Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Akad


__ADS_3

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, 1 minggu sudah setelah acara lamaran itu berlangsung sekarang tiba saatnya acara yang sangat dinantikan oleh semua orang. Acara pernikahan Reva dan juga Zidan, semua orang berkumpul dirumah Reva dan banyak ibu-ibu yang datang untuk rewang.


Rewang adalah bahasa jawa yang artinya saling membantu ketika ada kerabat atau tetangga yang akan mengadakan acara hajatan.


1 hari sebelum acara pernikahan suasana rumah sangat ramai dan Reva tidak diperbolehkan untuk keluar rumah, karena menurut orang calon pengantin tidak baik jika keluar rumah sebelum hari pernikahan "Famali". Seharian berada dikamar membuatnya merasa jengah dan bosan, ia memilih membaca buku-buku yang sengaja ia bawa dari pesantren untuk dibaca saat ia sedang luang. Ditengah keasikannya membaca buku, dering pinselnya berbunyi dan ada pesan masuk.


Dengan segera Reva meraih ponselnya dan membaca pesan yang ternyata berasal dari Aisyah.


"Assalamualaikum Reva, ini aku Aisyah. Sedang apa kamu sekarang? Apa aku boleh menelponmu? "


"Waalaikumsalam, aku sedang membaca buku dikamarku. Boleh saja jika kamu ingin menelponku " Reva membalas pesan singkat tersebut dan langsung ada panggilan Video call dari Aisyah.


"Assalamualaikum... Hai calon kakak iparku.." Aisyah menyapa dengan girang.


"Waalaikumsalam Isyah, gimana kabarmu dan yang lain? " tanya Reva.


"Yang lain siapa nih? Mas Zidan? " kata Aisyah bercanda.


Reva tersipu malu mendengar kata-kata Aisyah tersebut, maksud hati ingin menanyakan sahabatnya yang lain malah dikira nanyain kakaknya. Dasar si Aisyah suka aneh deh.


"Oh iya Reva, ini katanya ada yang kangen sama kamu. Tapi malu mau telpon kamu " Aisyah terlihat sedikit risih dalam panggilan itu.


"Siapa? Oh aku tahu, pasti Puput kan? " tanya Reva.


"Ini..huupp.." belum selesai Aisyah menuntaskan bicaranya, tapi mulutnya seperti dibekap oleh seseorang lalu panggilan video pun berakhir. Reva hanya menngeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


Keesokan harinya Reva sudah bangun lebih awal, dan semua orang sudah dari pagi berkumpul dan menyusun kurai dihalaman untuk para tamu. Sementara Reva sedang didandani oleh perias pengantin karena hari ini adalah hari yang paling bersejarah untuknya. Dimana hari ini ia akan remi menikah bersama pria yang telah memilihnya menjadi seorang istri. Jantung yang sedari tadi bertalu-talu membuat Reva merasakan gugup yang luar biasa.


"Assalamualaikum.." suara Mega terdengar dari arah pintu bersama Puput, Siska, dan juga Aisyah.

__ADS_1


"Ini beneran Reva nih? Subhanallah cantik banget kamu Va " puji Siska.


"Emang bener ya kata orang-orang, pengantin itu pasti akan memancarkan aura kecantikannya sendiri. Ya kayak kak Reva gini " Puput menimpali.


"Gimana perasaan kamu Va, gugup ya? " tanya Aisyah.


Reva hanya mengangguk, bibirnya seakan terkunci hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan kecil dari para sahabatnya itu.


Acara ijab kabul pun akan segera dimulai, Reva keluar dari kamarnya didampingi sang ibu dan para sahabatnya. Tampilan Reva hari ini membuat semua orang menjadi pangling akan kecantikan Reva hari ini. Semua mata terpana dengan pancaran kecantikannya.


"Saya terima nikahnya Reva Ayu Ningsih dengan mas kawin tersebut tunai!! " Zidan mengucapkan ikrar dihadapan Allah dan juga para saksi yang hadir pada saat itu.


"Bagaimana para saksi Sah? " tanya pak penghulu.


"Sah!!"


Semua hadirin kompak menjawab kata sah yang membuat suasana yang semula tegang menjadi sedikit lega, kini Reva diminta untuk sungkeman dengan kedua orang tuanya. Suasana haru menyelimuti seisi ruangan, isak tangis Bu Heni dan juga Reva pecah saat itu.


Setelah semua rangkaian acara telah selesai, semua tamu undangan yang hadir satu persatu mulai beranjak pulang. Keadaan rumah orang tua Reva saat ini sedikit lengah tidak seperti tadi yang ramai, kini hanya tinggal sanak saudara saja yang berada dirumah itu.


Pada saat itu Zidan sedang berada dikamar Reva untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah tadi harus merasa dag dig dug luar biasa saat mengucapkan ijab kabul. Seluruh keluarga dan para rombongan dari pesantren telah pulang, saat Reva memasuki kamarnya ia terkesiap melihat seorang laki-laki tidur diatas ranjangnya. Dan laki-laki tersebut menoleh kearahnya dengan menyunggingkan senyum manis bahkan termanis membuat Reva sedikit merasa canggung sekaligus malu dibuatnya.


"Ngapain bengong disitu, ayo kesini!! " kata Zidan duduk sambil menepuk-nepuk pinggiran kasur.


Reva dengan rasa canggungnya berjalan mendekat kearahnya dan dengan kepala yang masih menunduk.


"Lihat apa sih dibawah dari tadi kok nunduk terus? " tanya Zidan sembari mendongakkan kepala Reva secara perlahan.


"Sini lihat aku.. " Zidan kembali memberi senyum yang indah membuat Reva semakin merasa dag dig dug.

__ADS_1


Saat pandangan keduanya bertemu, keheningan menyapa saat mereka saling menatap dan merasa canggung.


"Ehem.. Reva, sekarang kamu sudah sah menjadi istriku dan aku telah menjadi suamimu. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu " Zidan membuka pembicaraan setelah tadi sempat terdiam.


Dia hanya mendapat anggukan kepala dari perkataannya tadi.


CUP.. Sebuah kecupan mendarat dikening Reva membuat seluruh tubuhnya bergetar dan merasa bingung atas apa yang baru saja ia rasakan.


Sebuah kecupan lembut dan usapan dikepalanya membuat jantung Reva seakan berhenti berdetak.


Ya ampun apakah hanya karena sebuah kecupan tadi aku merasa nadiku seakan berhenti berdenyut.


"Kok bengong sih? Ada apa? " tanya Zidan.


"Eh.. I-itu nggak ada apa-apa kok " Reva sedikit gugup memberanikan dirinya untuk menjawab pertanyaan Zidan.


"Ya udah kalau gitu, saya kedepan dulu tadi ibu manggil.. Permisi " dengan kecepatan kilat Reva segera beranjak dari tempat duduknya.


Melihat wajah Reva yang mulai merona dan tingkahnya yang gugup seperti itu, Zidan sedikit merasa bahagia. Ini pertama kalinya ia melihat sikap Reva yang biasanya periang menjadi pemalu seperti itu.


Hari yang mulai beranjak gelap namun mata masih betah untuk tidak tidur membuat Reva dan Zidan ikut nimrung ngobrol bersama keluarga. Tapi pada pukul 10 malam, Reva mulai merasa ngantuk dan pamit untuk pergi ke kamarnya, begitu juga dengan Zidan yang dipaksa oleh pak Badri untuk menemani Reva.


Saat pintu itu tertutup dan dikunci keduanya sama-sama merasa canggung. Reva baru pertama kalinya dekat seperti ini dengan laki-laki begitu juga dengan Zidan. Kini keduanya sama-sama terdiam duduk dipinggiran tempat tidur.


"Kamu belum tidur? " sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Zidan. Dan ditanggapi dengan gelengan kepala.


"Dengarkan aku, jika kamu belum siap maka aku tidak akan memaksamu. Aku tahu jika kamu merasa canggung padaku begitupun sebaliknya. Lebih baik kita tidur dan istirahat saja, aku tahu kamu pasti lelah seharian ini " Zidan menangkup wajah istrinya dan menyunggingkan senyuman padanya.


Malam itu tidak terjadi apapun diantara mereka, hanya tidur dan bermimpi indah mengistirahatkan tubuh setelah lelah seharian.

__ADS_1


__ADS_2