
Reva terbangun pukul 3 dini hari, kebiasaannya menunaikan shalat tahajud ikut terbawa sampai kerumah. Ia menoleh kesamping dan melihat suaminya tertidur pulas disebelahnya, segera ia menuju kamar mandi mensucikan diri menunaikan shalat disepertiga malamnya. Reva curhat dalam dalam shalatnya hingga tak terasa waktu sudah memasuki azan subuh. Segera ia bangunkan Zidan untuk menunaikan kewajibannya.
"Mas bangun mas.. Udah subuh " dengan tangan yang gemetar Reva menggoyangkan tubuh Zidan agar segera bangun.
Zidan mengerjapkan mata dan menggeliat, tersenyum manis kala melihat sang istri yang tampak cantik memakai mukenah. Tanpa berlama-lama Zidan langsung bergegas untuk pergi ke masjid.
Pagi itu suasana rumah masih dalam keadaan ramai, rencananya sanak family Reva akan pulang hari itu juga. Sehingga beberapa dari mereka sudah mempacking barang-barangnya.
"Eh pengantin baru.. Sini duduk sini " kata Bi Inah adik dari ibu Reva.
"Gimana malam pertama kalian? Sudah jebol belum? " ceplos Bi Inah yang membuat Reva tertunduk malu.
"Hush kamu ini kalo ngomong nggak di rem dulu ya.. Kan jadinya malu anak itu " sahut Bu Heni.
"Ya maaf namanya juga penasaran kok... "
Reva ikut bergabung dengan para kerabat perempuannya, mendengarkan obrolan mereka dengan seksama walaupun kadang arah pembicaraan mereka menjurus ke arah yang tak tentu. Namun tanpa disadari ada sepasang sorot mata yang memperhatikannya dari kejauhan. Ya Zidan sedang memperhatikan Reva yang tengah asik bercanda ria tertawa bersama keponakan-keponakan kecilnya.
Senyum kecil timbul disudut bibirnya itu seakan menggambrkan kebahagiaan yang dirasakannya.
Setelah semua keluarga pulang kini tinggal-lah Reva, Zidan dan kedua orang tuanya. Reva tampak sibuk membantu ibu membereskan rumah sementara Zidan membantu pak Badri mengangkat kursi ke ruang tamu. Hari itu mereka habiskan untuk beres-beres rumah.
Saat Reva mencoba meraih sebuah tas yang ada diatas lemarinya, tib-tiba kursi yang ia gunakan sebagai tumpuannya bergoyang dan menyebabkannya kehilangan keseimbangan. Zidan yang baru masuk ke kamar pun dengan sigap menangkap tubuh wanita yang hampir terjatuh itu.
Tatapan mereka bertemu dan saling mengunci, posisi keduanya sangat dekat hampir tidak ada jarak diantara mereka.
"Kamu nggak kenapa-kenapa kan? " tanya Zidan.
"Eh itu.. tidak apa-apa " Reva langsung menjauhkan dirinya dan menunduk, wajahnya mulai memerah karena malu sekaligus canggung.
"Kamu mau ambil tas itu? Ini..." Zidan menengadah keatas dan mengambil tas tersebut.
"Terima kasih..."
Dengan secepat kilat Reva menghilang dari hadapan Zidan, jantungnya berdegup kencang tiap kali mereka berdekatan. Apakah mungkin Reva sudah mulai memiliki rasa terhadapnya? Ah entahlah yang pasti Reva sendiri bingung dengan perasaannya.
__ADS_1
*****
"Nduk, bapak sama ibu mau ke pabrik dulu ya.. Kamu jaga rumah sama nak Zidan kemungkinan pulangnya malem " Bu Heni memberitahu niat kepergiannya.
"Kok mendadak gitu sih bu? Apa nggak bisa ditunda besok saja? " tanya Reva yang menangkap sorot mata yang tak biasa dari ibunya.
"Nggak bisa lho nduk, mereka butuh Ayah sama Ibu buat nge-cek produksi kopi di pabrik. Kamu jaga rumah ya "
Pak Badri dan Bu Heni memang merencanakan kepergian mereka sejak semalam. Tujuan mereka adalah untuk memberi kesempatan bagi Reva dan Zidan menghabiskan waktu berdua. Harapan mereka akan segera memiliki cucu dari anak tunggalnya itu.. Semoga mereka memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, begitu harapan mereka.
Setelah kepergian orang tuanya, rumah terasa sepi hanya tinggal mereka berdua saja didalam rumah. Rasa canggung mulai bermunculan dalam keheningan tersebut.
"Mas mau makan sekarang? " tanya Reva sedikit canggung.
"Boleh, tapi ditemani sama kamu ya.." sahut Zidan dengan senyum termanisnya.
Mereka berdua segera beranjak menuju meja makan, Reva mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauknya untuk suami yang dinikahinya kemarin. Mereka berdua makan dengan tenang.
Namun tiba-tiba tangan Zidan bergerak kearah bibir Reva mengambil nasi yang menempel disudut bibirnya.
****
"Reva, boleh aku tanya sesuatu? " Zidan mulai membuka percakapan.
"Boleh Mas, mau tanya apa? "
"Apa alasanmu menerima pinanganku? "
Deg...
Pertanyaan yang tak terduga dari mulut Zidan membuat Reva terkesiap.
"Karena aku yakin Mas adalah orang yang dikirim Allah untuk menjadi imam untukku " jawab Reva setelah beberapa saat kemudian.
"Lalu bagaimana jika suatu hari nanti aku belum mampu menjadi imam yang baik untukmu? " tanya Zidan yang bertujuan menguji istrinya itu.
__ADS_1
"Kalau pun memang begitu, sudah tugas saya sebagai istri mengingatkanmu agar kamu tidak lalai dalam tanggung jawabmu sebagai seorang suami Mas " jawaban singkat dari Reva namun membuat hati Zidan tersentuh.
"Subhanallah... Aku memang tidak salah memilihmu sayang, dari awal aku sudah menduga saat aku melihatmu pertama kali " satu kecupan mendarat dikening Reva membuat pipinya merona.
"Apa kamu siap jika aku meminta hakku sebagai seorang suami hari ini? " Zidan menatap lekat pada istrinya yang dibalas anggukan kepala.
Zidan tersenyum cerah setelah mendapat lampu hijau dari istrinya tersebut. Perlahan Zidan membuka peniti yang mengait dijilbab yang Reva kenakan.
Siang itu Reva telah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri yang seutuhnya. Dengan ikhlas dia menyerahkan segala yang ada pada dirinya untuk sang suami. Mencintai imamnya dengan sepenuh hati. Kini sudah tidak ada lagi jarak yang akan membuatnya merasa canggung ataupun malu, semoga ia dan suaminya akan tetap istiqomah dalam pernikahan dan menjalani biduk rumah tangga yang rukun dan damai.
Reva meniatkan hatinya berusaha untuk menjadi istri yang shalehah untuk suaminya itu. Berusaha memperbaiki diri agar suatu saat tidak ada keluhan yang ia terima dari sang suami.
****
Saat malam tiba mereka sedang duduk diruang keluarga dan menonton tv. Terdengar suara mobil berhenti dihalaman rumah mereka. Mereka sudah dapat menebaknya dan itu adalah orang tuanya. Segera ia membukakan pintu untuk kedua orang tuanya itu.
Ya walaupun sebenarnya Pak Badri dan Bu Heni tidak benar-benar pergi ke pabrik. Mereka hanya beralasan saja agar Zidan dan Reva bisa menikmati waktu berada, padahal mereka hanya mampir ke rumah saudara. Terlihat senyum kemenangan diwajah Ayah dan Ibunya saat mereka masuk kedalam rumah.
Sepertinya rencana kita berhasil ya Pak?
Bu Heni menatap suaminya dan memberi kode yang dibalas kedipan mata oleh Pak Badri.
*
*
*
Guys jangan lupa dukung terus karya Author ya. Dukungan kalian itu sangat berarti buat aku, biar author juga lebih semangat updatenya...hebe.
Jumlah Views nya nambah tapi nggak setara sama like nya.
Jadi jangan lupa di like, komen, dan vote juga ya guys...
Happy Reading sahabat..
__ADS_1