
"Halo, kak Rama dimana? Ini aku udah ditempat janjian, " ucap Fizah melalui sambungan telepon.
"Iya ini aku juga lagi jemput Reva.. Kamu sudah sama dia kan? " tanya Rama.
"Sudah, Kak. Semua susah aku atur.. "
Sementara Rama yang baru saja tiba di rumah Pak Badri, ia sudah melihat Reva sudah bersiap dengan memakai setelan kemeja putih dan rok berwarna coklat susu, dan kepala dibalut jilbab berwarna abu-abu.
"Sudah siap? " tanya Rama.
"Tapi aku nggak yakin dengan rencana kalian ini, hati aku menolak.. "
"Kamu yakin aja, di sini kami cuma mau membantu kalian untuk bicara empat mata dari hati ke hati. Selebihnya kalian yang menentukan, " ucap Rama meyakinkan.
Saat ini mereka telah sampai disebuah hotel sederhana namun dengan desain yang terlihat mewah, Reva terperangah saat menyadari tempatnya berada saat ini.
"Ini kan hotel, ngapain kita ke sini? " tanya Reva yang terlihat bingung.
"Ya nggak tahu, ini juga alamat yang dikasih Fizah ke aku kok. "
"Kamu nggak bercanda kan, Ram? " tanya Reva penuh selidik.
"Hei hei Nyonya! Kamu pikir aku ini otak mesum apa? Walaupun aku mencintai kamu, aku juga nggak akan ngelakuin hal bodoh itu. Kalo mau udah dari dulu kali.. " ucap Rama mencoba mencairkan suasana.
"Apaan sih, Ram? Nggak lucu tahu! "
"Ya sudah ayo ke dalam! "
Kedua orang itu masuk ke hotel tersebut dan menuju kamar yang telah Fizah persiapkan.
...------------------...
Reva Pov
Aku saat ini sedang berada di dalam lift, lagi lagi Rama meminta hal aneh padaku. Ia menyuruhku untuk menutup mataku dengan kain berwarna merah. Entah saat ini kami sedang berada di lantai berapa, Rama terus membimbing jalanku hingga aku mendengar decitan pintu terbuka. Pikiranku hanya satu, kami saat ini akan masu ke sebuah kamar.
"Kamu tunggu sini ya! Nanti kalo 15 menit aku belum datang kamu boleh buka penutup mata kamu! " ucap Rama.
"Kamu mau ninggalin aku sendirian di sini? Kalau ada orang lain masuk terus berbuat macam-macam sama aku gimana? " tanyaku lagi.
"Kamu tenang aja, disini aman kok.. " ucapnya lalu dia pergi entah kemana.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku mendengar lagi suara pintu yang kembali terbuka dan kemudian tertutup kembali, dan terakhir kudengar suara seseorang memutar kunci.
Sungguh hatiku sudah was was jika ada orang jahat yang masuk.
Aku meraba sekitarku hendak mencari pintu, tapi tiba-tiba saja tubuhku menabrak seseorang. Akupun menjerit.
"Aaaaaaaaa... "
"Siapa itu? " tanya orang itu.
Tapi tunggu dulu! Suara itu seperti aku mengenalnya. Dengan cepat ku buka penutup mataku kemudian yang kulihat adalah....
"Mas Zidan! "
"Reva! "
Kami saling memanggil saat kedua penutup mata kami terbuka.
"Kamu kok bisa ada di sini? " tanya Mas Zidan.
"Ini semua Fizah yang merencanakannya, Mas! " sahutku lalu duduk ditepi tempat tidur yang banyak ditaburi dengan bunga. Sungguh semua sudah dipersiapkan oleh Hafizah dengan sangat baik.
Apa dia pikir kami akan.... Ah sudahlah, tak baik membayangkan hal yang bukan milikku..
"Rama yang memberitahu semuanya padaku, Fizah meminta Rama untuk membawa aku ke sini, Mas. "
Sejenak kami berdua terdiam tanpa sepatah kata pun, sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Apa kamu benar-benar sudah membulatkan keputusan kamu untuk berpisah denganku? " tanya Mas Zidan padaku.
"Iya, Mas. Aku sudah ikhlaskan semuanya, dan aku harap kamu bisa menjaga hubungan kamu dengan Fizah! " ucapku.
"Umma! " dia memanggilku dengan penuh kelembutan, suara panggilan itu yang selama ini aku rindukan kembali kudengar. Mas Zidan menggenggam erat tanganku, kemudian ia membalikkan badannya menghadapku.
"Tatap Abi sebentar saja! " titahnya yang membuatku menoleh menatap netranya yang sedang menatapku dengan tatapan penuh kerinduan.
Lama kami saling menatap, saling menyelami pandangan masing-masing. Sepasang mata yang beberapa tahun terakhir ini tidak lagi kupandang, dan kini kembali bersitatap.
Perlahan dia mulai mendekatkan wajahnya ke arahku, sungguh hatiku tidak tahu harus bereaksi apa. Aku hanya memejamkan mata karena tak sanggup menatap wajah itu, wajah yang selama 5 tahun terakhir sudah mulai kulupakan.
Andai saja para readers tahu kenapa aku bersikeras meminta pisah darinya, aku sudah tak sanggup lagi menahan sebuah beban yang cukup sulit bagiku.
__ADS_1
Awal pernikahan kami saja sudah dilandasi atas kebohongan, ia bahkan belum memutuskan hubungan dengan kekasihnya saat itu. Aku sudah mencoba memaklumi sikap Mas Zidan yang mungkin harus membagi waktu untukku dan maduku, tapi semakin hari perhatian dan cintanya memudar untukku.
Memang aku yang menyuruh dia untuk menikah lagi, dan mungkin ini juga sebuah karma karena aku waktu itu telah mendahului takdir Allah. Sungguh aku ikhlas, aku sudah merelakan perpisahan kami.
Perlahan tapi pasti sebuah benda lembut dan kenyal menyentuh bibirku, ternyata dia saat ini mencium bibirku. Apa ini? Kenapa aku harus dihadapkan dalam keadaan sulit seperti ini.
"Cukup, Mas! Aku nggak bisa, " ucapku menahan bibirnya dengan tanganku.
"Kenapa? Abi sangat rindu terhadap Umma, " sahut Mas Zidan.
"Entahlah, Mas! Saat ini aku merasa kita seperti orang asing saja, aku benar-benar tidak bisa, Mas. "
"Jadi kamu menolak Abi dan tetap kuekueh dengan pendirian kamu? " tanyanya sekali lagi.
Aku tak mampu menjawab dwngan kata-kata, aku hanya mampu menganggukkan kepala menjawab pertanyaan darinya.
"Baiklah jika itu kemauan kamu, aku tidak akan mengekangmu jika kamu tidak bersedia lagi berada disisiku. Terima kasih sudah menemani hidupku, sekarang pulanglah! Kasihan anak-anak menunggu di rumah. Kamu juga harus mempersiapkan diri untuk persidangan nanti.. " ucap Mas Zidan dengan nada lemah.
Sungguh aku tak kuasa mendengar suara dia seperti itu, aku lemah tak bisa membendung air mataku lagi.
Reflek aku memeluknya dengan sangat erat, kulingkarkan tanganku dipinggangnya.
"Maaf, Mas ... Maaf, " ucapku lirih.
Dia hanya membalas pelukanku tak kalah erat dan mengelus punggungku.
"Pulanglah! Jaga anak-anak dengan baik, nanti Mas akan sering menjenguk mereka, " katanya saat mengelus punggungku.
Dia pun menangkup wajahku dan menghapus air mata yang membasahi pipiku.
"Sudah ya jangan menangis lagi! Mungkin ini cara Allah agar kita sama-sama bisa memperbaiki diri kita. "
"Iya Mas, terima kasih.. Maafkan aku jika aku terlalu banyak salah dan belum menjadi istri yabg baik buatmu, Mas. "
"Iya, Mas juga minta maaf tidak bisa berlaku adil terhadap kamu.. "
"Aku pamit ya, Mas. Assalamualaikum, " aku pun pamit dan menelpon pihak hotel untuk meminta membukakan pintu. Karena posisinya kami saat ini dikunci dari luar.
......
**Hola.. Maaf baru update soalnya miris kuota.. Alhamdulillah sekarang udah bisa up lagi...
__ADS_1
Jangan lupa vote juga komen ya guys..
Happy Reading**.