
Zidan POV.
Pagi itu aku bersiap untuk berangkat kerja, namun cuaca sepertinya tidak bersahabat. Sejak subuh tadi hujan mulai turun dengan begitu keras disertai angin kencang. Pada saat jam menunjukkan pukul 7:00 hujan masih belum reda juga tetapi debit air yang turun kurasa sudah tidak sederas subuh tadi.
Aku memutuskan untuk pergi kerja dan sudah rapi dengan setelan kemejaku.
"Mas mau berangkat kerja hujan begini? " pertanyaan itu berasal dari adikku Aisyah.
Setelah perpisahan ku dengan Hafizah memang aku tinggal lagi bersama Bapak dan Umi serta adikku di pesantren. Sementara rumah yang kami tempati dulu kuserahkan pada Mbok Tuti serta pak Ali untuk menjaganya, rasanya aku tidak sanggup jika setiap malam harus tidur disana sendirian.
"Iya, Mas harus berangkat kerja soalnya ada rapat pagi ini, " jawabku menanggapi Aisyah.
"Tapi kan Mas diluar masih hujan deras, berbahaya jika Mas pergi.. Pasti pandangan Mas tidak akan kelihatan oleh derasnya air hujan, Mas! " Aisyah tampak mengkhawatirkan aku saat itu.
"Bismillah saja, dek. Mas yakin Allah akan selalu melindungi Mas.. " kataku menepuk pundak Aisyah meyakinkannya.
"Tapi Aisyah khawatir, Mas! Entah kenapa..."
"Sssttt sudah jangan berpikir macam-macam, ya! Doakan saja Mas mu ini selamat sampai tujuan! " aku tersenyum tulus pada adikku yang cerewet itu agar dia tidak lagi merasa khawatir.
Tak lama kemudian aku memintanya untuk mengantarku mengenakan payung menuju mobilku setelah berpamitan dengan Umi dan Bapak.
"Mas nggak usah berangkat kerja dulu hari ini! Aisyah khawatir, Mas. Hujannya sangat deras. " lagi lagi Aisyah berkata seperti itu saat aku hendak memasuki mobil.
"Kamu jangan khawatir, Syah! Insya Allah Mas akan baik-baik saja kok. Mas harus berangkat sekarang. Assalamualaikum, " aku pamit setelah Aisyah mencium tanganku.
Kulajukan mobil dengan kekuatan sedang bahkan lambat, disepanjang perjalanan hujan terasa turun kembali dengan debit air yang cukup deras. Itu membuat pandangan mobilku sedikit buram tertutup oleh air hujan.
Tak berapa lama kemudian kudengar ponselku berdering, aku tersenyum saat melihat siapa yang memanggilku. Ternyata itu adalah putriku, tidak biasanya dia menelpon ku sepagi ini.
Saat aku hendak meraih ponselku tiba-tiba saja ponselku terjatuh, aku mencoba meraih nya namun hal yang tak kuduga ada sebuah pohon tumbang didepan jalan. Aku terkejut dan reflek membanting setir, bukannya berhenti tapi mobilku malah terus berputar-putar sampai akhirnya aku menabrak sebuah pohon yang tumbang ditengan jalan. Setelah itu aku mulai kehilangan kesadaranku.
...........................
__ADS_1
Rumah Sakit.
"Mas Zidan, bangun.. Bangun, Mas! " sayup-sayup kudengar suara Aisyah memanggil namaku.
Aku belum sepenuhnya kehilangan kesadaran, aku masih bisa merasakan saat tubuhku diangkat dan saat ini kuyakin kami sudah berada di rumah sakit karena bau obat-obatan yang menusuk penciumanku. Aku sudah berusaha membuka mataku tapi sayangnya mataku enggan terbuka.
...******...
Author Pov.
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya dokter mempersilahkan mereka masuk untuk melihat kondisi Zidan namun secara bergiliran. Dokter mengatakan jika Zidan sudah berhasil melewati masa kritisnya.
Yang mendapat giliran pertama masuk adalah Aisyah, dia yang sedari tadi terus menangis mengkhawatirkan kondisi kakaknya itu. Tapi berhubung Zahwa juga memaksa untuk ikut masuk maka diputuskan Reva juga ikut mendampingi.
Reva melihat raut wajah putri kecilnya itu sangat sedih dan terpukul saat matanya melihat sosok yang ia rindukan pagi tadi sedang terbaring lemah disana dengan alat medis yang tentu saja tidak dimengerti oleh gadis seusianya.
"Abi..." Zahwa memanggil Abi nya dengan suara tertahan.
"Abi, bangunlah! Ini Adek datang menemui Abi, Adek sangat merindukan Abi hari ini. Kenapa Abi tidak menjawab telepon dari Adek? Apa Abi masih marah karena waktu itu Adek tidak mau mendekati Abi? Maafkan Adek, Bi.. Hiks hiks... Adek menyesal sudah bersikap seperti itu pada Abi...." ucap Zahwa sambil terus memeluk sang ayah yang masih memejamkan mata.
..........
Zidan POV.
Aku merasakan tangan mungilnya itu memelukku dengan erat, sesekali ia mengusap lembut pipiku membangunkanku. Aku berusaha bangun untuk membalas pelukannya tapi tubuhku sangat lemah. Bahkan mataku sangat sulit untuk terbuka. Hanya ada kegelapan yang saat ini menyelimuti ku.
"Sayang, Abi butuh istirahat.. Adek sebaiknya berdoa untuk kesembuhan Abi.. Kita makan yuk, dari tadi Adek kan belum makan.. " suara itu terdengar begitu lemah lembut, aku jelas mengenali suara itu.
Dia adalah perempuan yang berhasil mencuri separuh jiwaku, Reva...
"Tidak mau, Umma! Biarkan Adek disini menemani Abi.. " kata putri ku semakin mempererat pelukannya padaku.
"Adek sebaiknya dengarkan kata Umma, sekarang kita makan ya.. Nanti Abi sedih kalau Adek nggak makan dan ikutan sakit, " kedengar suara Ghibran membujuk adiknya.
__ADS_1
Ya Allah betapa saling menyayanginya kedua anakku ini, disaat aku terbaring lemah seperti ini mereka masih memperdulikan aku.
Tunggu Abi, Sayang! Abi akan berusaha untuk segera sembuh..
.............
Author Pov.
Setelah membujuk lama, akhirnya Zahwa mau diajak keluar untuk makan dan beristirahat. Lihatlah wajah mungilnya yang bislasa tersenyum itu, sekarang tidak lagi terlihat riang seperti biasanya. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang tembam itu. Hidungnya memerah akibat menangis.
"Sayang, udah dong jangan sedih lagi. Abi pasti akan sembuh kok, kalau Adek sedih nanti Abi juga akan ikut sedih.. " ujar Reva mengelus kepala Zahwa.
"Tapi Abi beneran akan sembuh kan, Umma? " tanya gadis kecil itu.
"Iya, Sayang. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk Abi.. Udah ya jangan nangis lagi, lebih baik sekarang adek mandi dan kita bersiap shalat magrib.. "
Zahwa mengangguk patuh, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ujian apalagi ini, Ya Allah? Kenapa disaat putriku sudah mulai dekat dengan ayah kandungnya Engkau malah memberi ujian seperti ini. Lihatlah putriku saat ini sangat sedih... " Reva menghela nafas panjang, rasanya tak kuat jika melihat putrinya terus menangis seperti itu.
"Semoga kamu lekas sembuh, Mas! Ada anak-anak yang menunggu kamu di sini.. "
.
Hai pembaca setia 'Keep Istiqomah'...
Menjelang detik-detik ending cerita ini, menurut kalian bagaimana?
Jika kalian menyukai karya saya satu ini mohon dukungannya untuk vote, like dan komen ya..
Pembaca yang bijak pasti mau meninggalkan jejak. Hehehe...
Nanti setelah cerita ini tamat, aku akan ubah salah satu novel aku dan buat cerita baru. Ceritanya masih seputar tentang poligami tapi konfliknya lebih sadis dari ini..
__ADS_1
Stay tune