
..." Karena tidak akan ada kata bahagia jika tidak ada kesedihan....
...Jika kamu merasa kehilangan seseorang tetapi bisa menemukan dirimu yang sebenarnya maka kamu sudah menang. "...
...*...
"Fizah.." panggil Reva.
"Iya, Mbak. "
"Bisa kita bicara sebentar? " tanya Reva terus terang yang melihat Kia ada dipangkuannya.
"Kenapa Mbak harus mina izin, bicaralah, Mbak! " balas Fizah dengan senyum yang tak luput dari bibirnya.
"Kamu pasti kecewa pada kami karena tidak memberitahu siapa Bianca padamu, Maafkan Mbak ya, Zah! " ucap Reva yang kini duduk didekat Fizah.
"Bianca adalah perempuan yang pernah mengisi hati Mas Zidan sebelumnya, ia adalah mantan kekasih Mas Zidan sewaktu mereka masih sama-sama kuliah. Mereka berpisah karena belum mendapat restu dari Umi dan Abah, ditambah lagi mereka harus menempuh pendidikan di luar negeri.
Awalnya Mbak juga tidak tahu apapun mengenai dia, tapi pertemuan pertama kami saat di caffe dan dia mengira Mbak ini adalah adiknya Mas Zidan. Dan tanpa berdosa dia bergelayut manja dengan Mas Zidan didepan mata Mbak, dia juga pernah berusaha mendekati Mas Zidan lagi walau tahu kenyataan bahwa pria yang ia cintai telah menikahi perempuan lain. Bahkan saat itu dia mau menggunakan cara apapun demi mendapatkan kembali cintanya, tapi semakin kesini Mbak semakin sadar bahwa apa yang dirasakan oleh Bianca hanyalah sebuah obsesi untuk memiliki. Kenapa Mbak berpikir seperti itu? " tanya Reva yang dibalas gelengan kepala oleh Hafizah.
"Itu karena Mbak yakin dengan cinta Mas Zidan, Mbak juga sadar bahwa cinta dan obsesi adalah dua hal yang berbeda. Mbak sempat marah dengan Mas Zidan dan mendiamkannya, tapi perlahan Mbak sadar karena cinta bukan hanya soal memiliki tapi juga tentang kelapangan hati menerima masa lalu pasangan. Mbak percaya akan takdir saat itu. ingat Fizah, cinta tahu kemana tempat ia akan berpulang. Istiqomah lah pada rasa percayamu terhadap Mas Zidan, Mbak yakin kita bisa melalui ini sama-sama.." Jelas Reva.
"Jangan dengarkan ucapan Bianca, dia hanya tahu cara menyakiti perasaan kita tanpa memikirkan bagaimana rasanya disakiti.. Mbak mohon sama kamu, Fizah. Jangan diamkan Mas Zidan seperti ini, dia sangat tersiksa jika kamu diamkan terus. Dia tersiksa, Zah! " lanjut Reva.
Fizah yang sedari tadi mendengar penjelasan panjang dari Reva membuat air matanya lolos begitu saja.
__ADS_1
"Astagfirullahalazim, Mbak.. Maafkan Fizah, harusnya Fizah tidak bersikap seperti ini. Harusnya Fizah tahu bagaimana perasaan Mbak selama ini, Maafkan Fizah sudah egois tanpa tahu apa yang sudah Mbak rasakan selama ini.. hiks hiks hiks "
"Sssstttt sudah ya kamu jangan nangis seperti ini, Mbak mengerti kamu seperti ini karena kamu sangat mencintai Mas Zidan. Mulai sekarang jangan terpengaruh lagi dengan ucapan Bianca ya.. " Reva mengelus kepala Fizah dengan lembut.
Demi apapun wanita itu sunggu bisa menyembunyikan perasaan hatinya dengan sangat baik, menutupi luka dengan senyuman kelembutan yang sangat menghangatkan. Wanita itu juga sangat menyayangi madunya seperti layaknya menyayangi adiknya sendiri. Siapapun yang melihat kedekatan mereka pasti akan salut, tapi percaya diantara hubungan itu pasti ada hati yang rapuh.
Setelah selesai menjelaskan semua pada Hafizah, Reva pamit kembali ke kamar tapi bukan untuk tidur. Melainkan sekarang ia sedang berdiri di balkon kamar, matanya jauh menerawang kearah depan. Tatapan matanya menyiratkan bahwa ada kesedihan yang masih ia tahan.
Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan.. Semoga Allah permudah jalan kami menuju surga-Nya " gumam Reva dalam hati.
...******...
Keesokan harinya, Reva kembali beraktivitas lagi seperti biasa. Ia pergi ke kedai untuk melihat laporan keuangan setelah itu ia akan pulang jika perasaannya sudah tenang. Itulah caranya untuk menghibur diri agar tidak terus berlarut dalam kesedihan maupun kecemburuan. Menghindari segala kemungkinan buruk yang akan menimpa keluarga kecil mereka.
Saat sedang asik berkutat dengan komputer dan laporan keuangannya, Gita orang kepercayaan Reva mengetuk pintu dari luar.
"Itu Mbak ada yang mencari Mbak, katanya ada urusan penting. "
"Siapa? "
"Nggak tahu Mbak, orangnya memakai pakaian kurang bahan, " penuturan Gita berhasil membuat Reva mengerutkan kening.
Tidak ingin berlama-lama akhirnya Reva keluar dan menemui seorang wanita memakai dress berwarna merah dengan rambut sedikit bergelombang dan lipstik merah menyala, wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Bianca.
"Ada apa kamu mencariku? Dari mana kamu tahu alamat kedaiku? " tanya Reva lalu duduk dihadapan Bianca.
"Akhirnya kita ketemu lagi, tidak penting aku tahu dari mana alamat ini tapi yang jelas aku datang kemari untuk bicara denganmu, " ujar Bianca.
__ADS_1
"Bicara soal apa? Jika kamu datang hanya membuat rusuh lebih baik kamu pergi saja, " sahut Reva yang sudah malas mendengar ucapan Bianca.
"Tenang dulu donk, aku kesini cuma mau menyampaikan bahwa suami kamu... Berniat untuk mengajak madumu bekerja di perusahaan kami, " kata Bianca.
"Lalu apa hubungannya denganku? "
"Hahaha Reva... Reva.. Kamu itu polos sekali ya, jika madu kamu disuruh bekerja di perusahaan kami itu artinya dia akan lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Zidan. Kamu tahu sendiri Hafizah lulusan sarjana, dan kamu hanya lulusan pesantren. Dengan Zidan mengajak Hafizah bekerja itu artinya akan menunjukkan bahwa Hafizah lebih unggul dari pada kamu. "
"Sudah cukup, Bianca! Jangan mencoba untuk menghasutku!! " bentak Reva yang mulai merasa jengah dengan ucapan Bianca.
"Aku sama sekali tidak menghasutmu, tapi coba kamu pikirkan baik-baik. Hafizah itu masih muda, cantik, lulusan sarjana, jika dia bekerja maka dia akan terlihat sangat sempurna. Sementara kamu hanya bisa mengurus kedai ini sendirian.." sambung Reva.
"Dengar, Bianca! Apapun itu keputusan yang diambil Mas Zidan untuk keluarga kami, aku yakin itu pasti yang terbaik untuk kami. Dan sebaiknya kamu tidak usah ikut campur masalah rumah tangga kami!! " tegas Reva mencoba menguatkan diri namun tidak dengan hatinya.
"Hahaha sebegitu yakinnya kah kau terhadap suami kamu itu? Jika aku yang berada diposisimu, aku tidak akan pernah membiarkan istri kedua suamiku untuk lebih unggul dariku.. Semoga saja keyakinanmu itu benar.. ahaha " kata Bianca menyeringai tipis.
"Sudah cukup, Bianca! Jika bicara omong kosongmu sudah selesai, maka segera lah pulang dan jangan datang lagi kemari. Aku sibuk hari ini, permisi! " cetus Reva kemudian berlalu begitu saja.
Reva kembali ke dalam ruangannya dan menyandarkan kepalanya sambil terus berpikir.
"Apa benar Mas Zidan akan melakukan hal itu? Tapi bukankah itu tidak adil.. Astagfirullahalazim ngomong apasih aku ini, kok jadi ngelantur gini.. Ampuni hamba ya Allah.. " Reva menghela nafas dan memejamkan mata sejenak untuk beristirahat di ruangannya..
.
.
Jangan lupa bantu vote ya guys, gak usah bnyak" cukup 10 poin aja Author terima kasih bnget.. hehe
__ADS_1