
Zidan menyaksikan tawa lepas dan senyum yang mengembang tanpa ada rasa keterpaksaan dari bibir Zidan. Dia merasa sangat terabaikan dan tak dianggap. Bahkan Aisyah yang berstatus adik kandungnya malah memusuhinya bahkan terlihat membencinya.
Sungguh perasaannya begitu hancur ketika melihat tawa dari Reva yang justru bukan karena Zidan. Ia pun memutuskan untuk keluar dari ruangan tersebut tanpa disadari oleh yang lain.
Zidan keluar dengan air mata yang sudah menetes dan ia mengacak rambutnya sendiri terduduk dikursi pengunjung yang berada tepat didepat ruangan Reva dirawat.
"Aaaaarrrrrgggghhh..." Zidan terlihat sangat frustasi.
Kenapa Ya Allah, kenapa bukan aku yang membuat istriku tertawa lepas seperti itu? Apa kesalahanku terlalu fatal hingga istriku lebih nyaman berada didekat orang lain.. " gumam Zidan dalam hati, dia terduduk sambil menutup wajahnya yang telah basah dengan air matanya.
Tak lama kemudian seseorang menepuk pundaknya dan duduk disebelahnya.
"Le, kenapa duduk disini? Dimana Reva? " tanya seorang pria paruh baya yang tak lain adalah ayah mertuanya.
Zidan mengenali suara itu dengan cepat ia menghapus air matanya dan melihat orang yang sekarang duduk disebelahnya.
"Assalamualaikum ayah. Maaf Zidan nggak lihat ayah datang " kata Zidan langsung menyalami ayah mertuanya.
"Waalaikumsalam, kamu kok diluar? Reva dirawat dimana? " tanya Pak Badri.
"Reva ada didalam yah, lagi ngobrol sama teman-temannya " jawab Zidan.
"Ya sudah kalau begitu ayah masuk dulu ya, kamu nggak ikut? " ucap pak Badri.
"Zidan tunggu disini saja yah nanti Zidan nyusul, nggak enak kalau terlalu ramai didalam " kata Zidan berbohong.
Pak Badri pun berjalan dan membuka pintu ruangan itu.
Ceklek..
Keempat orang yang berada didalam pun menoleh ke arah pintu.
"Assalamualaikum, " salam diucap pak Badri.
"Waalaikumsalam " jawab mereka kompak.
"Ayah ..." mata Reva menangkap sosok ayah yang sangat ia rindukan itu.
Pak Badri pun tersenyum dan mendekat, Reva, Aisyah, Bagas dan Puput menyalami Pak Badri.
"Ngopo toh nduk kok iso koyo ngene'i?? " tanya Pak Badri sambil mengusap kepala Reva.
"Reva nggak kenapa-kenapa kok yah cuma kecapek'an dan butuh istirahat aja. Ibu mana Yah? " sahut Reva.
__ADS_1
"Ibu nggak ikut soalnya darah tingginya kambuh, kamu itu harus lebih banyak istirahat dan jangan terlalu capek nduk. Kasihan calon cucu ayah kalau kamu sampai begini " kata Pak Badri menasehati.
"Dari mana ayah tahu kalau Reva sedang hamil? " tanya Reva yang heran padahal ia belum sempat memberitahukan kehamilannya pada kedua orang tuanya.
Merasa ada hal penting yang akan dibahas oleh ayah dan anak itu, teman-teman Reva pun memutuskan untuk menunggu diluar.
"Ayah sudah tahu semuanya dari Pak Kyai " Pak Badri menghela nafas setelah berkata seperti itu.
Reva pun berhambur memeluk sang ayah, ia menangis di pelukan Pak Badri mencurahkan segala kesedihan yang ia pendam selama ini.
"Menangislah nduk !!! Setelah ini kamu akan merasa jauh lebih tenang " kata pak Badri yang mengelus punggung Reva.
"Ayah maafin Reva sudah buat ayah sama ibu jadi khawatir hiks hiks hiks " tangis Reva pecah.
.
.
Sementara diluar ruangan ada Zidan yang terus menutup wajahnya yang terlihat sembab dari Aisyah yang baru keluar dari ruangan itu.
"Kak, mending kak Aisyah hibur tuh kak Zidan!! Kasihan lihatnya, walau bagaimanapun dia tetap kakak kandungnya kak Aisyah. Dia juga butuh suport dari kakak supaya kuat menghadapi masalah ini " kata Puput yang merasa iba melihat keadaan Zidan.
"Tapi Put..."
"Udah kak sana hibur kak Zidannya, aku sama mas Bagas mau ke kantin dulu " kata Puput yang mendorong Aisyah.
"Mas..."
Zidan yang mendengar adiknya memanggil pun langsung menoleh.
"Ada apa Syah? Apa ada masalah? Reva baik-baik aja kan? " tanya Zidan.
"Reva baik mas sekarang lagi ngobrol sama ayahnya. Mas udah makan? " kata Aisyah.
Zidan hanya menggeleng.
"Kenapa mas belum makan? " tanya Aisyah
"Bagaimana mas bisa makan kalau istri mas dalam kondisi seperti ini " jawab Zidan.
"Mas maafin Isyah ya atas sikap Isyah kemarin, Isyah sayang sama Reva dan udah anggep Reva seperti saudara sendiri. Isyah kayak gitu karena Isyah nggak terima saudara Isyah disakitin.. Maafin ya mas " kata Aisyah penuh penyesalan.
"Kamu nggak salah kok dek, mas tahu alasanmu seperti itu. Harusnya mas yang minta maaf karena mas nggak bisa jaga perasaan Reva " Zidan mengusap-usap kepala adiknya itu.
__ADS_1
"Sekarang mas makan ya, walaupun mas nggak nafsu tapi harus tetap makan mas. Nanti siapa yang jagain Reva kalau mas juga ikutan sakit " bujuk Aisyah.
"Iya Dan, ini kita bawain makanan dari kantin. Kamu makan dulu gih " sahut Bagas yang muncul bersama Puput.
"Terima kasih ya "
Aisyah pun dengan telaten menyuapi mas nya itu, ia terpaksa menyuapi Zidan karena kalau tidak pasti Zidan tidak akan mau makan. Sejak datang ke rumah sakit Zidan selalu terlihat murung dan penampilannya pun acak-acakan.
Sementara Puput pamit pulang ke pesantren di antar oleh Bagas yang kebetulan juga akan pulang.
"Nak Zidan " panggil Pak Badri.
"Iya ayah "
"Ayah mau pamit pulang dulu jemput ibu, titip Reva ya " kata Pak Badri.
"Iya yah, maaf Zidan nggak bisa nganter "
"Iya nggak apa-apa. Kamu jagain Reva aja disini. Ayah pamit, Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
Selepas kepergian ayah mertuanya Zidan memutuskan untuk masuk ke ruang rawat Reva, sementara Aisyah kembali ke pesantren untuk mandi dan mengambil pakaian ganti untuk Zidan.
Saat Zidan masuk Reva terlihat sedang berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Mau kemana dek? " kata Zidan dengan cepat menghampiri Reva.
"Aku mau ke kamar mandi mas " jawab Reva
Tanpa banyak bicara Zidan menggendong tubuh Reva dan mengantarnya ke kamar mandi, Reva tampak terkejut dengan perlakuan sang suami. Apalagi Zidan tak segan-segan membantunya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
"Mas aku bisa sendiri " kata Reva malu-malu.
"Udah nggak apa-apa mas bantu, nggak usah malu gitu. Mas ini suami kamu " jawab Zidan sambil terus mengelap tubuh Reva.
Reva hanya diam saat Zidan bersikeras membantunya, pipinya pun terlihat merona saat Zidan membasuh bagian intimnya. Tak lupa pula Zidan mengelus perut Reva yang masih terlihat datar itu.
"Sayang, kamu jangan nakal ya didalem perut mama. Kasihan mama belum sembuh " Zidan berucap pada bayi yang ada didalam perut Reva.
Reva hanya tersenyum melihat Zidan bebicara pada perutnya.
...........
__ADS_1
Guys bantu dukung karya aku ya, dengan cara kalian like dan Vote.
karena itu merupakan semangat buat author untuk terus up ceritanya😢