Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Kekhawatiran Sahabat


__ADS_3

..."*Jangan terlalu sedih, percayalah bahwa pertolongan Allah akan datang bersama dengan kesabaran"...


...(HR.Ahmad*)...


...*...


"Kak Reva kenapa mukanya kok pucat gitu? Kalau sakit kita ke dokter aja yuk! " Puput merasa khawatir melihat wajah Reva sangat pucat.


"Nggak kok, aku nggak apa-apa cuma kecapek'an aja. "


"Sudahlah kak jangan bohong sama kita, pasti ada sesuatu yang mengganjal pikiran kakak kan? " tanya Puput memastikan.


Seketika air mata Reva lolos begitu saja membasahi pipinya. Entahlah yang pasti Reva sedang kalut saat ini.


Saat ini ia sedang berada di pondok pesantren tempat ia dulu pertama kali mendalami ilmu agama dan tempat dimana ia bertemu dengan lelaki tambatan hati yang kini sudah menjadi suami.


"Kok malah nangis sih, kak? Cerita ke kita ada apa? " tanya Puput.


"Nggak kok aku nggak apa-apa, beneran deh.." Reva mengelak karena tak ingin membuat para sahabatnya khawatir.


"Oh iya ngomong-ngomong kesini sama siapa, Va? " tanya Mega.


"Aku sendiri diantar supir, kesini juga sama Ghibran, " sahut Reva.


"Abang ada disini? Diamana dia kok aku nggak melihat Ghibran dari tadi? " tanya Siska antusias mendengar bahwa bocah kecil itu diajak oleh Reva.


"Kalian tuh sebenarnya kangen sama aku nggak sih? Kok begitu mendengar nama anakku kalian langsung cuek sama aku? " Reva bersungut kesal.


"Ya elah kalau sama emaknya kita mah udah sering lihat, tapi kita kangennya sama anaknya aja gimana dong? Yok Put kita cari abang Ghibran.. " sambung Siska langsung menarik tangan Puput.


Sekarang di dalam kamar asrama itu hanya tersisa Reva dan Mega yang duduk menatap kearah luar jendela.

__ADS_1


Mega menatap lekat wajah Reva yang menggambarkan guratan kesedihan disana.


"Menurut mu bagaimana jika nanti Fizah ikut bekerja di tempat Mas Zidan, Ga? " tanya Reva yang masih menatap pemandangan di luar jendela.


"Kenapa Fizah harus bekerja? Apa ada masalah dalam keuangan kalian? " tanya Mega.


"Tidak, keuangan dalam rumah tangga kami baik bahkan lebih. Tapi bukankah Fizah itu lulusan sarjana dan seharusnya bekerja? " lanjut Reva.


"Apa kamu mendengar kak Zidan mengucapkan ini sendiri dari mulutnya? "


"Tidak, kemarin Bianca datang dan mengatakan hal itu. "


"Ternyata perempuan itu ya, jadi kamu percaya aja gitu dengan ucapan wanita ular itu? Ingat ya Reva, kunci utama dalam rumah tangga itu adalah sebuah kepercayaan. Jika kamu mendengar hal buruk mengenai suamimu lebih baik langsung tanyakan padanya! Apalagi ini menyangkut madumu, kamu juga harus memastikan dari mulut Hafizah sendiri!! " Mega membalikkan tubuh Reva agar menghadap nya, mencoba memberi nasehat pada sahabatnya itu.


Diantara mereka berempat memang hanya Mega yang paling dewasa dalam hal bersikap apalagi pemikiran, seringkali Mega menjadi tempat mengadu bagi mereka.


"Jangan mudah percaya ucapan orang lain apalagi itu berasal dari orang masalalu suamimu, Va! Daripada kamu menerka-nerka lebih baik tanyakan langsung... Ini masalah rumah tangga kamu, jadi sebaik mungkim jangan biarkan orang lain mencampurinya! " lanjut Mega.


"Tapi aku merasa diriku ini benar-benar egois, telah menikahkan mereka tanpa memikirkan perasaan mereka terlebih dahulu. Apalagi saat itu Hafizah sedang kuliah, ia pasti memiliki cita-cita yang besar. Tapi gara-gara aku, dia bahkan rela mengubur dalam cita-citanya itu."


Saat Mereka sedang asik berpelukan ria, tiba-tiba pintu kamar asrama terbuka dan menampakkan seorang anak kecil memakai baju koko dan sarung mini.


"Umma lagi ngapain disitu? Kok pelukan cama tante Mega? " kata anak itu yang tak lain adalah Ghibran.


"Lho abang kok di sini? Emang sudah selesai hapalannya? " tanya Reva menghampiri putranya itu.


"Udah tapi kata Kakek disuruh ulang, Umma habis nangis ya? Kok matanya gitu? " Ghibran memperhatikan wajah sang ibu yang terlihat berbeda.


"Nggak kok, Sayang. Tadi Umma tuh cuma kangen aja sama tante kamu, makanya nangis karena terharu.."


"Umma jangan sedih terus, kita pulang sekarang yuk, Umma! Abang kangen sama adek Kia, " Ghibran merengek minta pulang.

__ADS_1


"Ya sudah pamitan dulu sama tante-tante ini, terus nanti kita pamit juga sama kakek ya.. "


Reva pun pamit pulang dengan para sahabatnya itu, Mega kembali memeluk Reva dan mengusap punggung nya menyalurkan kekuatan agar sahabatnya itu tidak bersedih terus terusan.


...####...


Disisi lain ada 2 orang pria yang sedang duduk menikmati kopi pada saat jam istirahat kerja, kedua lelaki itu tak lain adalah Zidan dan Indra.


"Kenapa tuh muka ditekuk gitu? Ada masalah ya? " tanya Indra yang melihat wajah sobatnya muram.


"Aku lagi bingung, Ndra! Kasihan sama Fizah selalu disudutkan oleh orang-orang, " kata Zidan.


"Ya terus kamu mau bagaimana? Berteriak juga percuma, karena orang memandang istri kedua itu seperti tak berperasaan. Ngapain dengerin omongan orang, toh yang menjalani kamu dan istri-istri kamu. Ingat ya, Dan! Kalau kamu memikirkan perasaan Hafizah, kamu juga harus memikirkan perasaan Reva juga. Kamu harus bisa bersikap adil sebagai kepala keluarga! Kalau kamu tidak bisa menjaga perasaan keduanya lebih baik lepaskan salah satu atau kamu akan kehilangan keduanya, " kata Indra yang sukses membuat Zidan berpikir lama.


"Tapi aku cinta keduanya, aku tidak bisa jika harus memilih salah satu dari mereka.."


"Itulah hal tersulit jika kita berpoligami! Bapakmu kan seorang Kyai, coba deh kamu tanyakan pendapat sama Pak Kyai atau sama Ustad lain. Mungkin melalui mereka mata hati kamu akan terbuka.." balas Indra.


"Kami ceramahin aku, tapi kamunya sendiri aja belum nikah.. Belum merasakan diposisi aku kamu itu, Indra! "


"Ya memang aku belum menikah, tapi aku sering mendengar ceramah tentang sebuah pernikahan. Jadi aku bisa ngomong seperti ini bukan asal-asalan. Mending aku belum nikah, lah kamu punya istri dua tapi bikin kepala pusing.. " ledek Indra.


"Kamu mengejekku ya? Mau aku jadiin perkedel kamu? " Zidan mendengus kesal.


"Ya elah, Bro gitu aja kok marah sih. Kan aku bercanda.. Hehehe "


"Nggak lucu bercandamu itu, bayar tagihannya! Aku mau lanjut kerja lagi.. " Zidan berlalu dengan senyum sinis ke arah Indra dengan mulut menganga.


"Eh buset ni orang malah ninggalin, untung dia selalu baik sama aku. Kalo nggak,... Huh " Indra pun ikut bangkit dan menuju kasir untuk membayar makanan dan kopi yang mereka pesan tadi.


..........................

__ADS_1


Happy Reading...


Maaf nggak fokus.. hehe


__ADS_2