
... "Bahkan kehidupan yang bahagia tak akan pernah lepas dari kesedihan. Aku kehilanganmu, namun aku akan berbahagia untukmu."...
...*...
...*...
"Mbak berjanjilah padaku Mbak akan segera sembuh dan secepatnya kembali " balas Fizah.
"Iya Zah, doakan agar Mbak segera sembuh dan berkumpul dengan keluarga kecil kita " Reva semakin mengeratkan pelukannya pada pengasuh anaknya yang sekarang telah berstatus menjadi madunya.
Di bilang cinta nyatanya Hafizah tidak punya rasa akan hal itu, bahagia? Tentu Hafizah tidak bahagia atas pernikahan ini. Hafizah seakan terpaksa melakukannya agar majikannya itu lekas sembuh. Bahkan Hafizah berniat untuk pergi jauh dari keluarga ini setelah Reva sembuh.
"Udah dong nangisnya ini kan hari pernikahan kalian, mendingan sejarang pulang dan nikmatilah hari pernikahan ini " kata Reva mengurai pelukannya dan menangkup wajah Hafizah.
"Tapi siapa yang akan menjagamu disini, Umma;? " celetuk Zidan.
"Kan ada perawat disini, Umma bisa kok minta Aisyah jagain Umma disini. Abi pulang aja ya sama Hafizah, " kata Reva.
...Brakk !!!...
Pintu ruang perawatan Reva tiba-tiba terbuka dengan kasar dan disana nampaklah Rama yang datang debgan wajah merah padam mengisyaratkan bahwa ia sedang marah saat ini.
Bugh!
"Zidan!!! Benar-benar brengs*k ya loe " teriak Rama kemudian menghadiahi Zidan dengan sebuah pukulan.
"Apa-apaan sih loe, kenapa dateng malah marah-marah gini hah? " Zidan mencoba berdiri lagi.
"Loe itu lelaki brengs*k tau nggak, kenapa loe nikah lagi disaat keadaan Reva kritis begini hah? Sengaja loe bikin dia tambah menderita? Kalo loe emang nggak bisa dan nggak sanggup buat ngerawat dia, loe mending lepasin dan gue yang akan ngebahagiain dia, ngerawat dia sampai dia sembuh. Jangan malah loe sakitin dia kayak gini !!! " ucap Rama dengan emosi yang meledak-ledak.
"Loe salah paham!! Gue nggak bermaksud..."
"Halah sudahlah, belum puas apa loe udah nyakitin hati adek gue hah? Sekarang loe mau nyakitin sahabat gue gitu? Nggak akan pernah gue biarin !! " Rama memotong perkataan Zidan dan hendak memukulnya lagi namun terhenti oleh Reva.
"Cukup Ram cukup!! Berhenti aku bilang!!! " teriak Reva berhasil menghentikan gerakan Rama.
__ADS_1
"Kenapa kamu diem aja di giniin Va, kenapa kamu masih bela laki-laki ini? " tanya Rama yang beralih pada Reva.
"Mas Zidan nggak salah, disini aku yang memang meminta dia menikah lagi sebagai syaratku berobat ke luar negeri !! " sahut Reva.
"Apa?? Apa kamu udah nggak waras Va? Kenapa kamu minta hal konyol seperti ini? " tanya Rama tak percaya.
"Ini sudah jadi keputusan ku Ram, dan juga yang harus kamu ingat bahwa aku ini istrinya mas Zidan. Kurang pantas jika kamu menaruh rasa terhadap seorang wanita yang berstatus istri orang. Semua yang terjadi itu adalah permintaan dari aku, jangan salahkan suamiku atas segala hal yang kamu lihat !! " jelas Reva.
"Tapi Va..."
"Sudah cukup Ram, terima kasih kamu sudah perhatian begitu terhadapku. Tapi ini adalah rumah tangga ku, jadi jangan lagi ikut campur. " tegas Reva.
Rama sungguh tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabat masa kecilnya itu, bagaimana mungkin ia meminta syarat dimadu agar mau berobat ke luar negeri. Tetapi Rama sadar ia bukan siapa-siapa, ucapan Reva benar bahwa ia tak seharusnya ikut campur dalam rumah tangga sahabatnya itu.
"Ya sudah kalau memang seperti itu, aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhanmu Va. Aku harap kamu bisa terus bahagia. Aku pamit... Assalamualaikum " Rama pamit dengan kondisi hati yang kecewa.
Kenapa sahabatnya itu malah meminta suaminya menikah lagi dihadapannya.
Aaarrggghhh.. Rama mengusap wajahnya kasar.
...****...
"Nggak kok nggak apa-apa. Zah ayo kita pulang pasti kamu lelah kan? " sahut Zidan kemudian mengajak Fizah pulang.
"Tapi pak..."
"Sudah ayo biarkan Reva istirahat " Zidan terang-terangan menarik tangan Fizah keluar dari rumah sakit itu.
Perasaan Zidan berkecamuk dan ia saat ini belum bisa menerima kenyataan, bagaimana semua ini terjadi. Zidan tidak lagi pamit pada Reva karena saat ini dia benar-benar merasa kacau. Sungguh Zidan butuh waktu untuk menenangkan pikirannya saat ini.
...******...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup singkat, kini Fizah dan Zidan sudah sampai dirumah. Selama diperjalanan hanya ada keheningan yang tercipta, Fizah tidak berani membuka mulutnya sekaligus.
"Fizah " panggil Zidan.
__ADS_1
"Eh iya pak ada apa? " tanya Fizah menghentikan langkah nya.
"Habis ini tolong buatkan saya teh hijau ya, makasih " kata Zidan.
Hafizah hanya mengangguk dan segera masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya, setelah itu ia bergegas ke dapur membuatkan secangkir teh hijau untuk majikannya yang telah berstatus suaminya.
Segera ia bawa teh dan sepiring makanan untuk Zidan ke ruang kerjanya.
Tok tok tok...
"Masuk!! " sahut Zidan.
"Pak ini teh yang tadi bapak pesan dan juga makan malamnya. Dari tadi bapak belum makan apa-apa " kata Hafizah saat masuk membawa nampan itu.
"Iya taruh saja disana nanti saya makan " jawab Zidan.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu pak.." kata Fizah undur diri.
"Fizah tunggu !! " cegah Zidan.
"Kamu sekarang kan istri saya, jadi kurang pantas jika kamu masih memanggul saya dengan sebutan 'pak'. Panggil saya Mas aja ya begitu lebih baik " kata Zidan yang masih setia dikursi kebesarannya.
"Emm i-iya Mas.. Ka-kalau begitu saya permisi dulu " Hafizah pamit meninggalkan ruang kerja Zidan.
Saat ia keluar Zidan menatap punggung istri keduanya itu sampai tak terlihat lagi. Benar-benar tak menyangka jika perempuan itu akan menjadi istri keduanya.
...*****...
Keesokan harinya dokter mengatakan bahwa hari itu Reva bisa berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan pengobatan nya. Zidan sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit dan tak lupa mengajak serta Fizah.
"Abi jaga kesehatan baik-baik disini ya selama Umma pergi, dan tolong jangan bohongi Umma selama Umma nggak ada " pesan Reva pada suaminya.
"Fizah kamu jaga Ghibran dan juga Mas Zidan baik-baik ya, sekarang kamu juga istrinya Mas Zidan. Lakukanlah kewajibanmu sebagai seorang istri " pesan Reva pada madunya.
"Iya Mbak, semoga Mbak lekas sembuh dan bisa kembali dalam keadaan sehat walafiat ya mbak " sahut Fizah yang langsung memeluk Reva.
__ADS_1
Keharuan tercipta saat akan melepas keberangkatan Reva. Kali ini yang akan menjaga Reva disana Aisyah dan juga Puput. Aisyah akan melanjutkan kuliahnya disana dan Puput hanya akan menjaga Reva saja selama dalam masa pemulihan.
Dan untuk Zidan? Reva melarangnya untuk ikut mengantarnya karena ia pikir Zidan harus lebih sering menghabiskan waktunya bersama Fizah agar mereka lebih dekat. Awalnya Zidan menolak, tapi karena Reva yang mengancamnya akhirnya Zidan mengalah dan akan mengunjunginya jika ada waktu luang. Kebetulan juga pekerjaannya sangat membutuhkan dia saat ini.