu lama. "
"Waalaikumsalam, nggak apa-apa aku juga baru sampai. "
"Oh Iya ini bunga buat kamu, " Zidan menyerahkan bucket bungan itu untuk Ayu.
"Terima kasih."
"Langsung saja pada intinya, aku meminta kamu datang ke sini untuk membahas soal kita! " kata Ayu berterus terang.
"Bicara soal apa? " tanya Zidan pura-pura tidak mengerti.
"Maaf aku telah membohongimu selama beberapa hari terakhir ini, maaf juga sudah bersikap tidak sopan kemarin.." ucap Ayu.
"Aku senang mendengarnya, sudah kuduga kamu adalah Reva! " kata Zidan.
"Sejak kapan kamu tahu itu, Mas ? " tanya Reva.
__ADS_1
"Sejak pertemuan pertama kita waktu itu, Mas ingat betul namamu 'Reva Ayu Lestari' dan kamu menggunakan nama tengah kamu sebagai identitas kamu disini, " ucap Zidan.
"Maaf aku tidak bermaksud.. "
"Sudahlah yang terpenting sekarang ini kamu bisa mengatakan semuanya padaku, bagaimana keadaan mu selama berada disini? " lanjut Zidan.
"Alhamdulillah, berkat perlindungan dari Allah aku masih bisa selamat dari kecelakaan waktu itu, " sahut Reva.
"Maafkan Mas waktu itu tersulut emosi sehingga kamu harus mengalami kejadian itu, " ucap Zidan penuh penyesalan.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas. "
"Ayo kita pulang! Ghibran pasti senang lihat kamu, " ucap Zidan.
"Bagaimana kabar putraku selama aku tidak ada? Apa dia tumbuh jadi anak shaleh dan pintar? " tanya Reva.
"Ya dia tumbuh jadi anak yang pintar, selama kepergian kamu dia jadi lebih pendiam. Hafizah sudah sering mengajak nya bicara namun ia hanya menanggapi sedikit. "
"Bahkan saat ini pun kamu masih menyebut Hafizah dihadapanku, Mas! " gumam Reva dalam hati.
"Aku belum bisa pulang untuk saat ini, masih ada hal yang harus aku selesaikan di sini! "
"Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu, Mas! "
"Apa itu? " tanya Zidan.
Reva mengambil ponsel didalam tasnya dan terlihat menghubungi seseorang. Tak lama kemudian Rama muncul dengan anak kecil perempuan yang ada digendongannya.
"Rama? Kamu dan dia... Dan ini anak..? " Zidan nampak terkejut melihat Rama dan seorang anak kecil muncul dihadapan mereka.
"Rama adalah orang yang selama ini membantuku disini, dia yang menyelamatkan aku waktu itu.. "
"Lalu apa hubungan kalian berdua? " tanya Zidan.
"Kami masih sahabat seperti dulu, dan anak yang ada digendongannya itu adalah anak kita. Anak yang kukandung sewaktu aku pergi ke rumah sakit sebelum kecelakaan itu terjadi! " jawab Reva yang tak mampu membendung air matanya.
"Apa?!! " Zidan cukup terkejut mendengar penjelasan dari Reva, ia mundur 2 langkah dan berlutut di tanah. Rasa bersalahnya semakin menyeruak dan membayangkan betapa sulitnya Reva menanggung beban selama 5 tahun terakhir ini..
"Maaf Reva maafkan aku, aku telah berdosa dengan menelantarkan kamu dan anak kita selama ini.. Aku mengaku salah dan aku siap kamu hukum, kamu mau pukul aku pun silahkan! Aku rela, Sayang. " Zidan bersimpuh dikaki Reva memohon pengampunan.
__ADS_1
"Sudahlah, Mas! Aku sudah memaafkanmu. Lagi pula ini semu sudah terjadi, " ucap Reva membantu Zidan untuk berdiri kembali.
Zidan bangkit dan beralih menatap Zahwa yang ada digendongannya Rama.
"Siapa namanya? " tanya Zidan.
"Namanya adalah Zahwa Queenisya " jawab Reva.
"Cantik persis seperti Ummanya, " puji Zidan.
Zidan mencoba mendekat ke arah Rama, ia mengulurkan tangan hendak menggendong Zahwa. Namun Zahwa memalingkan wajah dan merangkul erat leher Rama.
"Nak, ini Abi, Sayang! " kata Zidan.
"Abi siapa? Awa nggak punya Abi, Awa cuma punya Abuya dicini. Om jangan dekat-dekat! Awa nggak mau punya Abi! " sahut gadis kecil itu polos.
"Aku bawa Zahwa ke taman lagi aja ya, nanti biar aku bunuk dia. " kata Rama yang melihat suasana seperti kurang baik jika masalah ini sampai dilihat oleh Zahwa.
"Abuya? Ke....Kenapa dia memanggil Rama dengan sebutan itu? " tanya Zidan dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf atas sikap Zahwa tadi, selama ini dia memang dekat dengan Rama. Sementara Zahwa masih butuh waktu untuk mengenali kamu " ucap Reva.
Zidan berdiri mematung ditempatnya, bagaimana bisa anaknya sendiri seperti takut dengannya. Bahkan lebih memilih pria lain untuk diakui sebagai ayab. Apa kesalahan ku sudah sangat besar, hingga anakku sendiri tidak mau menganggapku sebagai ayahnya.
Sementara Reva menatap Zidan dengan tatapan sendu, itulah dulu yang pernah ia rasakan saat Ghibran memilih ibu sambungnya dari pada Reva dulu. Sekarang hal yang sama juga dirasakan oleh Zidan.
Zidan berniat mengajak Reva untuk pulang ke kota asal mereka, namun Reva masih menolak untuk ikut bersama Zidan. Reva berkata akan pulang sendiri dan memberi kejutan ayah nanti.
"Kamu yakin tidak ingin pulang bersamaku? " tanya Zidan sekali lagi.
"Maaf, Mas! Aku masih perlu waktu. Lagi pula aku pasti akan kembali setelah hatiku ini merasa yakin untuk kembali. " ucap Reva.
"Baiklah kalau itu mau kamu aku tidak akan memaksanya, tapi jika kamu ingin pulang amu siap mendemputmu kapanpun itu! "
"Terima kasih, nanti aku akan pulang sendir. Tidak perlu repot seperto itu "
"Tidak apa-apa, aku tidak masalah jika harus direpotkan oleh istri dan anakku sendiri. Kamu jangan sungkan! "
Setelah dirasa sudah cukup akhirnya Reva pamit dan mengajak Rama dan Zahwa pulang. Mereka menaiki mobil dan tentu saja dengan pemantauan Zidan. Ada rasa sakit yang kini muncul dalam hatinya, bagaimana pun juga dulu Rama pernah berkata akan merebut Reva jika Zidan tak mampu membahagiakannya. Apakah masih Ada kesempatan lagi untukku saat ini? "
__ADS_1