
..."Diamku bukan berarti aku baik-baik saja, tapi aku hanya berusaha agar orang lain tak tahu dengan segala kepedihanku. Karena aku yakin aku bisa melewati ini "...
...*...
...*...
Reva Pov
Saat ini aku sedang duduk di depan meja rias di kamarku, menatap pantulan wajahku disana.Wajahku sudah terlihat segar karena baru saja disiram oleh air. Aku mulai mengoleskan beberapa cream perawatan wajah dan juga lotion ditubuhku dan bersiap akan tidur. Namun belum selesai aku berdandan, pintu kamar terbuka dan disana sudah ada suamiku yang sedang menatapku dari belakang, dari cermin ini bisa kulihat wajahnya menyunggingkan senyum disana. Perlahan ia mendekatiku dan merangkul ku dari belakang, mencium disekitar lekukan bahuku. Malam ini adalah giliran malamku bersama Mas Zidan, karena beberapa malam terakhir ini Mas Zidan lebih sering tidur bersama Fizah. Ya aku tahu Fizah saat ini sedang hamil dan pastinya butuh perhatian lebih dari suamiku, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu.
"Umma sangat cantik, " itulah kalimat pertama yang aku dengar dari mulut suamiku.
Aku tersipu mendengarnya walaupun itu kalimat yang sederhana dan biasa dilontarkan oleh Mas Zidan, tetap saja hatiku merasa seperti kembali pada awal aku jatuh cinta dengannya.
"Malam ini Abi tidur di sini ya, soalnya Fizah...."
"Bisa nggak sih Abi kalau lagi berdua sama aku nggak usah nyebut orang lain? Kalau Abi memang memikirkan dia ya Abi tidur lagi aja sama dia! " aku memotong perkataan suamiku saat ia menyebut nama maduku malam dikamar ini.
"Umma kenapa marah? Siapa yang Umma sebut orang lain? Apakah Umma lupa bahwa Fizah juga istri Abi? " balas suamiku.
"Iya Umma tahu dan sangat tahu, tapi Umma hanya ingin saat Abi bersama Umma jangan membahasnya lagi.. Sungguh Umma tidak bisa menahan rasa kecemburuan ini.. "
__ADS_1
"Kenapa Umma cemburu? Bukankah ini yang Umma minta dulu? Bukankah Umma sendiri yang melamarkan Fizah untuk jadi istri kedua Abi? Lalu kenapa Umma seolah tidak senang sekarang? Apa Umma mulai menyesal dengan keputusan Umma waktu itu? " pertanyaan Mas Zidan bagai pukulan telak buatku, bahkan nada bicaranya saat ini sudah mulai meninggi.
"Tapi kenapa beberapa malam ini Abi lebih memilih tidur bersamanya padahal Abi tahu bahwa malam itu adalah giliranku? "
"Kenapa? Bukankah Umma sendiri yang mengunci pintu itu? Asalkan Umma tahu, 2 malam yang lalu Abi sudah ke sini untuk tidur bersama Umma. Tapi Umma sendiri lah yang mengunci pintu ini bahkan Abi tidur di sofa malam itu, Fizah lah yang menyelimuti tubuh Abi saat itu. Umma lebih sibuk dengan urusan kedai, bahkan Umma sendiri tidak tahu bahwa anak kita butuh perhatian dari Ummanya juga!! "
"Tapi setidaknya hargai perasaanku, Mas! Jangan bawa Fizah saat kamu bersamaku...hiks hiks hiks " mataku pun mengeluarkan buliran bening yang sudah kutahan sejak tadi.
"Umma minta untuk dihargai perasaan? Apakah Umma sendiri bisa menghargai perasaan Abi waktu itu? Apakah ada sedikit saja Umma memikirkan perasaan Abi saat ingin berjuang bersama istri Abi yang sedang sakit? Tapi Umma sendiri yang keras kepala memilih untuk menyuruh Abi menikahi Fizah, tanpa Umma sadari banyak hati yang sudah Umma kecewakan dengan keputusan Umma saat itu! " tegas Mas Zidan kemudian hening sesaat.
"Sudahlah, aku tak ingin memperpanjang masalah ini! Lebih baik Umma renungkan semua keputusan yang telah Umma ambil. Andai saja Umma tak membuat Fizah berjanji untuk menikahi Abi, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Fizah juga pasti bisa menemukan pendamping hidup yang lebih baik bukan jadi orang ketiga diantara hubungan kita! Karena keputusan yang Umma buat, orang-orang menghujat gadis sebaik Fizah. Padahal Fizah sendiri telah menolak saat Umma melamarnya waktu itu! Aku akan tidur di ruang kerjaku.." Mas Zidan berkata seperti itu kemudian ia mengambil bantal dan selimut dilemari lalu keluar dari kamar.
Sementara aku hanya diam masih terduduk di kursi meja rias menangis tersedu-sedu. Sedalam itukah aku menggores luka untuk suamiku? Sebegitu kecewanya kah ia sampai berkata seperti itu? Sungguh saat ini perasaanku berkecamuk, rasanya aku disini berperan sebagai orang yang paling jahat. Memaksa suamiku menikah lagi padahal aku jelas tahu bahwa ia mencintaiku, dan aku membuat seorang gadis menderita secara tidak langsung karena orang menghinanya sebagai perebut suami orang.
.
.
...*****...
Zidan POV
__ADS_1
.
Saat ini aku sedang berada di ruang kerjaku duduk disebuah sofa. Aku mengacak rambutku frustasi, menyesal dengan perkataan yang ku ucapkan pada Reva tadi. Secara tidak langsung aku menyalahkan dia atas segala hal yang telah terjadi, padahal mungkin semua ini adalah takdir dari Allah. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun, aku menikahi Hafizah demi Reva mau sembuh, tidak dapat kupungkiri bahwa aku sudah mulai mencintai Hafizah yang saat ini juga sedang mengandung anakku. Dia yang telah mengisi kekosongan selama aku berada jauh dari Reva. Bahkan akhir-akhir ini aku semakin tak mengerti dengan sikap Reva yang terkesan cuek, ia selalu sibuk dengan kedai yang ia kelola, bahkan terkadang saat aku pulang Reva belum ada di rumah. Aku bisa memakluminya karena aku tahu itu adalah usaha yang ia bangun dari hasil tabungannya sendiri, tapi aku juga butuh diperhatikan olehnya apalagi Ghibran yang masih sangat membutuhkan dia.
"Aaaaarrrrrrrggggghhhh... "
...#####...
Keesokan harinya aku bangun jam 7 tepat, kali ini aku bangun kesiangan bahkan melewatkan shalat subuhku. Aku masuk ke kamar Reva dan tak kudapati ia di sana. Hanya ada setelan pakaian kerja yang tergeletak diatas kasur sudah disiapkannya untukku.
"Selamat pagi.." sapaku pada kedua istriku dan juga Ghibran putraku.
"Ini udah ciang, Abi! Kenapa Abi bangunnya telat? Abang udah lapel nungguin Abi dali tadi " rutukan itu berasal dari putraku.
"Iya, sayang, maafin Abi ya soalnya Abi capek jadi kesiangan deh. "
"Dimaafi tapi ada syaratnya! Abi harus menyimak hapalan Abang, soalnya besok Abang mau setoran sama kakek " putraku itu memang sangat lucu dan menggemaskan, diusianya saat ini ia sudah bisa melafalkan huruf arab dengan fasih bahkan sejak ia belajar bicara, Hafizah mengajarinya untuk lebih dulu mengenalkannya pada huruf arab. Dan berkat didikan Hafizah lah sekarang Ghibran sudah hapal beberapa surah dalam Al-qur'an.
"Iya nanti Abi akan menyimak hapalan Abang ya. Sekarang kita sarapan "
Kami pun melanjutkan sarapan dengan tenang, kali ini yang bertugas menyiapkan sarapan adalah Reva. Kulihat ia tersenyum tulus menghidangkan makanan itu untuk kami. Bahkan ia sendiri membuat masakan yang baik untuk ibu hamil dan diberikan pada Hafizah.
__ADS_1
Maafkan aku, Umma... Aku sudah membentakmu semalam, pasti Umma merasa sakit karena ucapan Abi semalam....