Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Sidang Keputusan


__ADS_3

..." Tersenyumlah dan berhentilah menangis, karena air mata yang engkau teteskan hanya akan membuat kaki ini sulit untuk melangkah."...


...***...


Setelah kembali dari hotel tersebut, Reva lebih banyak menghabiskan waktu bersama anak-anak. Dia juga telah menceritakan seluruh kejadian yang terjadi saat mereka berada dalam kamar itu. Begitupun dengan Zidan yang menjelaskan pada Hafizah bahwa rencana yang ia buat sia-sia saja. Zidan telah berpikir akan menerima kenyataan perpisahan ini dan mencoba membuka hati untuk menerima Fizah apa adanya.


Jika ditanya Zidan lebih mencintai siapa diantara kedua istrinya? Tentu Zidan mencintai keduanya, tetapi karena sebuah kesalahan fatal membuat Zidan lupa akan statusnya yang memiliki dua istri. Tentu kita tahu bahwa yang namanya berpoligami itu harus adil, dan keadilan itu belum mampu Zidan lakukan. Salah satu diantara mereka harus ada yang mengalah agar tidak saling menyakiti satu sama lain.


Lalu bagaimana perasaan Fizah setelah tahu bahwa Zidan dan Reva benar-benar memutuskan berpisah? Tentu saja ia merasa sedih, merasa bersalah, Fizah merasa kehadirannya bagai benalu yang mengganggu dalam kehidupan rumah tangga mereka. Fizah sudah berusaha membujuk Reva, bersujud, bahkan memohon supaya tidak menggugat Zidan. Tapi itu justru semakin memperteguh keputusan Reva. Fizah juga sebenarnya sudah mengajukan surat gugatan bersiap untuk pergi jika nanti mereka kembali bersatu, tapi kenyataan berkata lain. Mereka justru sama-sama sepakat untuk berpisah.


...------------------...


Hari itu semua keluarga Zidan berkumpul di rumah Zidan untuk menghadiri persidangan perpisahan mereka. Yang paling sedih atas keputusan ini adalah Umi Zulfah, beliau terus mengeluarkan air mata saat kaki mereka sudah menginjak halaman kantor pengadilan agama.


Di seberang sana terlihat Reva didampingi oleh kedua orang tuanya dan para sahabatnya. Wanita berjilbab itu masih bisa tersenyum di sana, sementara Umi Zulfah tak tega melihat menantunya itu memasang ekspresi biasa saja. Karena Umi Zulfah tahu di balik ketegaran hati Reva, tersimpan begitu banyak duka.


Terlihat Reva tersenyum ke arah Umi Zulfah. Membuat hati Umi semakin tak mampu jika Reva harus berpisah dengan anaknya Zidan.



Reva benar-benar kelihatan cantik hari itu. Tak lama kemudian mereka diberitahukan untuk segera memasuki ruang sidang.


"Pak Hakim, apa saya boleh bicara sebentar dengan suami saya? " tanya Reva dan langsung mendapat persetujuan.


"Assalamualaikum, Abi. Kita jumpa lagi, " ucap Reva duduk dengan bertumpu pada lutut menyetarakan pandangan mereka.


"Waalaikumsalam, kamu sudah siap Umma? " tanya Zidan.


Tentu saja percakapan mereka dapat di dengan oleh orang-orang di dalam ruangan tersebut karena memang kondisinya sepi dan hanya dihadiri oleh keluarga. Mendengar mereka masih memanggil dengan sebutan 'Abi, dan Umma' membuat para hadirin meneteskan air mata haru.


"Insya Allah, Umma sudah siap, " balas Reva yang diakhiri senyuman.


Zidan mengangkat tangannya yang bergetar ke atas kepala Reva, dielusnya kepala itu kemudian dikecup cukup lama. Zidan sedikit membacakan doa di ubun-ubun Reva lalu kemudian ia mengelusnya lagi.


"Reva Ayu Lestari istriku, saat ini dan detik ini juga saya akan menjatuhkan talak 3 kepadamu.. "

__ADS_1


Deg...


Seisi ruangan itu hening saat Zidan mengucapkan kata itu, Umi Zulfah dan Bu Heni menangis tersedu-sedu.


"Zidan! Apa-apaan sih kamu? Kenapa kamu jatuhkan talak 3 pada Reva? " tanya Umi Zulfah tak terima.


"Ini sudah semestinya, Umi.. "


"Terima kasih, Mas " pungkas Reva kemudian mencium punggung tangan suaminya itu dan kembali duduk.


Persidangan pun dilanjutkan dengan khidmat, tiada bantahan atau kerusuhan. Kedua pihak mendengarkan hakim dengan seksama. Dan diiringi dengan deraian air mata.


...*******...


"Assalamualaikum, Umi. Maaf Reva baru sempat menyapa, " Reva mencium tangan mantan mertuanya yang baru beberapa menit lalu.


"Waalaikumsalam... " Umi Zulfah tak kuasa lagi menahan tangis, bagaimana bisa Reva setenang ini dan masih tersenyum menyapa Umi. Beliau langsung memeluk mantan menantunya itu yang sudah ia anggap putrinya sendiri.


"Maafkan Umi ya, Nak. Umi tidak bisa mencegah Zidan, Umi gagal mendidik putra Umi sehingga menyakiti hati kamu.. " ucap Umi Zulfah dengan deraian air mata.


"Tak apa, Umi. Ini sudah keputusan kita berdua, dan juga sudah takdir dari Allah.. Doakan Reva semoga tetap Istiqomah dalam menjalankan kehidupan baru Reva setelah ini. "


"Ya sudah kalau begitu Reva pamit pulang ya, Umi. Ayah sama Ibu sudah menunggu di depan. "


"Iya, Sayang hati-hati. Salam buat mereka.. "


"Assalamualaikum, "


"Waalaikumsalam. "


Kejadian tersebut tak lepas dari pengamatan Zidan tentunya, betapa saling menyayanginya kedua wanita itu. Sesak sudah pasti ia rasakan saat ini, bibirnya mengucapkan kata talak begitu saja dihadapan semua orang.


"Aaaarrrggghhh...." Zidan mengacak rambut frustasi.


................

__ADS_1


"Apa yang kau lamunkan? " tanya Rama.


"Tidak ada, aku hanya mencari angin segar.. " sahut wanita itu.


"Kamu belum pandai untuk berbohong padaku Reva! " ucap Rama lagi.


"Kenapa pertanyaan kamu sudah seperti polisi sedang mengintrogasi maling saja? Duduklah temani aku melihat taman ini! " titah Reva.


"Apa kamu masih memikirkan kejadian tadi? Apa kamu merasa menyesal? " tanya Rama lagi.


"Tidak, Rama! Kamu ini cerewet sekali ya sekarang? Sejak kapan sahabatku ini jadi cerewet seperti ini hmm? "


"Ya kali aja kamu sedih dengan keputusan kamu ini, aku kan mau mencoba menghibur.." ucap Rama kikuk.


Mereka pun melanjutkan obrolan di taman tak jauh dari rumah Reva. Di sanalah tempat Reva sedari kecil mencurahkan isi hatinya ketika sedang dimarahi oleh orang tuanya atau guru! Reva baru datang kesana lagi sejak ia pulang dari Bandung, Reva menyempatkan waktunya untuk datang ke taman ini.


...-------------...


"Mas, Fizah minta maaf gara-gara Fizah hubungan kalian jadi begini.. "


"Ssssttt udah ya, Zah! Lupain semua yang udah terjadi, ini bukan salah siapa siapa kok. Mulai sekarang kita akan coba mulai semua dari awal ya, " ucap Zidan.


Fizah benar-benar merasa saat ini dia menjadi penjahat, tetangga sekitar bahkan menghujat dia sebagai perebut. Fizah tidak kuat menerima ledekan dari mereka.


Kehidupan mereka sudah berjalan sesuai keinginan masing-masing, tapi Zidan masih saja teringat bayang-bayang Reva tiap hari. Hal itu justru membuat Fizah semakin dirundung rasa bersalah. Zidan menjadi orang yang sangat pendiam, cuek dan sering pulang larut jika hari kerja. Fizah merasa benar-benar terabaikan dengan sikap Zidan yang saat ini.


"Apa ini yang kamu sebut memulai dari awal, Mas? Kenapa kamu semakin jauh? " Batin Fizah.


....................


**Hai hai hai...


Aku Up lagi nih.. Jangan lupa dukungan kalian melalui vote ya guys...


Di komentarin juga boleh barang kali ada masukan..

__ADS_1


Mohon jangan hujat Author ya, salahkan Zidan saja..


hehehe**


__ADS_2