
..." Ada hari dimana kita harus berhenti sebentar menengok ke belakang, lalu bersyukur....
...Ikhlas, bukan melepaskan sesuatu dengan air mata tetapi bisa merelakan sesuatu dengan senyuman. "...
...**...
Zidan POV
Waktu seakan begitu cepat berlalu, 1 minggu sudah aku terbaring koma di ranjang rumah sakit dengan peralatan medis. Walaupun mataku terpejam dan seluruh tubuhku kaku, tapi aku masih bisa mendengar apa saja yang orang lain katakan. Aku teringat bagaimana bisa aku terbaring lemah seperti ini.
Sungguh rasanya aku tidak ingin bangun lagi, kedua istriku pergi dari sisiku.
Aku sadar bahwa beberapa waktu belakangan Ini aku terlalu fokus memperjuangkan Reva sehingga aku lupa bahwa ada satu lagi istriku yang membutuhkanku. Tapi aku juga tidak dapat membohongi perasaan ku, aku juga mencintai Reva dan aku tidak mau kehilangan dia..
Hari ini aku tersadar dari tidur panjangku, orang yang pertama kali aku lihat adalah Hafizah. Aku juga tahu jika selama seminggu ini dialah yang telah merawatku, dan tidak pernah meninggalkan aku sendirian di sini. Tapi dalam hati aku berharap Reva lah yang pertama kali aku lihat. Namun sepertinya ia benar-benar tidak mau memaafkan aku, sampai saat ini bahkan aku belum pernah mendengar suaranya selama aku sakit.
"Mas sudah sadar? Seb-sebentar ya Mas, Fizah panggil Dokter dulu.. " begitulah kalimat yang pertama ku dengar darinya.
Aku hanya menatap punggungnya yang beranjak pergi memanggil dokter.
"Bagaimana kondisi suami saya, Dok? " tanya Fizah pada dokter yang baru saja memeriksa keadaanku.
"Alhamdulillah, ini sungguh sebuah sebuah keajaiban yang luar biasa. Suami ibu bangun lebih cepat dari yang kami perkirakan. Cuma butuh waktu untuk memulihkan beberapa sel saraf yang mati. "
Dokter itu pun pergi setelah memastikan keadaanku baik-baik saja.
__ADS_1
"Mas butuh sesuatu? Mau makan atau minum, Mas? " tanya Fizah padaku.
"Air.. " itulah kata yang aku ucap pertama kali. Tubuhku terasa sangat kaku dan tidak dapat digerakkan, Fizah membantuku untuk duduk dan memberiku minum.
"Reva? " tanyaku melihat ke sekeliling yang nampak sepi, tapi kulihat wajah Fizah berubah menjadi pias dan matanya berkaca-kaca.
"Mbak Reva tidak datang ke sini, Mas. Beliau hanya menitipkan surat ini untuk Mas! " Fizah menyerahkan sebuah surat untukku yang katanya dititipkan oleh Reva, aku pun membacanya.
*Assalamualaikum, Mas...
Bagaimana kabarmu saat ini? Kuharap surat ini kamu baca setelah kamu siuman nanti. Aku sudah mendengar berita kecelakaanmu kemarin, maaf aku tidak bisa menjenguk dan menemani kamu disaat kamu sedang jatuh seperti ini.. Tapi kuharap kamu tidak sedih tanpa adanya aku, karena aku yakin Hafizah wanita yang sempurna untukmu.. Jangan cari aku lagi, Mas! Berbahagialah bersama Fizah! Aku tulus mendoakan kebahagiaan untuk kalian berdua..
Dan maaf aku membawa Ghibran bersamaku, karena tidak ada yang mengurus Ghibran dengan baik selama kalian berada di rumah sakit.
^^^Wassalamualaikum..^^^
^^^Reva*^^^
Itulah isi surat dari Reva yang tertulis diatas kertas itu, sungguh aku tidak menduga hal ini sebelumnya. Reva benar-benar ingin segera berpisah denganku, apakah kesalahanku sudah sangat fatal sehingga aku sulit sekali untuk dimaafkan.. Reva benar-benar pergi dari sisiku, ia bahkan tidak ingin lagi menemui aku saat kondisiku sedang sakit seperti ini..
Ya Allah apa ini? Apa aku harus menyetujui perceraian ini? Bukankah perceraian adalah hal yang paling Engkau benci? Hamba mohon berilah jalan keluar terbaik untuk rumah tangga kami. Air mataku luruh begitu saja setelah membaca isi surat itu.
...-------------------...
Reva Pov
__ADS_1
Aku sudah mendengar kabar bahwa Mas Zidan saat ini sudah siuman, aku bersyukur karena ia berhasil melewati masa-masa itu dengan cepat. Meski aku ingin menjauh tetapi perasaan tak bisa dibohongi. Jika aku ditanya apakah aku khawatir, jelas aku khawatir. Aku bahkan ingin sekali berada disisinya memberi dorongan dan semangat untuk dia, tapi apa dayaku. Aku tidak ingin lagi membuka luka yang sudah kututup selama 5 tahun terakhir. Meski orang berkata masalah waktu itu termasuk masalah yang sepeleh, tetapi di sini aku yang merasakan dan kurasa aku juga berhak mendapat kebahagiaan.
Sudah beberapa hari ini sahabatku Putri, Mega dan Siska datang untuk membujukku menjenguk Mas Zidan, begitu pula Umi Zulfah dan Abah Kyai mertuaku. Namun aku tetap tidak ingin pergi ke sana, bagiku surat yang waktu itu aku titipkan pada Rama sudah cukup mewakilkan kehadiranku di sana. Apalagi beberapa waktu lalu maduku datang dan memohon agar aku bersedia mendampingi Mas Zidan, bahkan Fizah rela sujud dan bersimpuh. Aku bisa melihat bagaimana besarnya Fizah mencintai Mas Zidan, sungguh aku tidak ingin lagi terjerat dalam sebuah labirin duka yang dulu kubuat sendiri.
Flashback On
2 hari setelah Mas Zidan kecelakaan, Fizah datang ke rumah dan ingin bertemu denganku. Dia langsung bersimpuh memohon agar aku mau datang ke rumah sakit untuk menjenguk Mas Zidan.
"Mbak, Fizah mohon sama Mbak datanglah dan jenguk Mas Zidan di rumah sakit, Mbak! Dia butuh Mbak saat ini, Dokter bilang dia butuh dorongan semangat untuk sembuh, Mbak. Mas Zidan saat ini sedang koma, Mbak. Fizah mohon sama, Mbak beri Mas Zidan kesempatan!! " ucap Fizah yang saat itu berlutut dihadapanku.
"Bangunlah, Fizah! Aku tidak mau melihatmu bersimpuh seperti ini, sekeras apapun kamu mencoba membujukku keputusanku tetaplah sama. Tanggung jawab untuk merawat Mas Zidan sekarang ada di kamu! Jadi berhenti memohon seperti ini! " Kataku mengangkat tubuh Fizah dilantai.
"Kenapa Mbak melakukan ini pada Mas Zidan? Apakah Mbak tidak mau memberi kesempatan untuk Mas Zidan? Dengan sikap Mbak yang seperti ini benar-benar menyiksa keadaan Mas Zidan, Mbak! " ucap Fizah lagi.
"Aku tidak bisa pergi, Zah! Percuma kamu memintaku untuk pergi ke sana, aku akan tetap pada pendirianku. "
"Mbak, Fizah rela jika Mas Zidan menceraikan Fizah. Demi Allah Fizah ikhlas, Mbak! "
"Ssstttss jangan katakan itu lagi, Zah! Mbak memilih kamu untuk menikah dengan Mas Zidan hanya untuk membuat Mas Zidan bahagia.. Jika kalian juga berpisah itu sama saja kamu tidak menghargai perjuangan Mbak di sini! " ucapku.
"Tapi Mbak, bagaimana bisa aku hidup bersama orang yang hatinya sama sekali bukan untukku? Aku tidak bisa memaksakan Mas Zidan untuk tetap berada disisiku saat hatinya terus memikirkan perasaan padamu, Mbak! "
"Maka dari itu berjuanglah, Fizah! Perjuangkan cintamu pada Mas Zidan dan raihlah hatinya! Mbak yakin perlahan kamu pasti bisa mendapat cinta seutuhnya dari dia.. Mbak mohon Jangan tinggalkan Mas Zidan! Berjanjilah!! " kataku
Flashback Off
__ADS_1