Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Putra Kita


__ADS_3

..."Yakinlah akan ada sesuatu yang luar biasa setelah sekian banyak kesabaran (yang kau jalani) sampai kau akan lupa tentang rasa sakit "...


.......


.......


.......


Genap 2 minggu sudah Reva telah kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasanya. Dia mengurus keluarga kecilnya dengan telaten dibantu oleh Mbok Tuti yang bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga mereka. Hari-hari selalu Reva lalui dengan senyum, semua kewajibannya selalu ia kerjakan dengan tulus. Mbok Tuti bertugas beres-beres rumah dan mencuci pakaian, sementara Reva setiap hari memasak karena ia ingin suaminya memakan makanan yang hanya ia buat.


Sebenarnya Zidan telah melarang Reva untuk melakukan pekerjaan rumah, tapi dengan bujuk dan rayu sang istri membuat Zidan luluh dan mengizinkannya untuk melakukan pekerjaan rumah yang ringan.


Selama 2 minggu itu pula Zidan telah kembali ke rutinitas mencari nafkahnya dan Reva setia menyiapkan segala keperluan untuk suaminya dengan telaten meski terkadang harus terganggu dengan tangisan dari Ghibran namun tak membuatnya mengluh sedikit pun.


"Umma sini Ghibran biar Abi yang gendong, Umma lanjutin aja kegiatannya. Abi nggak tega lihat Umma nyiapin makanan sambil gendong Ghibran " ucap Zidan yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik istrinya itu.


"Iya Abi " Reva menyerahkan Ghibran pada suaminya dan melanjutkan kegiatannya lagi.


Setelah makanan sudah siap tersaji di meja makan Reva memanggil Zidan untuk segera sarapan.


"Abi, ayo sarapan dulu!! Ghibran udah tidur kan? " ajak Reva.


"Iya sayang Abi tidurin Ghibran bentar nanti nyusul " sahut Zidan sambil menidurkan putranya di ranjang bayi.


Reva dan Zidan menyantap sarapan mereka masing-masing, tidak ada kata maupun obrolan saat itu yang ada hanya suara dentingan sendok dan piring yang beradu.


15 menit setelah sarapan.


"Abi berangkat ya sayang " kata Zidan pamit.


"Iya Abi, oh iya kalau boleh Umma mau minta izin nanti ke dokter buat cek kesehatan rutin ghibran di dokter boleh kah Bi? " tanya Reva.


"Emmm ya udah Abi izinkan tapi maaf Abi nggak bisa anter, kamu di anter sama Pak Darto sopir kita aja ya " sahut Zidan.


"Iya Abi nanti juga mbok Tuti akan temani aku ke dokter kok " kata Reva.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu Abi berangkat ya Assalamualaikum "


"Waalaikumsalam "


...#########...


Jam 9:30 Reva bersiap untuk pergi ke rumah sakit sesuai dengan izinnya tadi pagi pada Zidan.


"Mbok... Mbok Tuti.. Ayo mbok kita sudah siap " panggil Reva.


"Iya Nya mbok juga sudah siap " jawab mbok tuti sambil membawa tas berisi dot dan empeng bayi.


"Ayo mbok kita berangkat sekarang "


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit menemui dokter anak untuk memeriksa kesehatan Zidan, hal itu rutin Reva lakukan karena ia ingin memastikan keadaan putranya itu.


Saat selesai urusannya dengan dokter anak, Reva menitipkan ghibran pada mbok tuti. Reva meminta izin untuk bertemu dokter spesialis penyakit dalam yang biasa Reva datangi.


"Bagaimana kondisi tubuh saya dok? Apa masih memungkinkan untuk saya bertahan hidup lebih lama? " pertanyaan itu muncul dari mulut Reva.


"Bu sebaiknya ibu jangan terlalu memikirkan hal itu, karena akan berdampak pada kondisi kesehatan ibu. Dan untuk peluang hidup itu hanya Allah yang tahu, saya sebagai dokter hanya perantara. Saya harap ibu bisa lebih serius menjalani kemo terapi yang saya sarankan waktu itu " jawab sang dokter.


Mendengar penuturan dari sang dokter, hati Reva terasa sedikit sedih. Reva tahu bahwa dokter Widia hanya berusaha menghibur dirinya, Reva sudah putus asa jika umurnya tidak bisa bertahan lama. Namun ia masih memiliki penyemangat untuk tetap berjuang melawan penyakitnya.


"Ibu yang sabar ya bu, sebaiknya ibu selalu mengisi hari-hari ibu dengan melakukan hal-hal positif agar tidak terlalu memikirkan masalah ini " ujar dokter widia.


"Baiklah dokter terima kasih atas waktunya, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum " kata Reva pamit.


"Waalaikumsalam " dokter Widia menatap kepergian Reva dengan tatapan khawatir, ia merasa salut atas ketegaran Reva dalam menghadapi keadaannya saat ini.


Setelah keluar dari ruangan dokter Widia, Reva langsung menghampiri mbok Tuti yang sedang menimang Ghibran. Terlihat mereka sedang duduk di taman rumah sakit.


"Sudah selesai Nya? " tanya mbok Tuti.


"Sudah Mbok mari kita pulang " ajak Reva.

__ADS_1


Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit hingga masuk ke dalam mobil, Reva sejak tadi hanya diam dan menatap ke arah luar jendela mobil. Mbok Tuti yang melihatnya hanya menatap prihatin dan memilih tidak mengganggu majikannya.


"Maaf nya kita sudah sampai di rumah " kata mbok Tuti membuyarkan lamunan Reva.


"Oh iya bi maaf tadi melamun, yuk kita turun " sahut Reva.


Mbok Tuti yang menyadari bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikiran majikannya itu hanya bisa berdoa...


"Ya Allah Gusti, semoga apapun cobaan yang menimpa keluarga tuan dan nyonya segera berlalu " doa mbok tuti dalam hati.


Reva membukakan pintu untuk mbok Tuti karena posisi beliau masih menggendong Ghibran yang nyaman tidur.


...######...


Setelah menidurkan Ghibran, Reva memilih duduk dihalaman belakang rumah mengajak mbok Tuti bersantai menikmati secangkir teh yang mbok Tuti buat tadi.


"Maaf nya ada apa ya kok dari tadi mbok perhatikan nyonya melamun terus? Maaf kalau saya lancang " tanya Mbok Tuti merasa tak enak dengan pertanyaannya barusan.


"Mbok, boleh nggak Reva peluk Mbok sebentar? " tanya Reva.


Tanpa berpikir panjang mbok Tuti mengangguk dan langsung dibalas pelukan dari Reva.


"Mbok, Reva merasa takut... Hiks hiks... Reva nggak tahu berapa lama sisa umur Reva di dunia ini mbok.. Reva benar benar takut Hiks hiks hiks " ucap Reva yang sudah menangis terisak dalam pelukan Mbok Tuti.


"Nyonya yang sabar ya, Mbok yakin nyonya pasti kuat menghadapi ini dan nyonya harus yakin untuk sembuh.. Masih ada Den Ghibran yang butuh nyonya " sahut mbok Tuti yang mengusap punggung Reva menyalurkan kekuatan untuk sang majikan.


"Mbok harus janji ya sama Reva kalau mbok akan bantu Reva jagain Ghibran, jangan sampai Abi tahu masalah ini ya mbok ... Reva nggak mau Abi khawatir Hiks Hiks hiks " lanjut Reva lagi.


"Iya nya, mbok janji akan menjaga rahasia ini. Yang penting nyonya harus tetap tabah dan kuat menghadapinya. Mbok yakin Allah pasti akan segera memberikan kesembuhan buat nyonya " kata mbok Tuti menguatkan hati Reva.


"Makasih ya mbok, Reva sudah jauh lebih tenang sekarang.. Cuma mbok yang Reva punya disini, makasih mbok sudah mau dengarin curhatan Reva selama ini "


"Iya nya sama-sama, jangan sungkan untuk berbagi keluh kesah sama mbok "


Reva pun semakin mengeratkan pelukannya, setidaknya perasaannya sudah jauh lebih tenang sekarang.

__ADS_1


__ADS_2