Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Kehidupan Rumah Tangga Hafizah


__ADS_3

..."Sadar akan keadaan yang saat ini terjadi, aku hanyalah seorang pengganti yang tak akan pernah bisa digapai. Haruskah aku bertahan dengan keadaan? "...


...*...


...*...


1 bulan sudah usia pernikahan Hafizah dan Zidan berjalan, selama itu pula belum ada tanda-tanda kepulangan Reva. Fizah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri hanya sebatas dapur dan berberes, jika untuk urusan kasur Fizah tidak berharap lebih karena ia sadar akan posisinya. Hari itu kebetulan saja Ghibran diajak oleh Umi Zulfah untuk ke pesantren sekaligus mengunjungi kakeknya, Hafizah memanfaatkan waktu itu untuk mengunjungi ibunya. Ya meski terbilang jarak rumah ibunya dekat tapi Fizah tidak bisa seenaknya pergi begitu saja apalagi sekarang dia berstatus istri.


"Mas, s-saya hari ini mau izin ke rumah ibu. " Fizah mengutarakan niatnya sedikit gugup.


"Kamu kangen ibu ya? " tanya Zidan.


Disambut anggukan kepala oleh Fizah.


"Ya sudah kalau begitu nanti saya antar, sekalian mau bicarakan soal pernikahan kita sama ibu kamu. Walau bagaimanapun juga aku harus meminta restu dari ibu kamu " sambung Zidan yang memang menikahi Hafizah tanpa diketahui oleh ibunya.


"Eh tapi kalau Mas sibuk nggak apa-apa kok saya..."


"Fizah, kamu sekarang istri saya. Jadi sudah sewajibnya saya menemanimu, lagi pula ibumu berhak tau tentang pernikahan ini. Nanti sekalian saya akan mengurus surat pernikahan kita " jelas Zidan.


Entah Hafizah harus merasa senang atau sedih mendengar Zidan akan mengurus surat-surat resmi pernikahan mereka tetapi ia segera tersadar dengan kenyataan jika ini semua adalah karena Reva.


...#######...


Saat itu pukul 9 pagi Zidan dan Hafizah sudah beradabdi pekarangan rumah milik ibunya Hafizah, mereka berangkat setelah selesai sarapan.


"Assalamualaikum " Fizah mengucap salam sambil mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam " terdengar sahutan dari dalam rumah kemudian pintu terbuka.


"Fizah? Ya Allah nak ibu kangen sama kamu? Kamu baik-baik aja kan? " kata Bu Neti memeluk putrinya itu.


"Alhamdulillah Fizah baik, Bu. Ibu sendiri sehat kan? " kata Fizah bertanya balik.


"Alhamdulillah, ayo masuk " ajak Bu Neti kemudian beralih menatap pria dibelakang Hafizah. "Ini siapa Zah? " tanya Bu Neti.

__ADS_1


"Kita bicara didalam saja ya bu " ajar Hafizah pada ibunya.


Bu Neti menurut dan mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Rumah itu terasa sepi tetapi juga sangat nyaman dirasa.


"Bu, sebelumnya perkenalkan saya Zidan, suaminya Fizah " Zidan mulai memperkenalkan dirinya.


"Apa?!! Suami?? " Bu Neti sungguh terkejut dengan penuturan lelaki yang mengaku sebagai suami dari putrinya itu.


"Apa ini Zah, sudah 1 bulan kamu nggak pulang tapi srkarang pulang kamu bawa pria yang ngaku sebagai suami kamu? " Bu Neti terlihat sangat syok dengan apa yang baru saja ia dengar dan meminta penjelasan.


Zidan pun akhirnya menjelaskan dari awal permulaan bagaimana ia bisa menikahi Hafizah kepada sang ibu.


"Jadi begitulah Bu ceritanya, tapi saya berjanji pada ibu. Saya akan berusaha untuk bersikap adil terhadap Hafizah, dan akan menjadi imam yang baik untuknya. " kata Zidan setelah memberi penjelasan pada Bu Neti.


Bu Neti hanya menatap Fizah dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Beliau masih belum percaya jika putri satu-satunya akan menikah dengan cara seperti ini.


"Ibu tolong restui hubungan kami ya, Bu. Walau bagaimanapun juga ini sudah menjadi keputusan Fizah " kali ini Hafizah yang berbicara.


"Tapi nak apa kamu serius dengan ini? Apa kamu yakin akan merasa bahagia bersama mereka? " tanya Bu Neti.


.


Lanjut...


Keesokan harinya Fizah sedang bermain bersama dengan Ghibran. Anak itu sekarang sudah lancar bicara walaupun terdengar cadel khas balita. Pipinya yang semakin gembul membuat siapapun pasti gemas melihatnya.


"Bunda, bolanya angkut " begitulah panggilan Ghibran pada ibu barunya. Ia merengek minta diambilkan bola plastik yang menyangkut diantara dahan pohon.


"Tunggu sebentar ya, sayang. Akan bunda ambilkan " sahut Fizah.


Alhasil bola itu terlalu tinggi untuk digapai oleh tangan Fizah, ia harus naik kursi agar lebih memudahkannya mengambil bola itu. Tapi karena ia salah mengambil pijakan membuatnya oleng dan....


Huph !


Fizah goyang dan akan terjatuh, beruntungnya Zidan cepat menangkapnya dan kini posisi mereka sangat dekat. Bahkan hembusan nafas Zidan sudah bisa terdengar jelas.

__ADS_1


Zidan merangkul pinggul Fizah agar ia tidak terjatuh ke lantai. Lama mereka berada dalam posisi seperti ini.


"Bunda cama Abi ngapain lihatan gitu? Pacalan ya? " suara Ghibran menbuyarkan tatapan mereka dan membuat Fizah bangun ke posisi berdiri.


"Sayang, kenapa kamu suruh Bunda naik-naik gitu? Kalau Bunda jatuh gimana? " Zidan langsung beralih pada Ghibran yang tadi bertanya.


Blush.. Pancaran merona timbul dipipi Fizah, entah kenapa Fizah merasa malu dengan perkataan Zidan tadi. Mungkin Fizah merasa diperhatikan tapi ia segera mengusir jauh pikiran-pikiran bodoh itu.


"Maaf Abi, tadi bola Iblan nyangkut di po'on. Jadi Bunda ambilin " jawab Ghibran dengan wajah memelas takut kena marah oleh Abinya.


"Ya sudah biar Abi yang ambilin ya " Ghibran mengangguk menanggapi tawaran Abinya itu.


Tidak butuh waktu lama untuk Zidan meraih bola tersebut, sekarang mereka Ayah dan anak itu sedang asik bermain bola. Sementara Fizah bergegas pergu ke dapur untuk membuatkan kopi dan susu untuk Zidan dan juga Ghibran. Tak lupa pula ia menambahkan camilan didalam piring.


"Mas minum dulu kopinya, abang juga minum susunya ya " kata Hafizah membuat dua orang itu berhenti bermain dan duduk mendekati Hafizah.


"Terima kasih ya Zah, Terima kasih Bunda " ucap Zidan dan juga Ghibran bersamaan.


Keduanya langsung meminum dan memakan camilan yang dibawa Hafizah tadi.


Dalam waktu sebulan ini bisa dikatakan hubungan Zidan dan juga Hafizah baik dalam artian mereka saling menghormati satu sama lain. Tapi untuk urusan kewajiban Hafizah sebagai seorang istri yang sebenarbya belum ia lakukan. Zidan juga belum meminta haknya pada Fizah karena dari dalam lubuk hatinya paling dalam sulit jika harus tidur bersama perempuan lain selain Reva. Ya meski sekarang status Hafizah adalah istri sahnya.


"Abi, kapan kita libulan? Kapan Iblan bisa ketemu cama Umma? " pertanyaan itu dilontarkan dari bibir mungil Ghibran.


"Nanti ya, Sayang. Umma masih belum bisa ditemui sekarang, karena kata dokter Umma masih harus istirahat disana.. Kalau abang kangen kita video call aja dulu ya sama Umma " Hafizah memberi pengertian pada Ghibran.


Sementara Zidan hanya menatap sedih putranya itu, selama ini Ghibran tidak pernah menanyakan Umma nya karena selalu ada yang mengajaknya bermain. Tapi sekarang bocah kecil itu mungkin sudah sangat merindukan ibunya saat ini.


.


.


.


Jangan lupa dilike ya guys, sedih aku tuh liat likenya menurun.. hehe

__ADS_1


__ADS_2