Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Rencana Yang diketahui


__ADS_3

Hari berganti hari, kehidupan Reva bersama kedua anaknya berjalan dengan lancar. Reva seolah lupa dengan kesedihan yang ia hadapi karena terhibur oleh tingkah lucu kedua anaknya itu.


"Assalamualaikum, " ucap seseorang dari luar.


"Waalaikumsalam, " jawab Reva, Ghibran, dan Zahwa serempak.


"Abuya.. " gadis kecil itu selalu bersemangat jika Rama datang.


"Halo, Sayang! Lagi main apa nih? " tanya Rama sembari mencium pipi gembul Zahwa.


"Awa lagi main ulel tangga cama Abang, Abuya ikut main yuk! " jawab Zahwa.


Mereka bertiga pun bermain bersama, Rama selalu datang menyempatkan waktunya untuk bertemu dengan anak-anak Reva disela kesibukannya. Terkadang Reva berpikir, andai saja yang datang adalah Zidan.. Namun pemikiran itu segera ia tepis.


"Ram, aku mau bicara sebentar sama kamu! " ucap Reva dengan wajah serius.


"Sayang, Abuya ngobrol sama Umma sebentar ya. Nanti kita lanjutin lagi.. " ucap Rama pada anak-anak itu.


Rama mengikuti langkah Reva menuju ke teras rumah, mereka saat ini duduk dikursi depan rumah.


"Ada apa, Va? Kelihatannya serius banget? " tanya Rama setelah mendudukkan pantatnya.


"Aku mau kamu jawab jujur pertanyaan aku, Ram! Apa maksudnya ini? " tanya Reva menunjukkan sebuah foto diponselnya.


"Ini... Kamu dapat dari mana foto ini? " tanya Rama.


"Aku yang memotretnya sendiri, kuharap kamu sedang tidak membohongi aku, Ram! " kata Reva dengan nada kekecewaan.


"Okey, aku jujur sama kamu. Sebenarnya 2 hari yang lalu Hafizah datang ke kantor aku, dia meminta bantuanku untuk menyatukan kembali hubungan kamu dan Zidan! " ucap Rama.


"Lalu apa jawaban kamu? "


"Ya aku menyetujuinya, aku bilang akan membantunya, " jawab Rama.


"Kok bisa sih kamu nyetujuin gitu aja tanpa izin terlebih dahulu sama aku? Kamu nggak mikirin perasaan aku? " tanya Reva.


"Justru aku mikirin perasaan kamu makanya aku setuju, lagi pula madu kamu itu sudah janji sama aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian setelah kalian kembali bersama! " sahut Rama santai.


"Apa?! Jadi Fizah berniat untuk pergi? Nggak! Pokoknya itu nggak boleh terjadi, sekarang kamu jujur sama aku, Ram! Rencana apa yang Fizah buat? "


Rama yang memang tidak bisa berbohong langsung menceritakan seluruh rencana Fizah dari awal, ia tak sanggup jika harus berbohong pada sahabatnya sekaligus wanita yang ia cintai.

__ADS_1


"Nggak ada salahnya untuk memberi Zidan kesempatan lagi, Va! Lagi pula dia juga berhak memperbaiki dirinya dan kembali padamu. Aku juga tahu kalau kamu juga masih memendam perasaan sama dia! " kata Rama.


"Nggak, perasaan itu sudah hilang.. Tidak ada lagi yang perlu diperbaiki diantara kami. Sudah cukup waktu itu aku memberinya kesempatan.. " Ucap Reva dengan mata yang mulai berair.


"Aku cuma pengen lihat kamu dan anak-anak bahagia, Va! Tidak ada salahnya kamu sedikit membuka hati kamu untuk... "


"Nggak, Ram! Alasan aku berpisah dengan dia bukan cuma itu saja, tapi ada hal lain yang tidak bisa aku ceritakan sama kamu. "


"Ya sudah aku menghargai privasi kamu, tapi pikirkan lagi baik-baik! Tanya dengan hati kamu yang paling dalam, jangan sampai kamu menyesal pada akhirnya! " ucap Rama.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang memperhatikan mereka dan tak sengaja menguping pembicaraan mereka dari jauh.


"Nak Zidan! Ngapain diem di sini? Ayo masuk! " Bu Heni muncul dari arah belakang Zidan.


"Assalamualaikum, Bu. Apa kabar? " Zidan lalu mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Waalaikumsalam, ayo masuk ke rumah! Itu Ghibran sama Zahwa ada di dalam. Ayo ayo masuk! " Bu Heni menarik lengan Zidan menuju ke rumah.


Saat mereka sudah sampai di halaman depan, Bu Heni baru menyadari bahwa Rama juga ada di sana.


"Lho Nak Rama? Kapan datang? " kata Bu Heni menyapa.


"Barusan, Bu. Ibu habis belanja ya? Sini Bu Rama bantu angkat ke dalam, " Rama segera mencium punggung tangan Bu Heni dan beralih mengangkat belanjaan yang dibawa Bu Heni.


"Assalamualaikum, Umma. "


"Waalaikumsalam, Mas. " Reva mencium punggung tangan suaminya itu.


"Mas udah sembuh? Ayo duduk, Mas! " ucap Reva membantu Zidan untuk duduk karena memang ia masih harus menggunakan tongkat.


"Anak-anak bagaimana kabarnya? " tanya Zidan.


"Alhamdulillah, mereka baik. Mas sendiri bagaimana? " tanya Reva balik.


"Tidak lebih baik saat jauh dari kamu.. " ucap Zidan membuat Reva terdiam.


"Kenapa, Mas? " tanya Reva membuat Zidan mengernyitkan dahi tak mengerti.


"Kenapa kamu tidak melepaskan aku? Hargai perasaan Fizah di rumah, Mas! " lanjut Reva.


"Aku menghargai perasaan dia, bahkan aku kemari sudah izin dengannya. "

__ADS_1


Mereka kembali terdiam setelah jawaban Zidan tadi. Tak lama kemudian Rama keluar untuk berpamitan pulang diantar oleh dua bocah yang selalu ingin menempel padanya.


"Va, aku pamit pulang ke kantor lagi ya! Soalnya mau ada meeting habis ini.. " pamit Rama.


"Kok buru-buru? Ini kenapa anak-anak Umma pada nempel sama Abuya? Kasihan Abuya kan mau berangkat kerja.. " sahut Reva yang melihat kedua anaknya itu.


Zahwa dan Ghibran melepas rangkulan mereka pada lengan Rama. Terlihat sekali wajah cemberut Zahwa saat Rama akan pulang. Sungguh pemandangan itu membuat hari Zidan tersayat.


"Abang, Adek, ayo cium tangan Abi! " titah Reva pada kedua anaknya setelah kepergian Rama.


"Assalamualaikum, Abi. " ucap keduanya tapi Zahwa masih singkuh memanggil Zidan dengan sebutan Abi.


"Waalaikumsalam, " sungguh Zidan terharu melihat kedua anaknya itu. Dia pun langsung memeluk keduanya dengan sangat erat.


"Abang kita main lagi yuk! " ajak Zahwa setelah Zidan melepas pelukannya.


Kedua bocah itupun masuk lagi ke dalam rumah meninggalkan kedua orang tuanya di teras.


"Rama orangnya baik ya, " ucap Zidan.


"Ya dia selalu seperti itu terhadap anak-anak, " sahut Reva.


"Apa setelah kita berpisah kamu akan menikah dengan Rama? " tanya Zidan.


"Maksud kamu? "


"Tidak ada, aku hanya melihat ketulusan dalam diri Rama. Aku merestui jika kalian nanti menikah.. "


"Aku sama sekali belum berpikir hal seperti itu, Mas. Lagi pula aku belum mau membuka hatiku jika perpisahan kita sudah selesai. "


"Baiklah, aku harap kamu bisa menjaga anak-anak dengan baik. Dan seperti yang kamu bilang disurat itu, sampai bertemu dipengadilan. Aku pamit, Assalamualaikum! " Zidan bangkit dan pamit untuk pulang, tak lupa Reva mencium punggung tangan suaminya itu dan mengantarnya sampai mobil.


"Sesak sekali..." Reva mengurut dadanya yang terasa sesak.


Sejak Zidan datang tadi ia mencoba menahan segala rasa sakit didalam dadanya.


"Pulanglah ke tempat dimana seharusnya kamu kembali, Mas! Aku ikhlas, dan semoga kita sama-sama akan mendapat kebahagiaan.."


.


.

__ADS_1


**Guys maaf bab sebelumnya agak sedikit, soalnya proses review agak lama. Seharusnya kemarin siang udah up, tapi karena review nya lama jadi terpaksa aku up sedikit.


Jangan lupa vote juga ya**..


__ADS_2