
..." Ada saatnya kau harus melepaskan seseorang, bukan karena tidak mencintai, tetapi demi menjaga hati kita sendiri agar tidak terluka lagi oleh sikap yang sama dan karena orang yang sama."...
...*...
Pagi itu Zidan telah mendengar kabar bahwa Reva telah kembali ke rumah orang tuanya, Zidan merasa sangat bahagia karena kepulangan Reva tapi disisi lain ia merasa sedih karena Reva lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya dibanding rumahnya.
Hari ini Zidan berencana akan mengunjungi Reva di kediaman Pak Badri, namun sebelum itu ia pergi ke pesantren sebentar untuk menanyakan satu hal pada Bapaknya.
"Assalamualaikum, Pak. "
"Waalaikumsalam Warahmatullah, "
"Apa Zidan mengganggu waktu Bapak sekarang? " tanya Zidan.
"Kebetulan tidak, bapak lagi senggang. Memangnya ada apa? " kata Pak Kyai.
"Begini, Pak. Bisa ndak Bapak jelaskan pada Zidan makna adil dalam berpoligami? " tanya Zidan.
"Setelah sekian lama kamu menjalaninya kenapa baru sekarang kamu menanyakannya? " Pak Kyai bertanya balik.
"Ceritanya panjang, Pak....." Zidan pun memulai menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangganya selama ini untuk meminta pendapat Pak Kyai.
"Dengar, Nak! Adil dalam hal poligami itu bukanlah soal tidur dan nafkah saja, coba kamu berkaca dengan dirimu selama ini bagaimana memperlakukan kedua istrimu. Dalam Al-qur'an Surah An-Nisa ayat-3: Allah berfirman yang artinya :
Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu sukai, dua, tiga atau empat dan jika kamu merasa takut tidak dapat berbuat adil , maka nikahilah seorang saja.(Qur'an Surat An-Nisa, ayat 3 )
Dalam surah itu sudah jelas sekali maknanya bukan? Lalu ada satu ayat lagi Firman Allah :
Dan kamu tidak dapat berlaku adil diantara istri-istrimu walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian ,karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai).(Qur'an Surat An-Nisa, ayat 129)
Maksud dari ayat tersebut yaitu menafsirkan kemampuan manusia dalam berlaku adil serta menjadikannya berada diluar ikhtiar dan keinginan mereka, maka itu adalah keadilan masalah kecintaan dalam hati dan keadilan dalam kecenderungan cinta. Meskipun dia ingin berbuat adil dan sama rata diantara istri-istrinya dalam hal cinta dapat melakukannya, padahal semua mengetahui bahwa cinta, yang merupakan kecenderungan hati, adalah perkara emosional yang dihasilkan oleh sebab-sebab dan dorongan-dorongan tertentu yang sumbernya bukan dari suami, seperti kecantikan misalnya. sudah sewajarnya bila seorang suami lebih condong dan hatinya lebih tertarik kepada istri yang lebih cantik ketimbang istri lainya. Juga, sebab-sebab lain seperti perilaku dan akhlak mulia, dimana hati suami akan lebih cenderung terhadapnya ketimbang terhadap istri yang lain. " Jelas Pak Kyai.
__ADS_1
Zidan terdiam mencerna penjelasan dari Pak Kyai, ia mulai berpikir.
Apakah selama ini aku belum berlaku adil terhadap Hafizah dan Reva? Apakah aku lebih cenderung memperhatikan Fizah dibanding Reva? Apakah itu penyebab kenapa Reva tidak mau pulang bersamaku waktu itu? Ya Allah apa yang telah aku perbuat selama ini? Begitu pikirannya.
"Dengar, Nak! Selagi masih ada waktu sebaiknya perbaiki, Reva selamat dari kecelakaan waktu itu artinya Allah masih memberi kesempatan untukmu bertobat. Minta maaflah kepada istri-istrimu! " ucap Pak Kyai.
"Tetapi kami sudah terpisah selama kurang lebih 5 tahun, Pak. Apa Zidan masih bisa menganggap Reva sebagai istri? " tanya Zidan lagi
"Kalian terpisah, bukan berpisah. Dan itu pun karena alasannya adalah Reva kecelakaan. Meski kalian terpisah selama bertahun-tahun itu tidak mengubah status pernikahan kalian dimata hukum. " jawab Pak Kyai.
"Baiklah Pak kalau begitu, terima kasih. Zidan mengerti sekarang. "
Zidan pun pamit untuk langsung menuju ke rumah mertuanya, Fizah juga ikut karena ia juga ingin membujuk Reva agar mau memberi kesempatan kedua untuk Zidan.
Sesampainya mereka di rumah orang tua Reva, Zidan juga Fizah langsung mengetuk pintu.
Tok tok tok...
"Waalaikumsalam, sebentar " terdengar suara sahutan dari dalam.
Tak lama kemudian pintu itu terbuka dan Reva lah yang membukakan pintu itu.
"Fizah! " Reva terkejut dengan kehadiran Hafizah dihadapannya.
"Mbak Reva, apa kabar? " tanya Fizah.
"Alhamdulillah baik, ayo masuk! " Reva mempersilahkan Fizah dan Zidan masuk.
"Ada apa? " itulah pertanyaan yang muncul setelah mereka duduk.
"Abi datang ke sini mau minta maaf sama Umma, Abi minta maaf atas segala sikap Abi selama ini terhadap Umma.. " ucap Zidan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Iya Mbak, Fizah juga minta maaf karena Fizah Mas Zidan jadi tidak bisa adil terhadap Mbak.." sambung Fizah.
"Saya sudah memaafkan jauh sebelum Mas Zidan minta maaf, dan untuk kamu Fizah, kamu nggak salah apa-apa. Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan lagi, saya sudah lupakan yang lalu.. " sahut Fizah.
"Lalu apakah Umma mau pulang ke rumah kita lagi? " tanya Zidan.
"Maaf kalau untuk itu saya belum bisa, beri saya waktu untuk memikirkannya! Dan Zahwa juga belum bisa beradaptasi disini. "
"Tapi apakah Umma tidak merindukan Ghibran putra kita? " tanya Zidan lagi.
"Ya, saya merindukannya tapi ada masa dimana saya akan menemuinya.. " sahut Reva dengan senyum getir.
"Apakah jarak kita sudah terlalu jauh sehingga Umma memakai bahasa formal seperti ini pada Abi? "
"Tidak, untuk sementara waktu biarkan seperti ini. Saya masih belum terbiasa.. Biar waktu yang akan menjawab semuanya. "
"Kalau begitu apa boleh Abi bertemu dengan putri kita? "
"Boleh, dia ada di kamar sedang bermain. Jangan dipaksa jika Zahwa masih belum mau! "
Zidan bangkit dari duduknya dan menuju ke kamar dimana Zahwa berada, kini tinggal lah Fizah dan Reva yang duduk di ruang tamu.
"Mbak kenapa tidak mau pulang? Itu rumah Mbak dan Mas Zidan, Fizah siap pergi dari rumah itu asal Mbak mau kembali.. " ucap Fizah.
"Jangan pergi, Zah! Tetap lah disisi Mas Zidan, Zah! Karena Mbak tidak tahu apakah Mbak masih bisa bersama Mas Zidan atau tidak, percuma saja Mbak memaksa untuk tetap berada disisinya sementara cintanya bukan untuk Mbak lagi.. Mbak yakin yang sekarang Mas Zidan lakukan adalah sebuah rasa bersalah saja, bukan karena dia masih memiliki cinta terhadap Mbak.. Jadi jangan pikirkan Mbak lagi ya.. " ucap Reva tersenyum namun air mata keluar begitu saja.
"Mbak titip Ghibran dan Mas Zidan ya, Mbak yakin kamu bisa membahagiakan mereka berdua.."
Tanpa mereka berdua sadari, Zidan mendengar semua pembicaraan antara Reva dan Fizah. Buliran air mata pun jatuh dipipinya. Zidan bertanya dalam hati, apakah benar yang saat ini ia lakukan adalah hanya sebuah rasa bersalah? Apakah cinta yang dulu ada kini sudah terganti oleh cinta kedua?
Sungguh Zidan benar-benar menyesal akan hal itu, kejadian terakhir kali ia mendiamkan Reva sampai akhirnya Reva pergi terngiang-ngiang dikepalanya.
__ADS_1