Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Terjatuh


__ADS_3

Hafizah Pov


Pagi itu aku bersama Ghibran anak majikanku sedang bermain di ruang keluarga, keadaan rumah saat itu sangat sepi. Entah apa yang terjadi diantara majikanku itu, mereka berdua tampak saling diam. Aku pin tak mau terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka.


Aku juga tidak menyangka jika Mbak Reva akan melamarku menjadi madunya, setelah penolakanku itu Mbak Reva jadi sering melamun. Aku merasa kasihan padanya terkadang aku merasa apa kata-kata ku waktu itu menyakiti hatinya? Ah sudah lah aku tak mau memikirkan hal itu, walau bagaimanapun aku ini hanya seorang pengasuh dan tak mau hadir diantara hubungan mereka.


Pagi itu ku lihat Mbak Reva keluar dari kamarnya, akhir-akhir ini beliau sering mengurung diri di kamar. Tapi Pagi ini wajahnya tampak pucat sekali dan beberapa detik kemudian ia terjaruh setelah sempat memegangi kepalanya.


"ASTAGFIRULLAHALAZIM !!! MBAK REVA !! " teriakku saat melihat majikanku terjatuh ditangga.


Segera aku menggendong Ghibran dan menghampiri majikanku yang kini sudah tergeletak.


"Mbok !!! Mbok Tuti!! " panggilku sekuatnya.


"Ada apa Zah teriak begitu? Masya Allah nyonya kenapa Zah? " sahut Mbok Tuti kemudian mengalihkan pandangannya pada Mbak Reva.


"Mbok jagain Ghibran sebentar ya Mbok, Fizah mau bawa Mbak ke rumah sakit " kataku sambil membopong tubuh majikanku itu.


"Iya iya zah cepat ya, hati-hati dijalan "


Debgan sekuat tenagaku, aku membopong tubuh Mbak Reva menuju mobil dan menyambar kunci mobil yang terletak ditempat kunci. Untungnya sewaktu aku bekerja di Jogja aku diajarkan oleh majikanku cara mengendarai mobil.


"Maaf Mbak kalau aku lancang, keadaan nya darurat " kataku pada Mbak Reva yang aku tahu walau beliau tidak akan mendengarnya.


Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit, sesampainya di rumah sakit aku langsung berteriak minta tolong pada petugas untuk membantuku mengangkat Mbak Reva.


"Tolong suster tolong saya!! Saudara saya jatuh dari tangga tolong bantu saya sust " teriakku saat sampai di lobi rumah sakit.


Untunglah semua perawat dan suster disana bergerak dengan cepat sehingga tak butuh waktu lama untuk Mbak Reva mendapat perawatan. Kepala beliau sedikit berdarah mungkin karena benturan saat ia terjatuh tadi.


"Ya Allah Mbak, kamu harus kuat Mbak " kataku mengiringi laju bankar yang membawa Mbak Reva.


"Maaf Mbak sebaiknya menunggu diluar karena pasien akan ditangani oleh dokter " kata suster menahanku di depan pintu.


Saat aku menunggu dengan perasaan cemas, aku baru ingat untuk mengabari pak Zidan tentang musibah yang menimpa Mbak Reva istrinya.


Aku mengambil ponsel disaku dan menelpon nomor pak Zidan untuk mengabarinya.

__ADS_1


"Halo Assalamualaikum, pak Zidan ini saya Hafizah pak " kataku setelah telpon tersambung.


"...."


"Pak Zidan sebaiknya kerumah sakit sekarang juga pak, Mbak Reva jatuh dari tangga "


"....."


"Iya pak akan saya kirim alamatnya "


.


.


Zidan POV


Saat itu aku sedang dikantor baru memulai pekerjaanku, tiba-tiba saja ponselku berbunyi dan kudapati Hafizah yang menelpon.


"Halo Assalamualaikum, pak Zidan ini saya Hafizah pak " suaranya terdengar sangat panik.


"Waalaikumsalam Zah, ada apa? " sahutku.


"Pak Zidan sebaiknya kerumah sakit sekarang juga pak, Mbak Reva jatuh dari tangga "


"Iya pak akan saya kirim alamatnya "


Aku benar-benar terkejut saat mendengar kabar dari Hafizah di telpon tadi, Reva jatuh dari tangga dan saat ini ada dirumah sakit. Bagaimana bisa ia terjatuh sementara Reva itu adalah tipe orang yang sangat hati-hati.


Tanpa berpikir lama aku segera menuju rumah sakit yang alamatnya sudah dikirim oleh Hafizah tadi.


"Fizah, bagaimana kondisi Reva sekarang? " tanyaku pada Hafizah yang sedang duduk termenung.


"Mbak Reva masih diperiksa oleh dokter pak, tadi beliau jatuh dari tangga..." jawab Hafizah dengan air mata yang mengalir, terlihat jelas kecemasan diwajahnya itu.


"Bagaimana bisa Reva jatuh dari tangga Zah? Apa kamu lihat waktu Reva terjatuh? " tanyaku lagi.


"Saat Fizah sedang bermain dengan Ghibran, Fizah memang lihat Mbak Reva keluar dari kamar dan memegangi kepala. Tapi saat Mbak Reva turun beliau kehilangan keseimbangan pak " jelasnya padaku.

__ADS_1


"Astagfirullahalazim..."


Aku mengusap wajahku kasar dan menghela nafas panjang. Semoga saja istriku saat ini baik-baik saja.


"Kamu tenang ya Zah, kita berdoa agar Reva baik-baik saja. Oh iya kamu kesini naik apa tadi? " tanyaku yang baru menyadari bahwa Fizah datang sendirian membawa Reva ke rumah sakit.


"Maaf pak saya lancang, tadi saya mengendarai mobil Mbak Reva karena terlalu panik. Ini kuncinya pak " kata Hafizah menyerahkan kunci mobil itu padaku.


"Kamu simpan saja dulu, nanti kalau kamu pulang bawa lagi mobilnya " kataku.


Sekarang kami hanya berdua menunggu dokter selesai memeriksa Reva. Hafizah duduk dikursi tunggu sementara aku berdiri agak jauh darinya sambil terus berdoa. Tak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka dan terlihat dokter keluar dari sana.


"Keluarga Ibu Reva " panggil dokter.


"Saya suaminya dok " sahutku menghampiri dokter itu.


"Eumm begini pak, kondisi Bu Reva saat ini benar-benar buruk, apa akhir-akhir ini beliau mengalami stres yang berlebihan? " tanya dokter.


"Anda jelas tahu dok istri saya stres karena permintaan dia waktu itu. Sampai saat ini ia masih terus mendesak saya dok " jelasku pada dokter Irwan yang memang juga menangani Reva waktu itu.


"Pak sebaiknya turuti saja permintaan beliau, siapa tahu dengan itu beliau bisa kembali semangat untuk melakukan pengobatan. Beliau sepertinya terlalu stres dan saya sudah katakan jangan sampai membuat beliau seperti ini "


"Dan juga mungkin kami akan merujuk Bu Reva untuk berobat ke luar negeri. Kebetulan ada salah satu teman saya yang bekerja disana spesialis kanker. Tapi..." kata dokter itu lagi kemudian terhenti.


"Tapi kenapa dok? " tanyaku penasaran.


"Tapi Bu Reva tidak mau menjalani pengobatan diluar negeri pak, kami sudah berusaha membujuknya. Mungkin bapak dan keluarga bisa membujuk beliau agar mau melakukan pengobatan ini " kata dokter itu lagi.


Aku terdiam setelah mendengar penjelasan dari dokter Irwan barusan, aku tahu sebab Reva tak ingin berobat ke luar negeri. Istriku itu tetap keras kepala menyuruhku menikah lagi. Pasti itulah sebabnya ia tak mau berangkat ke luar negeri.


Bagaimana pun caranya aku harus bisa membuatnya mau melakukan pengobatan ini. Aku hanya ingin Reva sembuh dan bisa kembali beraktivitas seperti biasa, kembali berkumpul bersama kami meski nanti akan ada syarat yang akan diajukan olehnya.


Ya Allah kuatkan hamba, kuatkan istri hamba dan berilah ia kesempatan untuk sembuh seperti sedia kala. Sungguh aku sangat merindukan tawa riangnya itu.


.


Jangan lupa di like, coment dan vote juga.

__ADS_1


Maaf telat update soalnya kuota habis hehe


__ADS_2