Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Berilah Penjelasan!


__ADS_3

..." Lantas apa yg harus aku lakukan jika bertahan membuatku sakit dan melepaskan membuatku terluka?"...


...*...


Siang itu ponselnya berdering, ada panggilan masuk yang tertera Zidan. Segera Hafizah mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum, Mas "


"Waalaikumsalam, Fizah. Kamu sedang apa? Anak-anak bagaimana? " tanya Zidan dari seberang telepon.


"Lagi beres-beres aja, Mas. Anak-anak belum pulang dari sekolah. " jawab Fizah.


"Oh iya, Mas ada kabar baik nih... Disini Mas ketemu sama Reva.." ucap Zidan antusias.


"Ma-maksud Mas, Mbak Reva? Dimana, Mas? " tanya Fizah.


"Iya Mas ketemu sama dia di Bandung, dan Mas yakin itu Reva, Zah! "


"Alhamdulillah kalau memang Mbak Reva masih hidup, Mas. Ajaklah beliau pulang! " ucap Fizah.


"Tapi dia seperti tidak mengenali Mas, Zah. Apa mungkin dia hilang ingatan ya? "


"Mas sebaiknya cari tahu saja dulu, pastikan jika dia memang benar-benar Mbak Reva.. "


"Iya Zah itu yang sedang mas usahakan, kamu doakan Mas ya! Mas tutup dulu telepon nya. Assalamualaikum, "


"Waalaikumsalam, " sambungan telepon pun terputus.


Fizah merasa senang sekaligus sedih mendengar kabar ini, ia senang jika memang Reva masih hidup karena semenjak kepergian Reva saat itu membuat Zidan menjadi pendiam dan jarang sekali bicara.


Tapi ia juga sedih karena merasa bersalah atas kejadian sebelum Reva pergi dari rumah.

__ADS_1


Kasih sayang kepada Zaskia membuat Zidan juga Fizah lupa akan kebenaran dan tidak mendengar sedikitpun penjelasan dari Reva waktu itu.


"Mbak, kalau memang Mbak masih hidup tolong kembalilah! Fizah siap menebus kesalahan Fizah waktu itu denganmu, Mbak " kata Fizah lirih.


Di dalam rumah singgah itu, Ayu sedang duduk kembali termenung dengan apa yang baru saja ia saksikan. Haruskah aku kembali padanya? Apakah aku egois jika kami kembali bersama? Tidak aku tidak mau lagi terjebak dalam perasaan seperti dulu. Lalu Zahwa, akankah dia menerima anakku ini jika memang dia ingin kembali? Ah membayangkannya saja sudah membuat tubuh Ayu bergetar.


"Umma kenapa nangis? Umma kok cedih sih, kan Awa nggak mau lihat Umma cedih lagi.." anak perempuan itu menghapus air mata dipipi Ayu.


"Umma nggak nangis kok, sayang. Umma tadi kelilipan debu makanya mata Umma berair, " sahut Ayu.


"Dasar debunya nakal udah buat Umma nangis, sudah ya Umma jangan nangis lagi! Kan masih ada Awa yang akan jagain Umma di sini, " gadis kecil itu selalu tidak ingin melihat Ayu menangis, tingkah polosnya itulah yang mampu membuat Ayu lupa akan duka yang ia rasa.


Setelah menghapus sisa air mata nya, Ayu mendudukkan Zahwa dipangkuannya berniat untuk menanyakan perihal Abi pada anak perempuan nya itu.


"Adek, mau tahu nggak soal Abi? " tanya Ayu hati-hati.


"Abi? Abi siapa? " tanya gadis kecil itu polos.


"Abi itu adalah ayah kandungnya adek, kalau Abi datang ke sini mau menemui Umma, adek kasih izin nggak? " tanya Ayu lagi.


"Abuya itu beda, Sayang! Abuya itu adalah teman Umma, sedangkan Abi itu suami nya Umma.. "


"Tapi selama ini Abi kemana? Kok Awa nggak pelnah lihat sih? Kenapa Abuya bukan Abi -nya Awa? "


Pertanyaan Zahwa kali ini sukses membuat Ayu terdian dan berpikir sejenak. Bagaimana caraku menjelaskannya pada putriku ya? Begitu pikir Ayu.


"Assalamualaikum gadis kecilnya Abuya... " sapa Rama yang baru saja datang, ralat bukan baru datang levih tepatnya sudah dari tadi dan mendengar pembicaraan mereka.


"Waalaikumsalam, Abuya. " Zahwa berlari menghambur memeluk Rama.


"Abuya kok lama sih keljanya, Awa kangen tauu'. " Gadis itu merajuk dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Maafin Abuya, Sayang. Banyak pekerjaan di kantor tadi, jadi pulangnya telat deh. Jangan marah ya! Ini Abuya bawain buku cerita baru buat Adek " Rama menunjukkan sebuah buku yang tadi sempat ia beli di jalan.


"Yeay asik, terima kasih ya, Abuya.. Oh iya Abuya, tadi Umma tanya tentang Abi cama Awa. Abi itu ciapa sih? Abuya tahu siapa Abi? " tanya gadis kecil itu.


"Emm adek mau tahu aja atau mau tahu banget nih? " goda Rama.


"Ish apa sih, Abuya kok bercanda. Sudah ah Awa mau baca buku ini sama teman-teman, " kemudian Zahwa berlari meninggalkan Rama dan juga Ayu di sana.


Ayu yang melihat kedekatan putrinya dengan Rama yang begitu akrab merasa sangat senang, Rama begitu mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya untuk Zahwa selama ini.


"Apa kamu sudah memikirkan keputusan yang kamu ambil? " tanya Rama.


"Belum, tapi dia tahu aku tinggal di sini. Tadi bahkan dia datang kemari " ucqp Ayu.


"Sudahlah, Ayu! Lebih baik kamu jelaskan padanya secara baik-baik, percuma jika kamu terus berlarut seperti ini.. "


"Bagaimana mana menurut mu aku harusnya bersikap, Ram? " tanya Ayu.


"Jika kamu ingin kembali padanya, maka kamu harus siap berbagi kasih sayang dan perhatian lagi bersama dengan madumu, dan berjanjilah kamu akan bahagia. Tapi jika kamu merasa ragu dan sakit untuk bertahan, maka lepaskan! " jawab Rama.


"Akan kucoba berbicara dengannya nanti, tolong kamu atur pertemuan kami! Dan temani aku saat nanti kami akan bertemu, " pinta Ayu pada Rama.


"Baiklah, lusa kurasa waktu yang pas untuk kalian bertemu. "


Setelah mengatakan hal itu, Rama pamit untuk bergabung bersama anak-anak dan bermain bersama mereka. Rama sangat perhatian pada anak-anak yang ada di rumah singgah itu, ia selalu meluangkan waktu untuk mengajak mereka bermain disela kesibukannya.


Sementara Ayu masih duduk menatap mereka dari kejauhan, ia sudah memikirkan apa yang akan ia ambil saat nanti kembali bertemu dengan Zidan.


Reva sudah melaksanakan shalat istikharah untuk meminta jawaban, dan hatinya telah yakin ingin menjelaskan semua kepada Zidan nanti. Dan Ayu yakin keputusan yang akan ia ambil nanti adalah keputusan yang paling tepat untuk mereka berdua.


Ayu juga memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya suatu saat nanti, terlalu lama sembunyi pun tidak baik baginya. Masih ada orang tuanya yang sudah pasti selama 5 tahun ini merasa kehilangan putri satu satunya.

__ADS_1


"Ibu, Ayah, Maafkan Reva tidak langsung mengabari kalian jika Reva selamat waktu kecelakaan itu.. Reva janji akan segera kembali dan meminta maaf pada kalian berdua. Dan untuk anakku Ghibran, apa kamu membenci Umma nak? Apa kamu merindukan Umma? Di sini Umma selalu berdoa untuk kamu.. " ucap Ayu dalam hati.


Kemudian ia pun masuk dan menuju ke dapur untuk memasak makan malam untuk anak-anak. Disini ia di bantu oleh 2 pengurus lain yang setiap hari selalu datang untuk mengurus semua keperluan anak-anak.


__ADS_2