
..."Karena kesederhanaanmu itulah yang membuatku jatuh cinta dan tak ingin mendua "...
......*......
...*...
Author Pov
Setelah merasa sedikit lebih tenang Zidan kembali ke ruang perawatan Reva, disana hanya ada perawat perempuan yang tadi Zidan suruh menjagan istrinya sebentar. Namun saat ia sudah masuk manik hitamnya menangkap wanita yang dicintainya sedang duduk didampingi oleh perawat perempuan itu.
"Abi.. " panggil Reva lirih.
Zidan menyuruh perawat tersebut untuk meninggalkan mereka berdua dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Umma sudah bangun dari tadi? ' tanya Zidan saat sudah berdiri disamping Reva.
" Baru kok Bi, Abi dari mana? " tanya Reva balik.
"Abi tadi dari mushola rumah sakit. Umma mau mau minum? "
"
Reva menggeleng dan tersenyum menggenggam tangan suaminya. Entah kenapa Zidan menangkap senyum aneh dari bibir istrinya itu, ia tidak mau terjadi kemungkinan terburuk pada wanita yang ia cintai itu.
"Umma kenapa bisa seperti ini sih? Kenapa Umma begitu keras kepala sekali menyuruh Abi untuk menikah lagi? " tanya Zidan penuh kelembutan.
"Umma hanya ingin yang terbaik buat kalian karena Umma nggak tahu sampai kapan Umma akan trrus ada bersama kalian " Reva menjawab dengan senyum penuh keteduhan.
Zidan hanya mampu terdiam sungguh dirinya tak dapat berbuat apa-apa lagi, istrinya seakan menyerah begitu saja untuk berjuang melawan penyakitnya. Lidah Zidan terasa kelu untuk menjawab perkataan istrinya itu.
"Baiklah jika dengan Abi menikah lagi bisa membuat Umma bahagia, maka Abi bersedia melakukannya asal Umma mau berusaha untuk sembuh " ucap Zidan detelah lama terdiam.
Sontak Reva yang semula menatap ke luar jendela kini beralih menatap ke arah suaminya itu dan tersenyum.
"Abi serius kan? Nggak bohong kan? " tanya Reva dengan mata berbinar.
Melihat tatapan dan wajah istrinya begitu semangat, Zidan tak tega jika harus menarik kembali perkataannya itu. Kenapa pernikahannya di uji dengan cara seperti ini..
Zidan pun hanya bisa mengangguk pasrah.
__ADS_1
...---------------------------...
Setelah 2 hari dirawat di rumah sakit akhirnya Reva sudah diperbolehkan untuk pulang. Keadaannya sudah mulai membaik bahkan lebih baik dari sebelumnya.
Sekarang Reva sudah bisa beraktivitas seperti sediakala.
Pagi itu mereka sedang berada diruang keluarga, Reva duduk disebelah Zidan yang sedang menyelesaikan pekerjaannya yang sudah 2 hari ini terbengkalai.
"Abi, soal kesepakatan Abi kemarin bagaimana? " tanya Reva memulai pembicaraan.
"Bagaimana apanya sayang? " sahut Zidan yang masih setia dengan pekerjaannya.
"Soal menikah lagi " sahut Reva to the point.
Zidan menghentikan kesibukannya dan kini menatap Reva yang ada disebelahnya.
"Semua Abi serahkan pada Umma, Abi nggak mau jika harus mencari calonnya sendiri. Kalau Umma mau ya Umma saja yang carikan ya " ucap Zidan mengelus kepala sang istri lalu meminum kopinya.
"Ya kalau gitu bagaimana jika Abi menikahi Hafizah? " tanya Reva spontan.
Uhuk uhuk uhuk.. Zidan tersedak mendengar perkataan istrinya itu. Bagaimana bisa ia menikah dengan Hafizah yang notabennya adalah pengasuh Ghibran anak mereka.
"Ya kan sama aja kalau kamu nikah sama Fizah kamu bantu dia. Fizah itu orangnya baik, santun, sayang sama Ghibran, dan dia juga tulang punggung keluarga. Jadi ya nggak apa-apa kalau kamu nikahin dia " jelas Reva.
"Nggak Umma jangan sembarangan deh, belum tentu juga Fizah nya mau nikah sama Abi yang sudah beristri " sergah Zidan
"Umma nggak sembarangan ngomong kok, dari awal juga Umma udah siapin semuanya sejak awal. Tujuan Umma bawa Fizah kesini ya hanya untuk itu "
"Terserah kamu ajalah Abi pusing mau istirahat " Zidan merasa perkataan Reva barusan sudah benar-benar diluar dugaan, ia pun membereskan pekerjaannya dan masuk ke kamar.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar, Reva segera menuju pintu dan melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum " ucap kedua perempuan paruh baya di hadapan Reva.
"Waalaikumsalam, Umi Ibu? Tumben barengan datengnya. Ayo masuk bu, Mi " Reva mempersilahkan mertua dan ibunya masuk ke dalam.
"Umi sama ibu duduk aja dulu ya Reva mau siapin minum dulu "
"Nggak usah nak kan ada Mbok Tuti, kamu duduk aja disini kebetulan ibu sama Umi mau bicara " cegah Bu Heni.
__ADS_1
Reva pun memanggil Mbok Tuti untuk membuatkan minuman dan camilan untuk mertua dan ibunya itu.
"Gimana kondisi kesehatan kamu? " tanya Umi Zulfah.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Umi "
"Nduk, ibu sama Umi kesini mau bicara sesuatu sama kamu, apa benar kamu menyuruh nak Zidan untuk menikah lagi? " tanya Bu Heni.
"Emm itu..."
Dari mana ibu sama Umi tau mengenai hal itu, apa Mas Zidan yang memberitahukan ini? " gumam Reva dalam hati.
"Jawab Nduk !! "
"I-iya Bu, Reva memang memberi izin pada Mas Zidan untuk menikah lagi " jawab Reva tak mampu menatap kedua ibunya itu.
"Allahu akbar nak, kamu sadar nggak apa yang kamu lakukan itu? Untuk apa kamu melakukan hal ini hah? Apa karena penyakit kamu itu? " Umi Zulfah benar-benar terkejut dengan pengakuan Reva.
"Jawab Nduk ojo meneng wae !! " tegas Bu Heni.
"Reva sadar kok Bu, Umi, Reva memang sengaja melakukan ini semata-mata hanya untuk kebaikan Ghibran dan mas Zidan " jelas reva.
"Baik menurutmu belum tentu baik dimata suamimu apalagi dimata Allah nak, kamu harus yakin bahwa kamu pasti bisa sembuh. Kami sebagai keluargamu akan terus mendukung kamu agar kamu cepat sembuh. Jangan menyerah seperti ini nak " nasihat Umi Zulfah.
"Maaf Umi, keputusan Reva sudah bulat. Lagi pula Mas Zidan juga sudah sepakat kok "
"Lalu bagaimana dengan nasib Ghibran anak kalian? Dia masih butuh kamu " sahut Bu Heni.
"Justru itu sudah Reva pikirkan sejak awal bu, Reva sudah menyiapkan calonnya dan dia juga sangat sayang pada Ghibran. Reva tau umur Reva sudah nggak sampai beberapa tahun lagi, makanya Reva melakukan ini demi mereka. Reva nggak mau suami dan anak Reva nggak ada yang urus setelah Reva udah nggak ada " air mata yang sedari tadi Reva tahan seketika meluncur bebas.
"Astagfirullahalazim nak istigfar.. Kamu tidak boleh mendahului takdir Allah seperti itu. Urusan maut itu hanya Allah yang tahu. Pikirkan sekali lagi keputusanmu itu, Umi yakin kamu pasti sembuh sayang " kata Umi Zulfah membelai kepala menantu nya penuh kasih.
Pembicaraan mereka itu juga tak luput dari pengamatan Zidan, ia hanya mendengar dari balik dinding. Zidan tak menyangka istrinya akan berpikir seperti itu.
.
.
Jangan lupa di like, comment dan vote juga ya..
__ADS_1