Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Positif Hamil


__ADS_3

..."Apa yang melewatkanku tidak akan menjadi takdirku, dan apa yang sudah menjadi takdirku tidak akan pernah melewatkanku "...


...-Umar bin Khatab-...


...*...


...*...


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka bertiga sampai disalah satu rumah sakit terdekat. Zidan segera mendaftarkan nama Hafizah sementara dua istrinya sudah menunggu dengan duduk dikursi.


Setelah menunggu beberapa saat kemudian nama Hafizah dipanggil dan mereka langsung masuk menemui dokter. Hafizah berbaring untuk diperiksa oleh dokter, kali ini dokter yang memeriksanya adalah perempuan.


"Maaf, apa bapak suami dari ibu ini? " tanya dokter pada Zidan.


"Iya betul, bagaimana kondisinya, Dok? Istri saya sakit apa? " tanya Zidan.


"Istri anda tidak sakit, Pak. Selamat ya pak istri anda positif hamil " sahut sang dokter diiringi dengan senyuman.


"Benarkah? Alhamdulillah Ya Allah.." Zidan nampak berkaca-kaca dan mengucap syukur begitu pula dengan Reva.


"Iya benar, nanti Bapak bisa bawa bu Hafizah ke dokter obgyn untuk memeriksa kesehatan janinnya. Kalau menurut prediksi saya usia kandungannya memasuki minggu ke-8, Pak, " jelas dokter.


"Baik, Dok. Terima kasih "


"Sama-sama, bapak bisa langsung ke dokter obgyn sekarang. Nanti akan ditunjukkan oleh suster. "


"Baik, Dok. Sekali lagi terima kasih. "


Zidan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada dokter dan bibirnya juga selalu mengucap syukur. Ia segera menghampiri Fizah yang masih berbaring dan langsung membawanya kedalam pelukannya.


"Terima kasih, Zah. Terima kasih..."


"Kenapa, Mas? Apa kata dokter tadi? " tanya Fizah yang tak mengerti dengan sikap suaminya itu.


"Kata dokter kamu hamil, Sayang.. Sekarang kita ke ruangan dokter kandungan ya untuk cek kondisi bayi didalam sini " ucap Zidan sambil mengusap perut rata milik Fizah.


Tanpa berlama-lama lagi, Fizah dan Zidan langsung keluar dan hendak menuju ruang dokter kandungan.


"Gimana, Zah? Apa kata dokter? " tanya Reva saat kedua orang itu keluar.

__ADS_1


Seketika mimik muka Fizah berubah kala mendengar pertanyaan Reva, ada perasaan tak enak dalam hatinya.


"Kata dokter Abi akan punya anak lagi, Sayang, " celetuk Zidan.


"Alhamdulillah, terus sekarang mau kemana? "


"Kita disuruh ke dokter kandungan sebentar untuk cek, Umma nggak apa-apa kan menunggu sebentar lagi? " kata Zidan.


"Iya nggak apa-apa, lagi pula kondisi Fizah jauh lebih penting sekarang. Kita langsung aja yuk " ajak Reva.


Sungguh saat ini Reva benar-benar ahli menyembunyikan perasaannya, disisi lain ia senang karena melihat raut wajah suaminya begitu bahagia memiliki anak bersama madunya tapi disisi lain ia juga merasa sedih. Apakah nanti Mas Zidan akan berubah ketika Fizah sudah hamil seperti ini? Itulah yang ada dibenak Reva saat ini.


Fizah dan Zidan masuk ke dalam ruang dokter kandungan bernama Salma, sementara Reva menunggu diluar sambil memainkan ponselnya menghilangkan segala perasaan gundahnya.


Ya Allah biarakan aku ikhlas.. Jangan sampai kecemburuan merusak kebahagiaan rumah tangga kami.. " gumam Reva dalam hati.


.


...******...


Setelah selesai dengan segala urusan di rumah sakit, sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju ke pesantren untuk menjemput Ghibran.


Disepanjang jalan Zidan terus mengembangkan senyum pertanda ia sedang bahagia saat ini. Sementara dua perempuan dibelakang tidak terlibat pembicaraan setelah tadi Reva bertanya sedikit.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di pesantren. Dan sekarang sudah berada di depan rumah orang tua Zidan.


"Assalamualaikum, " ucap ketiganya.


"Waalaikumsalam, " terdengar sahutan dari dalam rumah.


Dan ternyata yang menyambut mereka adalah Umi Zulfah, yang tak lain adalah ibunya Zidan.


"Eh ada anak-anak Umi ruapanya, mari masuk " ucap Umi Zulfah setelah mereka menyalaminya.


"Umi sama Abah bagaimana kabarnya? Nggak kangen sama Reva? " tanya Reva yang duduk disebelah Umi Zulfah dan menyandarkan kepala dibahu mertuanya itu.


"Alhamdulillah baik, kamu itu bandel banget ya dari dulu. Pulang dari sana bukannya langsung jenguk Umi disini malah diam-diam aja, nggak kangen sama Umi? " Umi Zulfah memaharahi Reva penuh kasih.


"Maaf, Umi. Lagi pula Mas Zidan belum izinin Reva kekuar kemana-mana kemarin jadi baru sempat datang hari ini "

__ADS_1


"Ummaaaa! " teriak seorang anak kecil dari arah depan membuat obrolan mereka terhenti, dan itu adalah Ghibran yang langsung memeluk erat ibunya.


"Duh sayang pelan-pelan nanti jatuh lho, jagoan Umma apa kabar nih? Nggak nakal kan? " tanya Reva sambil terus mencium pipi gembul milik Ghibran.


"Alhamdulillah, kabal Abang baik. Umma cendili apa kabal? " sahut anak itu dengan polosnya dan menyebut dirinya dengan sebutan Abang.


"Alhamdulillah baik, Sayang. Abang nggak ngerepotin Bunda Fizah kan selama Umma nggak ada? " kata Reva lagi.


"Nggak, Bunda Fizah baik kok. Abang sayang cama Umma dan juga Bunda " begitulah percakapan mereka.


Setelah itu Reva pamit mengajak Ghibran berkeliling sebentar melepas rindu, sekaligus Reva akan berkunjung ke asrama yang pernah ia tempati dulu.


Sementara di ruang tamu tadi masih ada Fizah, Zidan, dan Umi Zulfah.


"Umi, ada yang mau Zidan sampaikan " ucap Zidan memulai obrolan.


"Apa itu, Nak? " tanya Umi Zulfah.


"Sebentar lagi Umi akan tambah satu cucu lagi. "


"Cucu? Memangnya Reva hamil lagi? " tanya Umi Zulfah.


Deg..


Tanpa sadar, pertanyaan Umi Zulfah barusan berhasil membuat perasaan Fizah mencelos.


"Bukan Reva, Umi. Tapi Fizah, istri kedua Zidan " sahut Zidan dengan cepat.


"Serius? Alhamdulillah, selamat ya sayang kamu akan jadi seorang ibu. Semoga kalian selalu akur ya.." Umi Zulfah bangkit dan langsung memeluk Fizah dengan erat.


"Amin.. Terima kasih, Umi "


"Dan kamu Zidan, harus bisa bersikap adil terhadap istri-istri dan anak kamu nanti. Jangan ada yang diperlakukan berbeda, tanggung jawabmu itu besar lho! " kata Umi Zulfah menasihati.


Mereka pun melanjutkan obrolannya, tapi lebih banyak Umi Zulfah dan Hafizah yang bicara sementara Zidan sedang keluar menemui Bapaknya yang sedang mengajar ngaji di Masjid pesantren.


Fizah benar-benar tak menyangka Umi Zulfah akan sebegitu hangat menyambutnya. Awalnya nyali Fizah sempat menciut saat ia melihat kedekatan antara Reva dan Umi Zulfah, tapi Umi Zulfah tidak memiliki sifat seperti itu, karena baginya Reva dan Hafizah sama saja. Beliau tak ingin membela pihak manapun yang artinya ia akan menyayangi kedua menantunya itu tanpa membeda-bedakan mereka berdua.


......

__ADS_1


Segitu dulu ya guys dari aku, semoga kalian suka. Jangan lupa di Like, Komen, Vote dan juga Rate. Beri dukungan terus buat Author biar semangat nulis ceritanya.


Maaf ceritanya ku buat poligami, karena Author lagi pengen aja ngangkat kisah tentang poligami ini hehe. Kira-kira mereka bisa bertahan nggak ya??


__ADS_2