
Reva masih terlihat syok dengan kejadian gelas tadi, pikirannya menjadi tidak tenang seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Astagfirullahalazim, ada apa ini? Kenapa pikiranku menjadi tidak tenang begini? " gumam Reva dalam hati
Rama yang duduk di dekat Reva dapat melihat sebuah kekhawatiran dari raut wajah Reva.
"Umma, kenapa ya Abi tidak menjawab panggilan dari Adek? Padahal adek kangen, " ucap Zahwa memecah keheningan.
"Sayang, mungkin Abi lagi sibuk dengan pekerjaannya. Nanti kan Abi telepon balik, " ujar Reva menenangkan gadis kecil itu.
"Tapi nggak biasanya Abi nggak angkat telepon dari Adek, Abi tuh selalu tepat waktu jawab telepon dari adek.. " mata gadis kecil itu mulai berkaca-kaca.
"Adek sabar aja tungguin telepon dari Abi, mungkin Abi sedang bekerja saat ini, " kata Rama mengusap kepala Zahwa.
"Tapi kenapa Abi kerja pas hujan deras begini? Abuya aja di rumah kok nggak kerja karena di luar hujan. Tapi kenapa Abi kerja ? " gadis kecil itu mulai menangis.
Entah sejak kapan hubungan Zahwa dan Zidan mulai akrab dan membaik. Tiap hari pasti mereka menyempatkan waktu untuk saling bertukar cerita meski hanya melalui sambungan telepon.
Tak berapa lama kemudian ponsel Reva berdering dan ada panggilan masuk.
"Aisyah? Tumben jam segini nelpon, ada apa ya? " Reva mengernyitkan keningnya kemudian langsung menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, ada apa, Syah? " sahut Reva.
"Waalaikumsalam, hiks... Reva.. Hiks " terdengar suara isak tangis dari Aisyah.
"Aisyah, ada apa? Kenapa kamu nangis seperti itu? Katakan, Syah! " kata Reva yang mulai panik mendengar Aisyah yang menangis.
"Mas Zidan, Va... Dia.. Hiks hiks hiks... "
"Iya ada apa dengan Mas Zidan, Syah? " tanya Reva yang semakin khawatir.
"Mas Zidan kecelakaan lagi, Va. Tadi dia nekat berangkat kerja pas hujan deras, akhirnya... Hiks hiks hiks... " tangis Aisyah semakin terdengar pilu.
Reva yang mendengar kabar dari Aisyah langsung lemas dan bertambah syok. Ponsel yang tadi ia tempelkan ditelinga mendadak terlepas begitu saja.
"Allah, apakah ini arti dari perasaan tak enakku tadi itu? " Reva tanpa sadar meneteskan air mata membuat Rama dan kedua anaknya merasa panik.
"Ada apa, Umma? Kenapa Umma menangis? " tanya Zahwa sambil mengguncang tubuh ibunya yang mulai lemas.
"Reva, ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini? Siapa yang tadi menelpon mu? " tanya Rama.
__ADS_1
"Aisyah mengabarkan bahwa Mas Zidan kecelakaan.. " ucap Reva lirih dengan air mata yang terus mengalir.
"Abi? Abi kenapa, Umma? Apa yang terjadi pada Abi? " Ghibran dan Zahwa terlihat khawatir mendengar nama Abi mereka disebutkan.
"Sayang, kalian harus berdoa untuk Abi, semoga Abi kalian nggak kenapa-kenapa.. " Rama menenangkan kedua anak itu.
"Abuya, apa yang terjadi pada Abi? Kenapa Umma menangis? " tanya Zahwa.
"Abi kalian mengalami kecelakaan, Sayang.. "
Deg!
Seketika ruangan itu menjadi hening.
"Abi...." Zahwa dan Ghibran menangis pilu mendengar kabar tersebut.
...-------------...
Di Rumah Sakit.
Rama mengajak Reva beserta anak-anak untuk segera pergi menuju ke rumah sakit yang tadi diberitahu oleh Aisyah.
Reva hanya terdiam dengan air mata yang terus mengalir, sementara Ghibran masih berusaha menenangkan adiknya yang sedari tadi terus menangis.
"Assalamualaikum, Aisyah.. " ucap Reva membuat gadis itu mendongak menatap orang yang baru saja mengucapkan salam padanya.
"Waalaikumsalam, Reva...." Aisyah langsung memeluk Reva dengan sangat erat, tubuhnya bergetar hebat menandakan kondisi Zidan didalam sana sedang tidak baik-baik saja.
"Sabar, Syah! Mas Zidan pasti akan baik-baik saja.." Reva mengelus punggung Aisyah untuk menenangkan nya.
"Mas Zidan terluka parah, Va. Kecelakaan itu kembali terjadi.. Jika saja aku datang tepat waktu pasti Mas Zidan tidak akan seperti ini.. " pungkas Aisyah penuh penyesalan.
"Sssttt udah ya jangan menyalahkan dirimu seperti ini, Syah! Lebih baik kita sama-sama berdoa untuk keselamatan Mas Zidan! " ujar Reva.
"Aunty, apa yang terjadi pada Abi? " pertanyaan itu berasal dari Zahwa yang sedari tadi tak berhenti menangis.
"Zahwa, sini, Nak! " titah Aisyah yang langsung dituruti oleh Zahwa. Aisyah mendekap erat tubuh mungil itu disusul Ghibran yang memeluk mereka juga.
"Kalian harus berdoa untuk kesembuhan Abi! Maafkan Aunty tidak bisa menjaga Abi kalian dengan baik, " ucap Aisyah.
"Aunty jangan bicara seperti itu, kita harus berdoa sama-sama buat Abi.. " Ghibran menghapus air mata bibinya itu.
__ADS_1
Akhirnya setelah Aisyah menceritakan detail kecelakaan yang menimpa Zidan, Reva menyuruh gadis itu untuk mandi dan mengganti bajunya dan mereka menuju mushola untuk sholat berjamaah. Kecuali Reva yang menjaga Zidan kalau saja nanti dokter keluar mencari anggota keluarga.
"Bagaimana keadaan korban kecelakaan tadi, Dok? " tanya Reva saat dokter keluar dari dalam ruang UGD.
"Ibu siapanya, ya? " tanya Dokter itu.
"Saya saudarinya, Dok. "
"Baiklah, mohon Ibu ikut ke ruangan saya sekarang. Nanti akan saya jelaskan, " Reva mengikuti langkah Dokter tersebut bersama seorang suster dibelakangnya.
"Kondisi Pak Zidan saat ini sangat mengkhawatirkan, beruntung beliau segera dilarikan ke rumah sakit. Saat ini beliau masih dalam keadaan koma, tulang pada kakinya mengalami sedikit masalah sehingga beliau akan lumpuh untuk sementara, dan.... " dokter itu menghentikan perkataan nya sejenak.
"Dan apa, Dok? " tanya Reva penasaran.
"Pak Zidan mengalami kebutaan akibat benturan keras pada kepalanya.. " Dokter itu berkata dengan raut wajah sedih.
"Allah..."
Tubuh Reva lemas seketika, ia benar-benar tidak percaya apa yang baru saja dokter itu katakan. Separah itukah kejadian yang dialami oleh Zidan?
Reva keluar dari ruangan dokter itu dengan langkah gontai. Dilihat dari kejauhan Aisyah, Rama beserta anak-anak nya sudah selesai shalat dan menunggu di depan ruang UGD tadi.
"Kamu dari mana, Va? Apa yang terjadi? " tanya Aisyah.
"Dokter mengatakan bahwa..."
"Bahwa apa, Reva? Jangan buat kami penasaran! " tanya Aisyah lagi.
Sungguh Reva tidak sanggup mengatakan hal itu pada Aisyah, tapi walau bagaimanapun ia tetap harus memberitahunya.
"Akibat kecelakaan itu, Mas Zidan akan mengalami kelumpuhan lagi dan kebutaan akibat benturan keras di kepalanya... " kata Reva lirih.
Tubuh Aisyah merosot ke lantai begitu mendengar kenyataan dari mulut Reva, perlahan kesadarannya mulai hilang dan Aisyah pun pingsan.
"Aunty, bangun!! " teriak Ghibran dan Zahwa bersamaan.
"Aisyah, bangun! Aisyah!! " Reva menepuk pelan pipi Aisyah.
Dengan persetujuan dari Reva, Rama mengangkat tubuh Aisyah untuk dibaringkan diatas kursi panjang. Dengan segera Reva membalurkan minyak angin untuk menyadarkan Aisyah.
...........
__ADS_1
...Komentarnya jangan lupa guys.....