
Reva pulang bersama Rama dan juga Zahwa, putri kecilnya itu tidur dipangkuannya. Sementara Reva terus menatap ke luar jendela, entah apa yabg ia pikirkan hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Rama melirik ke arah sahabatnya itu, ia juga merasa sedih melihat kondisi Reva yang seperti ini. Tapi Rama juga tak mau memaksa Reva untuk segera melepaskan apa yang menjadi bebannya.
"Kamu masih mikirin yang tadi ya? Dia bicara apa? " tanya Rama hati-hati.
"Iya, dia tadi mengajakku pulang.. Jujur saja aku masih bingung, " jawab Reva.
"Apa yang masih membuat kamu bingung, bukankah kamu bilang sudah ada keputusan yang kamu ambil? " tanya Rama.
"Iya aku sudah mempersiapkan jawaban yang tepat, tapi aku belum melihat tujuan dia yang sebenarnya. Dia tadi sempat menyebut nama maduku, aku jadi ragu untuk kembali. "
"Jadi menurut kamu, apa dia ...? "
"Aku takut dia masih belum bisa berlaku adil, Ram. Hati aku masih belum bisa melupakan saat dia membentak aku waktu itu, Demi Allah dulu dia tidak pernah sekali pun membentak aku. "
"Kalau itu yang kamu pikirkan, coba kamu bicarakan baik-baik dengannya. Dengar, Reva! Tidak ada salahnya jika kamu memberi Zidan kesempatan kedua, lagi pula selama ini kamu selalu memikirkan dia kan? Ini sudah 5 tahun, memangnya kamu nggak pengen ketemu sama anak kamu dirumah? Dia juga pasti selama ini merasa sedih, Va! " ucap Rama.
"Kamu benar, Ram. Aku akan coba buka hati aku untuk memaafkan Mas Zidan.. "
...*********...
Keesokan harinya, Zidan kembali berkunjung ke rumah singgah. Ia membawa beberapa bingkisan berupa makanan dan mainan anak-anak, sengaja ia melakukan itu karena tujuan dia adalah untuk membujuk Reva agar mau kembali bersamanya.
Reva yang sedari tadi berada didalam merasa penasaran karena mendengar suara riuh anak-anak dari arah depan. ia pun keluar untuk melihat ada apa dengan mereka.
"Ternyata dia sudah datang, tapi kenapa aku biasa aja ya? " gumam Reva.
Tak lama kemudian, Zidan menghampiri Reva yang berdiri diambang pintu.
"Assalamualaikum, Umma. " ucap Zidan.
"Waalaikumsalam, ada apa, Mas? " tanya Reva.
"Tidak ada, Abi ke sini hanya ingin berusaha mengajak istri Abi pulang, " ucap Zidan.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu, Mas. Kamu datang menjemput aku di sini apakah karena tugas kamu sebagai seorang suami atau karena kamu merasa hati kamu ada yang kosong? " tanya Reva.
__ADS_1
"Kenapa Umma tanya seperti itu? Abi datang ke sini cuma buat jemput Umma dan kita kembali lagi seperti dulu. " sahut Zidan.
"Lalu jika aku kembali, apakah kamu memikirkan perasaan Fizah? Apa dia tidak merasa sakit hati jika nanti kamu tiba-tiba membawa aku pulang ke rumah? "
"Tidak, Fizah tidak seperti itu orangnya. Mas sudah menelpon nya kemarin, dan dia setuju membawa kamu pulang. " jawab Zidan.
"Itu berarti kamu datang karena suruhan Fizah, bukan karena kamu memang tulus ingin aku kembali.. Pulanglah, Mas! Kasihan Fizah menunggu kamu dengan anak-anak. " lanjut Reva.
"Tapi Abi ke sini karena.."
" Cukup, Mas! Aku akan pulang sendiri jika hatiku sudah merasa yakin. Pulanglah! " Reva berbalik dan meninggalkan Zidan seorang diri.
"Reva tunggu Reva...!!! " Zidan terus memanggil nama Reva namun tidak dihiraukannya sama sekali.
"Sudahlah, lebih baik kamu beri waktu dia untuk menenangkan hati dan pikirannya.. Jika nanti dia sudah bisa menerima pasti Reva akan kembali padamu!! " ucap Rama menepuk bahu Zidan.
Dengan terpaksa Zidan pergi meninggalkan rumah singgah tanpa Reva, harapan akan membawa Reva kembali seolah sirna begitu saja.
Zidan kembali ke hotel dan segera mempacking barangnya untuk bersiap pulang, perkataan Reva tadi terus terngiang di kepala Zidan. Saat ini ia perlu bertanya pada istri keduanya dan meminta nasihat dari Bapaknya.
.............
Setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat panjang, Zidan sudah sampai di rumah dan saat ini sedang duduk bersama Fizah di ruang keluarga.
"Zah, Mas mau tanya sama kamu. "
"Mau tanya apa, Mas? "
"Apa Mas selama ini tidak adil dalam memperlakukan kalian berdua? Kenapa Reva menolak untuk pulang? " tanya Zidan.
"Mas, yang tahu dengan sikap Mas itu adalah Mas sendiri. Fizah sebagai istri kedua hanya menerima setiap perlakuan dari Mas. Lebih baik Mas intropeksi diri mas dulu, Fizah yakin Mbak Reva saat ini sedang ingin menguji keseriusan dari kamu, Mas. " ucap Fizah.
Zidan hanya diam saja tampak memikirkan apa yang baru saja diucapkan oleh Hafizah.
Sementara disisi lain, Reva sedang duduk termenung menatap langit yang dihiasi oleh bintang.
"Umma, Awa boleh tanya sesuatu nggak? " tanya Zahwa.
__ADS_1
"Boleh kok, Zahwa mau tanya apa? "
"Om yang kemarin itu beneran Abinya Awa ya, Umma? Tapi Kenapa selama ini Abi nggak pernah menemani Awa main? " pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir mungil Zahwa.
"Itu karena Abi tinggalnya di kota lain, Sayang. Abi juga kan harus kerja cari uang. "
"Tapi kalau Abi cari uang kenapa nggak pernah beliin mainan buat Awa? Kenapa nggak seperti Abuya yang selalu beli mainan buat Awa? " tanya gadis kecil itu lagi.
"Itu karena...."
"Awa nggak suka sama Om itu, kemarin Awa lihat kalau Umma nangis setelah ketemu sama Om itu! Pokoknya Awa cuma mau punya Abuya! " perkataan Zahwa barusan membuat Reva terdiam.
"Ya Allah kenapa anak hamba berpikir seperti ini? Maafin Umma ya, Nak. Kalau bukan karena Umma pasti kamu sudah mendapat kasih sayang dari Abi kamu.. " gumam Reva dalam hati.
"Awa nggak suka lihat Umma sedih, Awa cuma pengen lihat Umma senyum, ketawa bareng Awa. Umma nggak usah sedih lagi ya "
"Iya, Sayang.. Umma janji nggak akan sedih lagi.."
...---------------...
Disisi lain Rama mendengar pembicaraan antar ibu dan anak itu, hatinya ada sedikit kebahagiaan karena disenangi oleh Zahwa. Tapi Rama juga tidak mau egois untuk memaksakan perasaannya pada Reva.
Walau Reva dan Zidan sudah pisah ranjang selama 5 tahun, mereka masih tetap berstatus suami istri. Kecuali mereka sudah resmi berpisah dihadapan hakim.
"Aku cuma berharap kamu bisa bahagia, Va! Aku tidak mau melihat kamu bersedih lagi, kamu berhak bahagia bersama Zahwa... "
Rama hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan Reva dan juga Zahwa, gadis kecil itu sudah menempati ruang tersendiri dihati Rama. Zahwa sudah seperti putrinya sendiri.
"Abuya akan tetap sayang sama kamu, Nak. Meskipun nanti saat kalian kembali kita akan jarang ketemu.."
...********...
Hai reader...
Maaf ya kalau ceritanya sedikit kurang jelas, soalnya aku tuh pengen peran Reva disini merasa bahagia. Sebab kan kasihan kalau terus terikat dalam hubungan yang menyiksa batin. hehehe..
...Gimana menurut kalian?...
__ADS_1