
"Kita mau kemana nih? " tanya Zidan pada kedua bocah yang sedari tadi asik bercerita di kursi belakang penumpang.
"Gimana kalau kita ke mall aja, Abi! Abang pengen main di tempat khusus anak-anak itu.. Udah lama kita nggak ke sana terakhir kan bareng sama Umma.. " celetuk Ghibran dengan semangat.
"Abang pernah ke sana sama Abi sama Umma juga? " tanya Zahwa.
"Iya, dulu sebelum Umma pergi.. Kita sering jalan-jalan bareng sama Abi dan Umma, " sahut Ghibran.
"Kok Zahwa nggak pernah ngerasain ya? Zahwa kan juga pengen nikmati liburan bareng Abi sama Umma juga kayak dicerita Abang.. " ucap gadis kecil itu dengan nada sedih.
Pernyataan Zahwa yang didengar langsung oleh Zidan berhasil membuat hatinya merasa terenyuh. Cerita singkat dari Ghibran tadi rupanya berdampak besar bagi perasaan putri kecilnya itu. Ada perasaan bersalah muncul dalam benaknya.
"Maafkan Abi, Sayang. Abi terlalu egois hingga kamu tidak bisa merasakan kebahagiaan kasih sayang Abi selama 5 tahun ini.. " gumam Zidan dalam hati.
Hari itu Zidan habiskan waktunya hanya untuk kedua anaknya. Sampai ia lupa bahwa ada satu lagi putrinya yang selalu menunggunya di rumah. Siapa lagi kalau bukan Zaskia putri dari Hafizah.
...-------+-------...
"Baru pulang, Mas? " tanya Fizah saat melihat Zidan baru masuk ke dalam rumah.
"Iya tadi habis ajak anak-anak jalan ke mall, " jawab Zidan.
"Lalu apa kabar dengan Zaskia, Mas? " tanya Fizah lagi seketika membuat langkah kaki Zidan terhenti.
"Apa kamu lupa di sini kamu punya satu putri lagi yang setiap hari menunggu belaian kasih sayang kamu, Mas? Apa hanya Ghibran dan Zahwa yang kamu anggap anak, Mas? " tanya Fizah bertubi-tubi.
"Fizah, jangan mulai deh! Kia kan tiap hari ketemu sama aku, sedangkan mereka cuma 1 minggu sekali ketemu. Kok kamu tiba-tiba ngomong seperti itu sih, " Zidan membalik badan dan menatap Fizah.
"Ya, memang Kia tiap hari ketemu sma kamu. Tapi setiap hari juga kamu selalu sibuk dengan pekerjaan kamu, Kia juga anak kamu, Mas!! Dia juga pengen diajak jalan sama Abi nya sama seperti kamu ajak anak-anak Mbak Reva!! " ucap Fizah dengan air matanya yang mulai mengalir.
__ADS_1
"Cukup Fizah!! Apa yang barusan kamu katakan? Kenapa tiba-tiba kamu mengungkit hal Ini? Sebelumnya juga kamu tidak pernah protes kalau aku mendatangi Reva " balas Zidan dengan nada yang mulai meninggi.
"Itu karena aku masih bisa sabar dan menahannya, Mas!! Ku pikir kamu akan berubah setelah semua perjuanganku untuk mendapatkan cintamu, tapi semakin hari kamu semakin menjauh dariku, Mas!! "
"Lalu mau kamu apa, Fizah? "
"Aku mau kita pisah, Mas!! Aku sudah tidak tahan lagi hidup bersama orang yang cinta dan perhatiannya bukan untukku!! "
"Oke, kalau itu memang mau kamu. Secepat nya akan aku urus perceraian kita!! "
Degg!!
Zidan mengatakan hal itu dengan nada suara emosi dan meninggalkan Fizah begitu saja. Pertahanan Fizah luntur, kesabarannya telah habis, jika ia merasa diabaikan Fizah masih bisa terima tapi ada putrinya yang juga butuh peran seorang ayah. Sungguh Fizah tak mau terus terusan berada dalam lingkaran hubungan yang sejak awal tidak ia kehendaki.
"Bahkan kamu begitu cepat menyetujui permintaan cerai dariku, Mas!! " kata Fizah lirih menatap punggung Zidan yang menghilang dibalik pintu kamarnya.
...-----------...
Selesai makan malam, Ghibran dan Zahwa berada di ruang keluarga bersama Reva serta buku pelajaran mereka. Saat ini Reva sedang menemani mereka belajar karena besok hari senin dan mereka harus sekolah.
"Umma, lain kali kalau Abi ajak kita jalan-jalan lagi Umma ikut ya!! " kata Zahwa memecah keheningan.
"Memangnya kenapa Umma harus ikut? " Reva mengernyitkan dahinya bingung.
"Zahwa pengen deh jalan bareng Abi sama Umma, kita kan jadi kayak keluarga lengkap gitu.. Masa cuma abang aja yang pernah ngerasain jalan barenh sama Abi sama Umma.. " ucao gadis kecil itu.
"Umma nggak bisa, Sayang, sekarang ini kan sudah ada Abuya. Kita nanti jalan barengnya sama Abuya aja ya.. " kata Reva.
"Nggak mau ah, Abuya sekarang udah berubah nggak seperti dulu lagi.. Abuya Nggak pernah main bareng lagi sama kita.. " ucap Zahwa.
__ADS_1
Percakapan mereka itu juga didengar oleh Rama yang kebetulan menguping dibalik dinding. Rasa bersalahnya mencuat begitu mendengar Zahwa berkata kalau sifatnya berubah.
"Maafkan Abuya, Sayang. Abuya nggak bermaksud mengabaikan kalian. Abuya janji setelah ini akan lebih memperhatikan kalian lagi, karena sekarang kalian tanggung jawab Abuya.. " kata Rama lirih kemudian kembali ke kamarnya.
...******...
Keesokan harinya, seluruh orang yang berada di rumah Rama sudah rapi dan bersiap dengan kegiatan masing-masing hari ini. Kecuali Bianca yang terlihat menyeret kopernya untuk pulang.
"Selamat pagi anak-anak, Abuya.. " sapa Rama kepada dua bocah kecil yang sudah rapi dengan setelan seragam sekolah nya.
"Selamat pagi, Abuya.. Tumben Abuya sapa kita, biasanya cuek.. " celetuk Zahwa membuat Rama terdiam sejenak.
"Maafin Abuya ya, Sayang. Kemarin Abuya banyak kerjaan jadi sedikit cuekin kalian, " kata Rama merasa bersalah.
"Emang kalau orang dewasa lagi banyak kerjaan bisa gitu ya, Abuya? Kalau begitu, Abang nggak mau ah jadi orang dewasa. Nanti kalau abang banyak kerjaan jadi cuek sama Umma dan Adek.. " sahut Ghibran dengan polosnya.
"Nggak gitu juga, Bang. Abuya kemarin nggak cuekin kalian kok, cuma lagi capek aja.. Nanti kalau Abang udah dewasa sebisa mungkin tetap harus perhatian sama keluarga ya!! " kini giliran Reva yang menimpali.
"Siap Umma.. "
"Duh apaan sih bukannya sarapan malah nyerocos terus, pusing tahu nggak!! " Bianca bicara asal membuat Rama melotot tajam ke arahnya.
"Bianca, jaga bicara kamu itu!! Di sini ada anak-anak. " bentak Rama.
"Ah sudahlah, kakak emang nggak sayang lagi sama Bianca! Kakak lupa sama adik sendiri gara-gara perempuan ini.. Bianca pergi!! " ucap Bianca kesal, kemudian ia pun menggeret kopernya keluar dari rumah tanpa menghabiskan sarapannya.
Ada perasaan lega saat Bianca telah pergi dari rumah.
"Tante itu kenapa sih kayaknya nggak suka gitu sama kita? Kita kan anak baik, ya kan, Abuya? " ucap Zahwa setelah kepergian Bianca.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kalian anak baik, shaleh dan shalehah.. Sekarang kita lanjut sarapannya ya nanti telat lho berangkat sekolahnya.. " kata Rama.
Mereka pun melanjutkan sarapan dengan tenang. Haru, itulah yang Reva rasa saat ini, Rama begitu baik pada anaknya. Reva merasa bersalah karena sampai saat ini belum bisa membuka hati untuk Rama.