Keep Istiqomah

Keep Istiqomah
Dirumah Mertua


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Reva sudah bangun dan tak lupa membangunkan suaminya untuk shalat subuh. Reva lanjut membuat sarapan didapur hari ini dia tidak memasak banyak karena Zidan akan mengajaknya berkunjung ke pesantren.


"Mas sarapan dulu, aku udah masak nasi goreng tuh di dapur " kata Reva.


"Iya sayang sebentar, mas lagi ngecek mobil. Kamu siapin aja dulu ya " sahut Zidan.


Beberapa menit kemudian Zidan masuk dan menuju dapur, duduk dikursi dan menikmati sarapannya. Walau hanya sepirin nasi goreng tapi itu sudah membuat Zidan ketagihan sampai ingin tambah lagi.


"Masakanmu enak dek, kayaknya kalau jualan bakal laris nih " puji Zidan.


"Ah mas bisa aja " Reva tersipu malu mendengar pujian suaminya itu.


Selesai sarapan Zidan langsung mandi dan bersiap-siap sementara Reva membersihkan meja makan. Itulah kegiatan yang selalu Reva lakukan setiap selesai sarapan bersama sang suami.


"Sayang, kok masih beres-beres sih. Kan kita mau ke pesantren hari ini " kata Zidan sambil memakai jam tangannya.


"Iya sebentar mas tanggung, aku tinggal ganti jilbab aja kok " jawab Reva.


"Ya udah mas tunggu sambil manasin mobil didepan ya " kata Zidan.


"Iya mas "


Dengan langkah cepat Reva menyelesaikan pekerjaannya dan mengganti jilbabnya.


Setelah Reva menghampiri Zidan di luar mereka langsung berangkat ke pesantren. Ini adalah kunjungan pertama mereka setelah resmi menikah. Tak lupa mereka membeli beberapa makanan untuk kedua orang tua Zidan. Reva agak sedikit gugup walaupun sebelumnya ia sangat akrab dengan pak kyai dan Ummy Zulfah namun sekarang statusnya adalah menantu dari kedua orang itu, ia takut bahwa nanti terlihat tidak becus sebagai istri.


"Kamu kenapa sayang? Gugup ya? " tanya Zidan.


"Enggak kok mas " balas Reva dengan senyuman.


Kemudian keheningan tercipta, entah ide dari mana tiba-tiba Reva ingin sekali berfoto bersama suaminya itu.


"Mas kita foto yuk " ajak Reva.


"Foto buat apa? "


"Ya buat ngisi memori hp aja mas, kan kita nggak pernah foto berdua selain foto pernikahan kita " kata Reva.


"Ya udah terserah kamu aja deh, " jawab Zidan.

__ADS_1


Mendengar jawaban itu Reva langsung mengambil ponselnya dan mengabadikan momen mereka berdua didalam mobil. Zidan tetap fokus menyetir sedangkan Reva sibuk dengan ponselnya.



Beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya mereka tiba dipesantren, suasana yang begitu dirindukan oleh Reva membuat kegugupannya menjadi hilang. Mereka langsung menunu rumah pak kyai.


"Assalamualaikum bapak, Ummi " Zidan mengucap salam.


"Waalaikumsalam..." terdengar suara sahutan dari dalam.


Yang keluar pada saat itu adalah Aisyah, ia begitu senang ketika melihat kedatangan kakaknya beserta ipar sekaligus sahabatnya.


"Reva!! Masya Allah cantiknya... Ini beneran Reva? kata Aisyah seakan tak percaya melihat penampilan sahabatnya itu.


"Iya Syah, kamu apa kabar? " kata Reva memeluk Aisyah.


"Alhamdulillah aku baik, ayo masuk aku panggilkan bapak sama ummi dulu "


Mereka berdua pun masuk dan duduk dikursi ruang tamu menunggu pak kyai dan juga ummi Zulfah.


tak berapa lama kemudian kedua orng yang ditunggu pun Datang, Reva dan Zidan bangkit dari tempat duduknya dan langsung menyalami kedua orang tua Zidan.


"Nggak kok pak kyai, kita baru sampai " jawab Reva.


"Kok masih pak kyai manggilnya sekarang kamu itu anak bapak juga " kata Aisyah terkekeh mendengar panggilan Reva yang masih kaku terhadap mertuanya itu.


"Ya udah Reva panggil abah aja ya pak hehe " tanpa rasa berdosa Reva mengeluarkan cengiran ala kudanya didepan semua orang dan membuat mereka tertawa dengan tingkah lucu Reva tersebut.


Setelah puas mengobrol dengan mertuanya, Reva beserta Aisyah langsung pamit ke asrama putri untuk menjenguk teman-teman mereka. Reva begitu antusias akan bertemu para sahabatnya apalagi ditambah cerita keseruan yang diceritakan oleh Aisyah sepanjang jalan.


"*Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam*..."


Saat pintu telah terbuka Reva langsung membentangkan tangannya dan para sahabatnya itu langsung berhambur memeluknya terutama Puput yang selalu gelendotan seakan tak mau lepas.


"Kak Reva apa kabar, udah 1 bulan kita nggak ketemu rasanya ada yang kurang " kata Puput dengan bibir mengerucut.


"Alhamdulillah baik, kalian gimana kabarnya? Aku juga kangen banget sama kalian " dan mereka pun mengobrol segala hal tentang keseruan persahabatan manisnya.

__ADS_1


"Oh iya kak ngomong-ngomong kak Reva udah malem pertamaan belum sama kak Zidan? " pertanyaan itu meluncur dari mulut Puput.


"kamu tuh nanya apaan sih Put, tuh lihat Reva kan jadi malu " ledek Mega.


"Dih kalian kenapa sih bahas soal itu, lagi pula itu kan termasuk kewajibanku sebagai istrinya " jawab Reva malu-malu.


"Berarti sebentar lagi kita punya ponakan dong " sahut Aisyah yang membuat pipi Reva semakin merah seperti kepiting goreng.


"Udah udah jangan ledekin Reva terus, nggak lihat apa kalian pipinya udah merah gitu " tambah Siska.


Dan mereka pun tertawa bersamaan, entah kenapa tiap kali sahabatnya itu menggodanya dengan menanyakan Zidan ada rasa yang tidak biasa dalam benaknya. Mungkin sekarang Reva sudah mulai mencintai suaminya sejak sebulan ini, atau mungkin memang telah merasa nyaman berada disisi suaminya itu.


...*****...


Kunjungan mereka berdua sudah selesai, kini Reva dan juga Zidan berpamitan untuk pulang. Waktu sudah akan beranjak sore, mereka lekas dan pulang kerumah. Selama perjalanan suasana hening tercipta, tetapi Zidan berusaha agar istrinya itu tidak melulu diam ketika berdua dengannya.


"Tadi udah ketemu sama sahabatmu dek? " tanya Zidan memecah keheningan.


"Udah kok mas, mereka baik keadaannya dan kita cerita sedikit tadi " jawab Reva.


"Hmm.. Oh iya dek Ummy sama bapak minta cucu dari kita " kata Zidan.


Deg...


Jantung Reva seakan terhenti mendengar ucapan suaminya barusan. Apa mungkin ia salah dengar ya? Begitu pikirnya.


Karena merasa tak mendapat jawaban Zidan kembali berkata...


"Bagaimana menurutmu dek? Tapi kalau kamu belum siap juga nggak apa-apa kok " kata Zidan.


"Aku... Aku siap kok mas, aku juga berharap kita segera diberi kepercayaan oleh Allah untuk memiliki momongan " jawab Reva.


"Alhamdulillah... Terima kasih ya sayang, aku pikir kamu belum siap untuk hamil atau kamu ....."


"Ssssttt jangan bicara seperti itu mas, itu nggak baik.. Semua sudah diatur sama yang maha kuasa " sahut Reva yang meletakkan jari telunjuknya dibibir Zidan.


Mereka pun mengobrol panjang selama diperjalanan hingga tak terasa Reva sudah terlelap dikursinya, Zidan berhenti sejenak memandang lekat wajah sang istri yang begitu cantik serta memberi kecupan hangat dikening istrinya tersebut.


Tidak henti-hentinya ia mengucap rasa syukur karena telah diberikan seorang wanita shalehah seperti Reva.

__ADS_1


Kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi agar mereka cepat sampai dan Reva dapat beristirahat.


__ADS_2